Bank Dunia Makin Fokus pada Isu Ekonomi Global, Human Capital, dan Fintech


Penulis: Fetry Wuryasti - 14 October 2018, 12:10 WIB
ANTARA FOTO/ICom/AM IMF-WBG/Anis Efizudin
ANTARA FOTO/ICom/AM IMF-WBG/Anis Efizudin

MENTERI Keuangan Sri Mulyani Indrawati (Menkeu) memaparkan pengalaman Indonesia dalam mengoptimalkan peran instrumen keuangan Islam saat menyampaikan keynote speech pada seminar Mainstreaming Islamic Finance into Global Initiatives pada ajang Pertemuan Tahunan IMF WBG di BICC, Minggu (14/10).

Di Indonesia, instrumen keuangan Islam sudah menjadi bagian penting dari pembangunan nasional. Menkeu menambahkan surat berharga syariah negara retail atau sukuk, misalnya, saat ini menjadi instrumen terpenting pemerintah.

Salah satunya untuk pengembangan keuangan syariah. Dalam konteks global saat kondisi ekonomi dunia yang masih belum menentu, peran keuangan Islam menjadi semakin dibutuhkan.

“Untuk menjawab tantangan global, industri keuangan Islam menawarkan peluang besar dalam mencapai sasaran pembangunan berkelanjutan. Hal ini tentu relevan dengan program yang tiga tahun lalu dicanangkan Bank Dunia, yakni Sustainable Development Goals atau SDGs," ujar Menkeu.

Lebih jauh, Sri Mulyani mengatakan Indonesia tidak hanya fokus pada pengembangan industri keuangan Islam yang bersifat komersial, tapi juga pada keuangan Islam yang bersifat sosial.

“Ini adalah instrumen efektif untuk mengurangi kemiskian dan mengatasi ketidaksetaraan, dengan cara memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, memberdayakan masyarakat berpendapatan rendah, dan tentu membuka akses pada dunia bisnis," ungkapnya.

Karena itu, Indonesia, melalui Bank Indonesia yang bekerja sama dengan Islamic Development Bank (IDB), tengah mengembangkan Zakat Core Principles dan Waqf Core Principles.

"Integrasi antara sukuk dan wakaf adalah inovasi yang menarik dalam keuangan Islam," imbuh Sri Mulyani.

Sukuk berpotensi sebagai instrumen memobilisasi dana, sementara wakaf memiliki kapasitas untuk mendapatkan income dan aktifitas keuangan yang produktif.

“Karena itu, kolaborasi antara sukuk dan wakaf dapat menjadi inovasi dalam menyediakan pembiayaan berbiaya rendah untuk menjalankan keberlanjutan ekonomi," katanya.

Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menegaskan perlu upaya mengoptimalkan keuangan Islamic social finance untuk mencapai pertumbuhan yang inklusif. Prinsip keuangan Islam sangat cocok dalam aktivitas SDGs dan inklusi keuangan, serta pengembangan usaha kecil dan menengah.

“Kami di BI bersama IDB, Baznas, telah membuat zakat core initiative pada bulan Mei 2016. Ini perlu regulasi yang terintegrasi. Inisiatifnya dikenalkan di seluruh dunia, termasuk Indonesia,” ujar Gubernur BI.

Dalam High Level Discussion ini, tampil pula Wakil Presiden IDB, Mohammed Nouri Jouini yang menekankan pentingnya upaya pengembangan keuangan Islam secara global. (OL-2)

BERITA TERKAIT