Bank Indonesia Jelaskan Pengelolaan Ekonomi Indonesia ke Rating Agensi


Penulis: Fetry Wuryasti - 14 October 2018, 11:00 WIB
ANTARA FOTO/ICom/AM IMF - WBG/Nicklas Hanoatubun
ANTARA FOTO/ICom/AM IMF - WBG/Nicklas Hanoatubun

BANK Indonesia mempresentasikan keadaan ekonomi dan pengelolaan ekonomi Indonesia kepada sejumlah rating agensi. Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara mengatakan kepada investor dan credit rating agency bagaimana posisi risiko dan keuntungan berinvestasi di Indonsia.

Event seperti ini, kata Mirza, penting untuk sektor keuangan. Sebab selain semua menteri keuangan dari berbagai negara berkumpul , juga para investor yang beri pendanaan kepada dunia, utamanya kepada negara berkembang. Dalam kesempatan kali ini, juga hadir rating agency seperti Fitchs, S&P, dan  Moodys.

"Semua hadir di pertemuan ini dan menjadi kesempatan bagi BI dan pemerintah untuk menjelaskan tentang proyeksi ekonomi Indonesia dan bagaimana Indonesia merespon kondisi yang tidak mudah ini," ujar Mirza di Nusa Dua Bali, Sabtu (13/10).

Mirza menjelaskan kondisi yang dialami Indonesia sejak 2013 bukan kondisi yang normal. Karenanya disebut normalization period. Hal itu karena suku bunga acuan AS akan kembali ke normal dan belum akan berhenti kenaikannya.

Normalnya suku bunga AS berada 1% di atas normalnya inflasi. Sehingga bila target inflasi mereka di 2 %, normalnya suku bunga berada di sekitar 3%-3,25%.

Officer portfolio manager Indonesia menjelaskan bagaimana Indonesia merespons situasi global. Sekarang bagaimana pemerintah melakukan deregulasi ekonomi, sehingga dunia bisnis lebih efisien, dan investor masuk mendorong pariwisata.

"Kami jelaskan ekonomi Indonesia terkelola dengan pruden.  Termasuk Bank Indonesia,kami melanjutkan untuk tetap pruden mengelola ekonomi saat ini. Dari sisi menteri perekonomian , akan terus didorong deregulasi ekonomi," tukas Mirza. (OL-2)

BERITA TERKAIT