Bank Indonesia Dorong Koordinasi Hadapi Peningkatan Risiko Ekonomi Global


Penulis: Fetry Wuryasti - 14 October 2018, 12:12 WIB
ANTARA FOTO/ICom/AM IMF-WBG/Puspa Perwitasari
ANTARA FOTO/ICom/AM IMF-WBG/Puspa Perwitasari

BANK Indonesia mendorong koordinasi dan kerja sama untuk menghadapi peningkatan risiko perekonomian global. Penyelesaian secara multilateral diperlukan untuk mengatasi perselisihan dagang.

Lebih lanjut, penguatan jaring pengaman keuangan global (Global Financial Safety Net) sangat diperlukan, termasuk memperkuat kerja sama regional dengan Regional Financing Arrangements (RFAs).

"Selain itu, IMF perlu meningkatkan surveilans dan membantu negara anggotanya dalam memperkuat kerangka bauran kebijakan (policy mix) dan memberikan rekomendasi kebijakan yang tepat," ujar Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo di Nusa Dua, Bali, Minggu (14/10)

Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia 2018 menyoroti pertumbuhan ekonomi global yang terus berlanjut namun tidak merata. Pertumbuhan ekonomi global diproyeksikan mencapai 3,7% di 2018 dan 2019, lebih rendah dari perkiraan sebelumnya yang sebesar 3,9%.

Ekspansi perekonomian global tersebut terutama ditopang kondisi perekonomian Amerika Serikat (AS) yang tumbuh cukup tinggi akibat kebijakan stimulus fiskal prosiklikal oleh pemerintah AS.

Sementara itu, faktor risiko jangka pendek semakin meningkat. Risiko muncul dari ketegangan perdagangan antara AS dengan negara mitra dagang mereka, normalisasi kebijakan di negara-negara maju, dan meningkatnya kerentanan di sektor keuangan.

Selain ketidakseimbangan global (global imbalances) yang memerlukan respons kebijakan komprehensif, negara berkembang juga dihadapkan pada volatilitas aliran modal sebagai dampak dari ketidakpastian pasar keuangan global yang tinggi.

Ekonomi Indonesia resilien dalam menghadapi tekanan dinamika perekonomian global yang terjadi. Momentum pertumbuhan ekonomi domestik terus berlanjut dengan stabilitas perekonomian yang tetap terjaga.

Kinerja ini ditopang bauran kebijakan fiskal, moneter, dan reformasi struktural yang ditempuh dalam mengantisipasi dinamika ekonomi global yang terjadi.

Selama 2018, Bank Indonesia telah menaikkan menaikkan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 150 bps menjadi 5,75% untuk memperkuat ketahanan eksternal Indonesia di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.

Kebijakan kenaikan suku bunga tersebut didukung oleh kebijakan nillai tukar untuk stabilisasi Rupiah, penguatan operasi moneter, dan percepatan pendalaman pasar keuangan untuk memperkuat resiliensi perekonomian Indonesia.

Berbagai kebijakan tersebut diperkuat koordinasi erat Bank Indonesia dengan Pemerintah dan otoritas terkait untuk menjaga stabilitas ekonomi dan memperkuat ketahanan eksternal.

Sebagai rangkaian dari Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia 2018, juga dilakukan pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral negara-negara G20.

Pada kesempatan tersebut Indonesia mendorong koordinasi kebijakan antarnegara G20 untuk menjaga momentum pertumbuhan global dan memastikan kesejahteraan bersama.

Kebersamaan yang pernah ditunjukkan dalam menghadapi krisis keuangan global menggarisbawahi pentingnya kolaborasi dalam mengarungi goncangan dan ketidakpastian dunia.

Indonesia pada kesempatan ini juga menyatakan dukungan pada upaya penyediaan pembiayaan infrastruktur, melalui implementasi Roadmap to Infrastructure as an Asset Class dan beberapa pedoman pelaksanaannya.

"Diharapkan pedoman ini dapat menghasilkan proyek-proyek yang bankable sehingga bisa menjadi solusi untuk menutup kesenjangan pembiayaan infrastruktur," tutup Perry. (OL-2)

BERITA TERKAIT