Puasa dan Sesaji demi Selembar Batik Gentongan Madura


Penulis: Fathurrozak - 14 October 2018, 05:40 WIB
MI/Ebet
MI/Ebet

Di sebuah pulau yang berada di timur laut Jawa Timur, perajin batik harus berpuasa sebelum mencelup kain ke gentong tanah liat. Mereka juga memilih hari baik pasaran dan menyiapkan sesaji yang diletakkan di sekitar gentong. Inilah kesakralan tradisi Batik Gentongan Tanjung Bumi, Bangkalan, Madura, Jawa Timur.

PERAJIN batik Siti Maimonah sekaligus pemilik Pesona Batik Madura mendedahkan kisahnya batik gentongan. Di balik indah warna mentereng khas saudagar, juga ciri indigo, Maimonah juga menuturkan mitos-mitos yang dijaganya sebagai tradisi leluhur. Dia merupakan generasi keempat penerus perajin batik gentongan di Tanjung Bumi, Bangkalan, Madura, Jawa Timur.

Motif bunga padi, burung, juga sabut kelapa merupakan beberapa motif yang ada dalam bentang kain batik gentongan ala Tanjung Bumi, Madura, Jawa Timur. Gentongan ialah suatu proses membatik dengan cara mencelupkan kain ke dalam gentong yang berisi warna indigo.

"Menurunkan tradisi dari eyang saya, meneruskan dari nenek, saya keturunan keempat. Memang kalau (warna) indigo tidak boleh dalam ruang terbuka, harus di dalam. Kisah lain lagi, pernah suatu kali saya baru melayat, lalu menyentuh kain, malam itu habis sudah, hilang warna kain, jadi pucat," katanya.

Untuk para perajinnya pun diharuskan berpuasa saat akan memulai membatik. Ini bertujuan agar mampu menahan diri dan menghasilkan hal lebih mendalam.

Dia juga bercerita, untuk menjadikan kain berwarna indigo, perajin setempat menggunakan daun tarum. Sementara itu, untuk kulit mondoh menghasilkan warna hijau. Selain mondoh, untuk warna lain terdapat jelaweh atau jelawe dan kayu secang. Menurutnya, membatik dengan warna alam dan warna kimia non-toxic, bila dengan proses gentongan, tetap memerlukan waktu lama sama-sama minimal enam bulan.

Mereka juga menyertakan sesaji seperti rengginang, gula, dan ketan hitam. "Itu ditaruh saat kita mau membuka gentong, untuk mencelup kain, dan sesaji diganti tiap sebulan sekali. Ini juga sebagai cara menghormati apa yang dijalankan oleh leluhur. Dulu sempat dipesani kakek, kamu enggak usah ke mana-mana, inilah (Batik Gentongan) dirawat, nanti bisa menghidupi orang lain," cerita perempuan yang saat itu mengenakan kebaya cokelat, saat bercerita dalam Mitos Batik Madura, di Restoran Palalada, Alun-Alun Indonesia, Grand Indonesia, Rabu (3/10).

---Bertahan

Kini, pesan kakeknya itu terbukti benar. Maimonah telah memiliki 180-an perajin yang sebagiannya juga sudah memiliki toko sendiri. Menurutnya, di Tanjung Bumi, tinggal dua tempat yang masih mempertahankan gentong sebagai bagian dari menciptakan Batik Gentongan, termasuk di tempatnya. Di rumahnya, ada tiga gentong peninggalan pendahulunya. Untuk menghasilkan satu buah kain berukuran 2,5 meter-2,7 meter minimal dibutuhkan waktu enam bulan, bahkan hingga dua tahun. Paling banyak, satu model motif hanya bisa dipakai untuk dua buah. Itu pun, satu kain akan mengalami turun warna sehingga sangat tidak mungkin bila satu model motif gentongan diproduksi massal. Wajar, bila harganya pun berkisar di antara Rp5 juta-Rp30 juta. Potensi pasarnya pun tengah merambah hingga Jepang.

Mengingat proses yang berlangsung paling minim ialah setengah tahun. Dalam pakem pemakaian dan motif, juga tidak ada yang berlebihan sebenarnya. Hanya ada dua pakem utama.

"Tidak harus punya pakem seperti apa,sesuai alunan alam sekitar saja. Hanya ada dua pakem utama, yakni pakem motif Kawinan dan Tingkep. Lainnya mengikuti alur. Kalau motif Ramok, dengan filosofi akar yang kuat, fondasi yang kuat, berciri motif burung, dan gaya pesisiran, itu dipakai untuk orang yang sedang buat rumah. Motif beras tumpah, berwarna putih, punya filosofi keberlimpahan rezeki. Ada juga motif sesek (sisik). Terinspirasi juga dari alam, ada daun asem kecil-kecil, juga daun kelor, tetapi saat membuat motifnya kita perkecil. Daun padi, karena di Madura juga banyak padi di sawah. Ada Sabut Nyirek, yang motifnya dibentuk seperti kerang, ada juga dengan motif burung merak, yang seperti kipas. Ada pula motif pecah batu, dengan warna merah, bermotif bunga. Orang membuat batik di Madura itu penuh dengan halusinasi(khayalan), karena suami ke laut, istri membatik, jadi membayangkan suami yang sedang melaut, mengkhayalnya seperti itu, salah satunya," terang Maimonah.

---Sebelum titik pulang

Proses membatiknya perlu ditulis hingga enam kali. Ini diperlukan untuk mempertegas isian motif, detail desain, dan warna agar pekat. Meski kini Maimonah telah menggunakan pewarna kimia non-toxic, ia tetap memberi ruang bahan alam untuk mewarnai bentang kain khas Tanjung Bumi yang menurutnya telah ada sejak 200-an tahun ini.

Perempuan yang pernah menerima penghargaan Upakarti empat tahun silam ini juga memberi sentuhan warna-warna tren, agar Batik Gentongan lebih membumi, tetapi tidak menghilangkan tradisi leluhur di tiap tahapnya. Dari tiap tradisi itu, tentu juga sebagai bentuk relasi terhadap leluhur. Seperti sekapuri srih yang diletakkan di gentong, ialah untuk menghormati leluhur yang 'ikut' membantu dalam proses membatik, juga simbol para keturunan mendoakan mereka yang telah berpulang.

Dalam menghasilkan tema motif, para pembatik juga perlu berbicara dengan material. Untuk bisa menghasilkan dialog, tentu perlu hadir perasaan mendalam, kecintaan para pewiru ini terhadap bentangan kain untuk diguratkan kisah, angan, imajinasi, dan keindahaan olah pikir dan bathin mereka. Bahkan, Maimonah pernah menyelesaikan satu kain hingga lima tahun, untuk menemukan konsep cerita.

Baginya, membatik dengan cara gentongan ialah suatu laku hidup sebelum manusia berpulang. Lewat motif dan puspawarna itu, sebagai kisah warna-warni kehidupan menuju titik pulang. "Kita harus benar-benar bersih, berhati bersih. Membuat apa pun, saya rasa kita harus punya hati bersih dan lapang, apa lagi dalam membatik, untuk meluangkan rasa cinta, dan perasaan yang paling dalam, untuk menuju suatu titik pulang itu, mau diisi apa? Warna-warni tadilah yang bisa kita aplikasikan dalam kehidupan setiap hari." (M-4)

BERITA TERKAIT