MRT Jakarta dan Penantian Transportasi Setara Kota Modern Dunia


Penulis: Nicky Aulia Widadio - 16 October 2018, 11:30 WIB
MI/Tosiani
 MI/Tosiani

MASIH lekat di benak Maria Elisa, 26, pengalaman pertamanya menggunakan mass rapid transit (MRT) di Singapura ketika berlibur, beberapa waktu lalu. Pengalaman itu membuat Maria terkesan. Sampai-sampai ketika telah kembali ke Jakarta, Maria serasa ingin kembali ke Singapura akibat ruwetnya sistem transportasi dan jalanan di Ibu Kota.

"Kalau ingat transportasinya yang super nyaman dan enggak rusuh, rasanya ingin pindah ke sana saja," ujar Maria kepada Media Indonesia, Selasa (16/10).

Suatu malam di penghujung September lalu, Maria dan seorang temannya hendak menaiki MRT dari Stasiun Bayfront menuju Chinatown. Sebelum tiba di stasiun, Maria telah lebih dulu mengecek jadwal kedatangan kereta yang hendak ia naiki. Informasi yang ia dapat dari hasil pencarian di ponselnya mengatakan kereta tiba pukul 19.03 waktu Singapura.

"Selama naik kereta di sana live update-nya sesuai sama realita. Di jadwal kan kereta nyampe jam 19.03, ya beneran nyampe pukul segitu," kenangnya.

Malam itu, sambung Maria, stasiun cukup ramai lantaran ada festival di kawasan Chinatown. Namun, kereta tetap tepat waktu. Para penumpang juga tidak berdesak-desakan. Suatu waktu kereta dia rasa penuh, Maria tidak ambil pusing. Sebab, layar informasi menyatakan kereta lainnya akan tiba dalam lima menit dilengkapi dengan waktu mundur. Tiga, dua, satu, kereta benar-benar tiba di depan Maria.

"Walaupun ramai, tapi enggak desak-desakan apalagi dorong-dorongan. Waktu nunggunya pun enggak berasa," sambungnya.

Sebagai pekerja swasta Jakarta yang indekos di kawasan Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, pengalamannya menaiki MRT di Singapura membuat Maria mendamba hal serupa ada di Ibu Kota. Maria berkantor di kawasan Gambir, Jakarta Pusat. Dia biasa menggunakan Trans-Jakarta untuk pergi dan pulang, atau sesekali menggunakan ojek online.

"Mujurnya setiap hari lewat koridor 1 yang relatif lebih lancar dibanding koridor lain. Kalau pakai transportasi umum lain aku agak enggak percaya," tambah dia.

Setiap hari pula Maria harus menghadapi kebiasaan para pengguna lain, seperti saling dorong, tidak sabaran, dan lain-lain.

Sikap-sikap itu, menurut Maria, muncul atas perasaan khawatir harus menunggu lebih lama dengan waktu yang tidak pasti pula. Belum lagi harus sabar ketika kemacetan di Jakarta sedang menggila.

"Ketika bus datang, otomatis yang terpikir cuma gimana caranya harus naik ketimbang nunggu entah harus berapa lama lagi," tuturnya.

Sebagai pengguna transportasi umum, Maria sudah mendengar rencana operasional MRT Jakarta pada Maret 2019 mendatang. Maria punya eksepektasi tinggi.

Dia yakin MRT Jakarta pun memiliki standar operasional yang sama dengan di kota modern lain di dunia. Namun satu pertanyaan Maria, akan kah para penggunanya tertib?

"Maunya sih seperti di Singapura. Tapi balik lagi, secanggih apa pun transportasinya kalau masyarakatnya enggak tertib ya percuma," katanya.

Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar meyakini budaya baru masyarakat bisa dibangun dengan hadirnya fasilitas transportasi yang baik pula.

"Kita berebutan karena tidak ada kepastian," kata William di Wisma Nusantara, Rabu (10/10) lalu.

William menggambarkan suatu kondisi ketika informasi jadwal keberangkatan kereta bisa diakses melalui ponsel dengan ketepatan waktu akurat. Ketika pengguna mendapatkan kepastian kapan mereka bisa berangkat dan kapan mereka akan tiba. Cukup 30 menit perjalanan dari Bundaran Hotel Indonesia hingga Lebak Bulus.

"Kalau pun penuh, lihat di jadwal misalnya kereta selanjutnya datang lima menit lagi, untuk apa berdesak-desakan?" jelasnya.

Bukan pekerjaan mudah membangun gaya hidup baru. Semua harus dibuat serba nyaman.

Menurut William, naik MRT nantinya bukan hanya perkara berangkat dan tiba menggunakan kereta dengan pengaturan waktu yang akurat. Namun juga sebuah pengalaman berinteraksi dan terhubung dengan ruang publik atau fasilitas lain. Pengalaman inilah yang juga akan membangun gaya hidup baru ketika menggunakan transportasi umum.

Pengalaman yang dimaksud William ialah ketika seseorang menaiki MRT, dia bisa berjalan kaki melewati trotoar yang nyaman. Trotoar di sekitar stasiun MRT di kawasan Sudirman-Thamrin kini telah dibuat nyaman dengan lebar berkisar 8 meter hingga 12 meter. Pohon-pohon mulai ditanami, membuat trotoar nantinya menjadi rindang bagi pejalan kaki.

Di Stasiun Dukuh Atas, misalnya, taman baru telah dibangun. Taman ini bisa digunakan untuk berpindah moda dari MRT menggunakan bus Trans-Jakarta atau bus dari operator lain dan sebaliknya. Sebab kawasan Dukuh Atas akan menjadi yang tersibuk sebagai tempat pertemuan berbagai macam moda transportasi umum. Selain itu, Dukuh Atas juga akan dijadikan sebagai kawasan berorientasi transit (TOD).

"Kawasan berorientasi transit harus mendorong proses transisi (penumpang) secara nyaman. Itu harus ada interaksi manusia dengan pembangunan dan ruang publik, supaya kawasan transit ini bisa optimal. Jadi kalau saya turun dari MRT, saya mau lanjut naik Trans-Jakarta atau KRL, saya bisa nyaman jalan kaki. Ini yang sedang kita dorong," jelas William.

Di dalam stasiun, pengguna bisa berbelanja, makan siang, atau sekedar ngopi. Stasiun MRT didesain memiliki fasilitas seperti toko retail, toko fesyen, makanan dan minuman, juga dukungan koneksi internet (wifi) yang mumpuni. Bahkan kecepatan wifi di stasiun MRT dijanjikan cepat.

Stasiun MRT pun memiliki dua area, area berbayar dan tidak berbayar. Di area tidak berbayar itu lah ada kios-kios. Area ini juga bisa digunakan untuk berpindah sisi trotoar, terutama untuk yang tidak ingin berpanas-panasan menyeberang di atas zebra cross.

Beberapa stasiun pun disiapkan interkoneksi dengan gedung sekitar. Interkoneksi ini juga menjadi salah satu hal penting untuk memikat masyarakat menggunakan MRT.

"Gaya hidup naik MRT tidak hanya bertransportasi, sekarang sedang disiapkan fasilitas-fasilitas itu. Ada pengalaman berinteraksinya di stasiun MRT, ada coffee shop, mau makan siang, bisa di sini," ucapnya.

Dengan fasilitas yang nyaman itu, PT MRT Jakarta menargetkan para pengguna mobil pribadi mau menyicipi nyamannya menggunakan transportasi publik. Sebab, transportasi publik akan menjadi refleksi masyarakat yang modern. Tokyo, London, New York, kota-kota modern dunia itu memiliki sistem transportasi massal yang menjadi pilihan utama bagi sebagian besar penduduknya.

"Ketika semua masyarakat dari semua kalangan menggunakan publik transport itu lah kota modern," tambah William.

Magdalena Sola Gracia, 25, menuturkan akan dengan senang hati menggunakan transportasi publik bila memang lebih efektif. Sola berdomisili di Pamulang, Tangerang Selatan dan bekerja di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Di tanggal genap ia membawa mobil pribadi, sementara di tanggal ganjil biasanya ia menggunakan kereta.

Kepastian waktu lagi-lagi menjadi hal yang paling diharapkan Sola pada MRT. Sebagai orang yang punya beberapa pilihan untuk bepergian, Sola menuturkan akan lebih tertarik menggunakan MRT ketika akses dari rumah atau kantornya menuju stasiun MRT juga mudah. Sebab sering kali yang menjadi masalah adalah kemacetan menuju stasiun.

"Kalau MRT kan sudah semestinya tepat waktu, tapi yang akan sangat menentukan untuk milih MRT itu kalau akses menuju stasiun MRT pun mudah," kata Sola.

Artinya, masih perlu ada upaya menyeluruh, tidak hanya oleh PT MRT Jakarta melainkan juga semua pihak, untuk bersama-sama menciptakan sistem transportasi yang terintegrasi dan mudah diakses.

Berdasarkan ridership survey yang dirilis PT MRT Jakarta pada Mei 2018 lalu terhadap 10 ribu responden, 65,5% responden bersedia beralih menggunakan kereta MRT. Faktor yang mempengaruhi pilihan itu yakni kecepatan perjalanan, keandalan, kenyamanan perjalanan, dan kemudahan akses.

Selain itu, 22,4% masyarakat memilih transportasi berbasis aplikasi daring, 16,1% menggunakan motor pribadi, 15,6% menggunakan bus rapid transit (BRT), 14,6% menggunakan kereta commuter, dan 10,9% menggunakan mobil pribadi.

Target utama yang disasar oleh PT MRT Jakarta adalah membuat mereka yang masih memilih mobil pribadi itu untuk pindah menggunakan transportasi umum, termasuk MRT.

Apalagi, perubahan pola bertransportasi ini juga menjadi target dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2017-2022 yang dirancang Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Sambil menerapkan kebijakan seperti penerapan ganjil genap dan menyiapkan electronic road pricing (ERP), Pemprov DKI menargetkan moda share transportasi umum di Jakarta bisa mencapai angka 60% pada 2022 mendatang. Dengan demikian, masalah kemacetan di Jakarta bisa mulai teratasi sebelum lalu lintas Jakarta mencapai macet total (deadlock).

"Konsepnya tetap dua, push and pull. Push bagaimana kita menekan penggunaan kendaraan pribadi untuk pull bagaimana kita membuat animo yang menjaga keyakinan, motivasi masyarakat, untuk tetap menggunakan public transport," kata Plt Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Sigit Widjatmoko, Senin (15/10) siang. (OL-2)

BERITA TERKAIT