Indonesia Harus Tetap Mewaspadai Risiko Perekonomian Global


Penulis: Fetry Wuryasti - 14 October 2018, 10:15 WIB
ANTARA FOTO/ICom/AM IMF-WBG/Anis Efizudin
ANTARA FOTO/ICom/AM IMF-WBG/Anis Efizudin

PERTEMUAN tahunan International Monetary Fund (IMF)-World Bank 2018 terjadi dalam suasana gejolak dunia yang diproyeksikan tumbuh 3,7%. Angka ini berarti tidak berubah sejak 2017.

Pertumbuhan ekonomi mendatar ini diperkirakan akan berlangsung selama tiga tahun sampai 2019, dengan proyeksi risiko terhadap perekonomian global, terutama tensi perang dagang akan meningkat.

Risiko-risiko ini telah dihitung dampaknya dari pengetatan kebijakan moneter Amerika Serikat (AS), kenaikan suku bunga, dan mengakibatkan aliran modal asing keluar.

Hampir semua negara berkembang menunjukkan rasa perhatian yang cukup dalam dan serius terhadap perkembangan ini. Mereka melihat ada risiko.

“Meski Presiden RI mengatakan tetap harus ada kolaborasi untuk mengurangi risiko, Indonesia tetap harus waspada,” ujar Menteri Keuangan Sri Mulyani di Nusa Dua Bali, Sabtu (13/10).

Fenomena dunia kini menghadap risiko yang meningkat. Para pembuat kebijakan berupaya mengurangi risiko yang meningkat ini karena dampaknya sama seperti krisis 2008-2009.

Maka, pemerintah sejak dini mendeteksi volatilitas harga-harga aset, potensi inflasi, dan kenaikan suku bunga yang bisa mempengaruhi likuiditas.

Annual Meetings 2018 ini tidak serta merta menargetkan berapa investasi asing yang harus masuk ke Indonesia. Namun, dari sisi negara, memperlihatkan Indonesia yang terbuka dan akan terus meningkatkan investasi.

Keputusan masing-masing negara akan meningkatkan portofolio investasi mereka di Indonesia atau tidak bergantung pada kepercayaan pada reputasi. Mereka telah melihat sendiri bagaimana situasi di Indonesia.

“Tadi kami membaca laporan mengenai risikonya Indonesia seperti apa. Tapi, menurut assessment mereka, tidak seperti itu. Ini memunculkan kepercayaan dari mereka,”

Tensi dagang yang memanas antara AS dan Tiongkok, kata Sri Mulyani, harus diselesaikan dengan peremuan kedua negara yang bersangkutan. Tiongkok mengatakan bersedia berunding kembali dengan AS. AS pun mengatakan memiliki perhatian pada perdagangan yang sifatnya terbuka dan konsisten.

“AS sampaiknan nyatanya mereka bisa membuat kesepakatan dengan Meksiko dan Kanada. Sekarang kami berharap mereka bisa sepakat dengan Korea Selatan, Eropa dan Jepang. Artinya sudah ada tahapan-tahapan walau sebelumnya ada retorik tarif dan kemudian bisa ada kepastian. Kami harapkan demikan juga antara AS dengan Tiongkok,” tukas Sri Mulyani. (OL-2)

BERITA TERKAIT