Menag Dorong Umat Beragama Jaga Kerukunan Dalam Pemilu


Penulis: Nurjiyanto - 21 October 2018, 08:46 WIB
MI/NURJIYANTO
MI/NURJIYANTO

PERWAKILAN umat beragama mendeklarasikan kesepakatan perdamaian dan persatuan NKRI melalui gerakan kerukunan serta jalan bersama. 

Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk komitmen menjaga kerukunan serta harmonis khususnya dalam menghadapi pesta demokrasi Pemilu 2019.

Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin yang hadir membuka acara ini menuturkan kerukunan antar umat beragaman dalam menghadapi pemilu 2019 amat penting untuk dijaga dan dirawat. Lukman meminta agar seluruh komponen umat beragama tidak memandang kontestasi tersebut sebagai sebuah perselisihan.

Pasalnya, salah satu faktor dalam menjaga kondusifitas dan kualitas kontestasi pemilu ialah adanya keharmonisan serta bahu-membahu antar umat beragama dalam menjaga kerukunan.

"Menghadapi agenda nasional pemilu itu kita lakukan dengan penuh kedamanaian dan kerukunan. Kita berharap semua memiliki persepsi yang sama bahwa kontestasi yang ditunjukan diruang publik terbuka ini tidak dimaknai perselisihan," ujarnya di kawasan Jalan MH Thamrin, Jakarta, Minggu (21/10).

Lukman menuturkan majemuknya masyarakat di Indonesia membuat komitmen kerukunan dari komponen umat beragama menjadi hal yang penting khusunya dalam menyambut gelaran pesta demokrasi. Sebab secara tujuan seluruh peserta pemilu sedang berkompetisi membangun bangsa berkualitas kedepan sehingga semangat yang perlu ditonjolkan ialah hal-hal yang postif.

Selain menjaga kerukunan, Lukman meminta seluruh komponen umat beragama menghindari perilaku-perilaku saling merendahkan satu sama lain yang nantinya berpotensi menimbulkan permasalahan. Ia menekanan bahwa perbedaan serta kemajemukan di Indonesia harus dimaknai dengan positif dan menghormati adanya perbedaan. Sebab secara tujuan seluruh komponen umat beragama memiliki harapan yang sama yakni membangun Indonesia lebih maju dengan caranya masing-masing.

"Kita harus hindari perilaku yang saling menegasikan dan merendahkan serta meniadakan. Perbedaan adalah suatu yang posiif karena tujuan kita sama hanya caranya saja yang berbeda," ujarnya.

Gerak jalan kerukunan tersebut melibatkan di antaranya 20 komunitas umat Buddha di Indonesia (Walubi dan Permabudhi), umat perwakilan dari agama Islam diwakilkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI), Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) mewakili unsur umat Hindu, Persatuan Gereja-gerja di Indonesia (PGI) mewakili unsur umat Kristen, Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) mewakili unsur agama Katolik, dan Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (Matakin) mewakili unsur agama Konghucu. (OL-3)

BERITA TERKAIT