Game of Thrones dan seruan Jokowi


Penulis: Adiyanto, wartawan Media Indonesia - 13 October 2018, 09:00 WIB

RABU (10/10), Badai Michael memorak-morandakan Florida, Amerika Serikat. Badai itu disebut-sebut paling kuat yang pernah terjadi di AS selama lebih dari satu abad. Tahun lalu, Badai Harvey yang tak kalah dahsyat juga melanda negeri Paman Sam.

Fenomena itu tidaklah aneh. Para ahli mengatakan pemanasan global telah memicu kenaikan muka air laut dan suhu laut. Permukaan laut yang makin panas inilah yang membuat makin seringnya badai dengan kekuatan yang juga makin hebat. “Samudra yang lebih panas akan lebih sering memicu badai lebih kuat,“  kata Dr Roelof Rietbroek dari Institut Geodesi dan Geoinformasi Bonn, Jerman, seperti dikutip Deutsche Wilde. Sekjen Organisasi Metereologi Dunia, Petteri Taalas, menyebut jika tidak dihindari, 420 juta orang lebih akan menjadi korban pemanasan global.

Gambaran di atas bukanlah fiksi. Itu adalah salah satu permasalahan nyata yang dihadapi dunia saat ini, selain ancaman resesi akibat perang dagang. Persoalan itu pula yang disinggung Presiden Joko Widodo saat membuka Rapat Pleno Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia 2018, di Bali, kemarin. Dalam pidatonya, Jokowi menganalogikan hubungan antarnegara maju saat ini sama seperti perselisihan dalam serial televisi Game of Thrones, drama fiksi di saluran HBO yang mengisahkan perebutan kekuasaan para raja dan bangsawan.

Ambisi Great Houses, demikian istilah untuk para elite ini, memperebutkan The Iron Thrones, kata Jokowi, sama halnya dengan persaingan negara-negara di dunia untuk mencapai kemakmuran ekonomi masing-masing. Ketika puncak keributan terjadi, ancaman besar yang tidak pernah diperhitungkan muncul dari Evil Winter, tokoh jahat yang ingin merusak dan menyelimuti dunia dengan es dan kehancuran.

Dengan analogi ini, Presiden Jokowi menyampaikan pesan moral kepada seluruh pemimpin dunia, bahwa kekuatan bersama itu penting untuk menghadapi ancaman global yang ada di depan mata. “Apakah saat ini tepat untuk rivalitas dan kompetisi?” Ataukah sebaliknya, saat yang tepat untuk bekerja sama dan kolaborasi?”, tanya Presiden yang disambut tepuk tangan hadirin.

Seperti kita tahu, dua raksasa ekonomi, AS dan Tiongkok, kini tengah berseteru di bidang perdagangan. AS sebagai “embahnya” penyeru pasar bebas, justru malah melindungi industri mereka dari serbuan produk asing, khususnya Tiongkok. Para ahli ekonomi, mengingatkan kebijakan proteksionisme berlebih dari Paman Sam bakal menyeret dunia ke era depresi besar seperti di tahun 1930-an.

Meski tidak selantang Bung Karno, Jokowi secara menohok berani mengingatkan dua negara adikuasa itu. Demi tatanan dunia yang lebih baik. Good job, Mr President!. Kami turut bangga. (X-10)

BERITA TERKAIT