Dampak Kebijakan untuk Stabilisasi Rupiah Baru Terlihat 2019


Penulis: Fetry Wuryasti - 14 October 2018, 11:30 WIB
ANTARA FOTO/ICom/AM IMF-WBG/Jefri Tarigan
ANTARA FOTO/ICom/AM IMF-WBG/Jefri Tarigan

DEPUTI Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo mengatakan memang kondisi cadangan devisa Indonesia telah turun dari US$131 miliar menjadi US$116 miliar. Alasannya ada transaksi yang memerlukan permintaan valas besar, dalam bentuk impor atau outflow keluar oleh asing atau untuk pembayaran kewajiban.

Memang mungkin permintaan valas ke depan masih tetap besar. Namun, ketersediaan valas di pasar diusahakan selalu ada. Sebab ini akan menentukan  terbentuknya harga rupiah.

"Kalau tetap permintaan valas besar sekarang, tidak ada salah, pasti rupiah akan selalu terdepresiasi," ujar Dody di Nusa Dua, Bali, Sabtu (13/10).

Namun, ke depan, berbagai kebijakan pemerintah telah diluncurkan seperti Biodiesel 20 sejak September lalu,pembatasan impor pada beberapa produk asing yang terkait dengan proyek.

Mungkin memang itu nilainya relatif tidak sebesar yang BI perkirakan tapi tentunya ada dampaknya yang dapat lihat dari kebijakan di bulan-bulan berikutnya .

"Di  September, kebijakan itu diterapkan, seharusnya hasilnya di Oktober. Sehingga bisa saja nanti data perdagangan kuartal III belum begitu bagus. Itu karena memang belum terlihat dampak kebijakannya. Tapi akan kita lihat nanti di kuartal IV," kata Dody.

Dari Bank Indonesia, kenaikan suku bunga sudah 150 bps, tentunya ini sudah memberi memberi dampak dalam estimasi BI sekitar 4 sampai 6 kuartal dan secara bertahap nanti akan dirasakan penuh pada 2019.

"Dengan gambaran itu harusnya dari sisi transaksi berjalan akan ada refleksi ke arah perbaikan. Suku bunga yang kita naikkan memberikan diferensial yang lebih baik dibandingkan misalnya negara peers kita. Itu akan membantu pada inflow yang lebih bagus daripada yang hari ini," tukas Dody. (OL-2)

BERITA TERKAIT