Demi Privasi dan Kece di Medsos


Penulis: Suryani Wandari - 14 October 2018, 05:00 WIB
MI/SURYANI WANDARI
MI/SURYANI WANDARI

BERDIRI tegak dengan berpegangan pada rel besi, mereka kemudian mengangkat salah satu kaki hingga 90 derajat selama beberapa saat. Setelahnya, ada pula gerakan mirip burung flamingo dengan tetap berdiri tegak. Salah satu kaki ditekuk sementara, tangan lurus ke atas.

Sepintas, kelas yang diikuti seluruhnya oleh peserta perempuan itu pun mengingatkan pada kelas ballet. Meski begitu, bantuan alat-alat beban, contohnya barbel, menujukkan bahwa kegiatan itu merupakan kelas kebugaran. Di sudut ruangan pun terletak kettlebell dan sarung-sarung tinju.

Kelas dengan gerakan mirip balet itu sendiri bernama barre flow.

"Banyak orang yang ingin belajar balet, tetapi sudah tualah istilahnya karena idealnya belajar balet di usia umur 4 hingga 6 tahun. Jadi, barre mengadopsi gerakan balet dan pilates, dan paling simpel ada di kelas barre flow," kata sang instruktur Ajeng Kamaratih kepada Media Indonesia, Rabu (10/10) di Trainstation Studio, Jakarta.

Perempuan yang juga dikenal sebagai model dan presenter menjelaskan, barre flow berfungsi melatih kekuatan otot inti (perut). Selain itu, olahraga ini juga membantu menjaga atau memperbaiki postur tubuh dan mengencangkan otot kaki hingga tangan. "Gerakannya yang lembut membuat olahraga ini memiliki risiko cedera yang lebih kecil jika dibandingkan dengan olahraga dengan gerakan cepat," tambahnya.

Barre flow sesungguhnya bukan baru di Indonesia. Olahraga ini juga banyak digelar di berbagai studio kebugaran.

Hanya saja di tempat tersebut suasanya jadi terlihat berbeda karena dukungan interior dan peralatan yang unik. Suasana tempat begitu girly karena hampir semuanya dibalut warna merah muda. Bahkan, warna itu juga pada peralatan olahraga mulai samsak sampai kettlebell tadi makin imut karena pada kettlebell yang berukuran 4-16 kg tadi dihiasi juga lukisan wajah yang lucu dan buah-buahan.

Sang pendiri, yang juga mantan pembawa berita di Metro TV, Chantal Della Concetta menyebut, lukisan itu khusus dibuat sang kakak. "Kettlebells ini menjadi ikon kami, bentuk dan tampilannya yang lucu ini membuat saya berpikir untuk menciptakan yang baru, kebetulan kakak saya langsung yang melukisnya," kata Chantal.

Perempuan berusia 38 tahun itu menjelaskan, tema khusus pada interior dan peralatan itu sesungguhnya bukan sekadar untuk unik, melainkan juga demi melengkapi visi sebagai gym khusus perempuan. "Saya sudah lama suka berolahraga dan ingin membuat gym yang lebih privacy dan bebas untuk melakukan apa saja tanpa merasa terintimidasi oleh laki-laki yang biasa terjadi di gym pada umumnya. Mencari gym khusus perempuan pun rasanya susah sehingga tercetus gym ini, bahkan mungkin di Jakarta baru satu-satunya," tambahnya soal studio yang baru berdiri 3,5 bulan itu.

Setelah soal privasi, manajemen Trainstation Studio juga menyadari kesukaan perempuan tampil menarik di media sosial, maka dibuatlah agar tempat tersebut instagramable.

"Perempuan kan senang berfoto sehingga dibuat instagramable, selain berolahraga, mereka pun bisa fun datang kesini," lanjut Managing Director Trainstation Studio, Valentina Romauli.

Selain kettleball, nuansa merah muda juga terlihat dari gymball, sabuk, dan alat TRX (total body resistane excercise). Bahkan, pemilihan warna merah pada TRX memiliki misi khusus, Chantal menggantinya dari warna normal, hitam dan kuning, untuk membuat simbol dukungan dan solidaritas terhadap bukan kesadaran kanker payudara. "Kami bekerja sama dengan Yayasana Love Pink. Sepuluh persen dana pendaftaran untuk kelas TRX akan disumbangkan pada mereka untuk digunakan mencegah atau bahkan mengobati kanker payudara," ujar Chantal.

Lebih semangat

Bagi para anggota gym, nuansa merah muda itu juga membuat kian semangat berolahraga. Itu seperti dikatakan Aldita Namira.

"Berada ruangan berwarna pink ini menjadi lebih semangat berolahraga," kata Aldita.

Aldita yang mengaku telah menjadi member selama sebulan, lebih memilih kelas dengan gerakan minim hentakan, seperti pilates. " Aku mengidap lordosis atau tulang belakang pada punggung bawah melengkung ke depan sehingga disarankan untuk mengikuti pilates. Setelah sebulan ini lower back pain-nya hilang," lanjutnya. Ia pun makin senang karena kelas jenis itu tersedia cukup beragam di studio tersebut. Selain itu, Aldita juga mencoba menjajal kelas lainnya. (M-1)

BERITA TERKAIT