Jack Ma Targetkan Cetak 1.000 Pemimpin Teknologi


Penulis:  (Fat/Try/E-3) - 14 October 2018, 09:50 WIB
ANTARA FOTO/ICom/AM IMF-WBG/Nicklas Hanoatubun
ANTARA FOTO/ICom/AM IMF-WBG/Nicklas Hanoatubun

PENDIRI dan pemimpin Alibaba, pasar daring terbesar dari Tiongkok, Jack Ma, menargetkan setiap tahun dapat mencetak seribu pemimpin teknologi di Indonesia dalam kurun waktu 10 tahun ke depan.

"Kami ingin melatih seribu pemimpin teknologi tiap tahun, selama 10 tahun, khususnya melalui pelatihan bagi 300 pengembang dan insinyur tentang bagaimana mengelola komputasi awan," kata Ma dalam jumpa pers di Nusa Dua, Bali, kemarin.

Tawaran itu disampaikan Ma dalam pertemuan dengan Menko Perekonomian Darmin Nasution dan Menkominfo Rudiantara di sela Pertemuan Tahunan IMF-WB 2018.

Ma mengatakan pelatihan akan dilakukan melalui Institut Wirausahawan Jack Ma yang kini pendiriannya masih tahap perencanaan.

Seperti dikutip dari Antara, salah satu orang terkaya di dunia itu pun menegaskan dirinya tidak datang untuk menguasai pasar daring di Indonesia, tetapi sebagai penasihat pemerintah Indonesia untuk meningkatkan keterampilan wirausahawan lokal dalam e-commerce.

Darmin membenarkan pemerintah, pihak swasta Indonesia, dan Jack Ma sedang merampungkan desain pengembangan sumber daya manusia (SDM) di ekonomi digital.

Pasalnya, modal dan kapasitas SDM menjadi kunci menghadapi era ekonomi digital. "Indonesia juga sedang mengembangkan industri 4.0 yang bertumpu pada perkembangan teknologi yang mengharuskan mempersiapkan sumber daya ekonomi digital yang andal," kata Darmin.

Masih dari Nusa Dua, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo kemarin berdiskusi dengan Ketua Dewan Pengurus Bank Sentral AS Jerome Powell, di sela pertemuan tahunan IMF-WB 2018. Mereka membahas perkembangan ekonomi global, normalisasi kebijakan moneter di negara maju, dan dampaknya di negara berkembang.

Gubernur BI juga bertemu dengan Pemimpin Bank Sentral Tiongkok (People's Bank of China) Yi Gang untuk memperkuat kerja sama keuangan bilateral yang telah dilakukan selama ini.

Pada kesempatan itu, Perry menegaskan, meski proyeksi pertumbuhan ekonomi global pada 2018-2019 akan menurun dari level 3,9% menuju level 3,7%, stabilitas sistem keuangan Indonesia masih kuat dari turbulensi yang saat ini terjadi di sejumlah negara.                                           

BERITA TERKAIT