KPK: Eddy Sindoro Sempat Sembunyi di Sejumlah Negara ASEAN


Penulis: Dero Iqbal Mahendra - 12 October 2018, 18:35 WIB
MI/Adam Dwi
MI/Adam Dwi

MANTAN petinggi Lippo Grup Eddy Sindoro (ESI) dalam masa pelariannya dari jerat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) diketahui sempat bersembunyi di sejumlah negara ASEAN sejak akhir 2016 hingga akhirnya menyerahkan diri ke KPK.

"Sejak 21 November 2016 KPK telah menetapkan ESI sebagai tersangka dan memanggil yang bersangkutan untuk diperiksa sebagai tersangka. Namun ESI tidak hadir tanpa keterangan. Dari akhir November 2016 hingga 2018 ESI diduga berpndah-pindah di sejumlah negara, diantaranya Bangkok, Malaysia, Singapura dan Myanmar," terang Wakil Ketua KPK Saut Situmorang, dalam konferensi persnya di Gedung KPK, Jumat (12/10).

Bahkan, Saut mengatakan pada November 2017 Eddy diduga mencoba melakukan perpanjangan paspor Indonesia miliknya di Myanmar. KPK sendiri baru meminta penetapan Daftar Pencarian Orang (DPO) bagi Eddy pada Agustus 2018.

Hasilnya pada 29 Agustus 2018 Eddy kemudian di deportasi oleh pihak otoritas Malaysia untuk dikembalikan ke Indonesia. Namun setibanya di Bandara Soekarno Hatta, Eddy kemudian mendapat bantuan dari Lucas yang merupakan seorang advokat untuk menerbangkan Eddy kembal ke Bangkok Thailand.

"ESI terbang kembali ke Bangkok diduga tanpa melalui proses Imigrasi," ujar Saut.

Namun kemudian tanpa diduga pada 12 Oktober 2018 waktu Singapura ESI kemudian menyerahkan diri kepada KPK melalui Atase Kepolisian di Singapura. Mantan Ketua KPK periode 2003-2007 Taufiequrachman Ruki  sendiri mengaku mendapat kontak dari salah satu 'jaringannya' yang mengungkapkan keinginan ESI untuk menyerahkan diri.

Ruki kemudian berkonsultasi dengan pimpinan KPK dan kemudian menyarankan agar ESI menyerahkan diri melalui Kedutaan Besar Indonesia di Singapura.

"Sebagai bagian dari proses penyidikan juga dilakukan penangkapan terhadap tersangka sesuai hukum yang berlaku. ESI tiba di Gedung KPK pada 14.30 dan saat ini masih menjalani proses pemeriksaan," tutur Saut.

Sebagaimana diketahui ESI menjadi tersangka dari pengembangan kasus tangkap tangan yang dilakukan KPK terhadap mantan Panitera di PJ Jakarta Pusat Edy Nasution yang menerima uang suap dari Doddy Ariyanto Supeno sebagai perantara suap Rp 100 juta yang diserahkan pada sebuah hotel di Jalan Kramat Jakarta. KPK menyita uang Rp 100 juta terkait pengurusan penundaan aanmaning atas putusan Arbitrase di Singapura melalui Singapore International Arbitration Sentre (SIAC) Nomor 178/2010.

Dalam fakta persidangan uang suap disebut memiliki jumlah total Rp 1,5 miliar dari pengeluaran PT Paramount Enterprise. Uang tersebut diberikan untuk mengakomodir permintaan revisi redaksional jawaban dari PN Jakpus untuk menolak pengajuan eksekusi lanjutan Raad Van Justice Nomor 232/1937 tanggal 12 Juli 1940.

Dalam pengembangan perkara KPK kemudian menetapkan mantan bos Lippo grup Eddy Sindoro sebagai salah satu tersangka yang memerintahkan pemberian uang.

Kasus suap PN jakarta Pusat yang dilakukan Eddy disebut sebut memiliki keterkaitan dengan keterlibatan mantan Sekretaris Mahkamah Agung Nurhadi.

"Nanti kita akan kembangkan kasus ini dengan kaitan ke N (Nurhadi) dan L (Lucas), seperti apa maju pengembangannya. Nanti kita akan lihat," ujar Saut.

Dalam kasus tersebut diketahui pemberian suap tersebut bukan satu satunya yang terjadi. Lippo Group diduga kerap menyuap Edy untuk menangani perkara-perkara lain yang menjerat anak perusahaan Lippo. Di antaranya adalah PT First Media, PT Metropolitan Tirta Perdana, PT Kymco Lippo Motor, dan PT Across Asia Limited.

Nama Nurhadi dan Eddy Sindoro kerap disebut dalam keterangan beberapa saksi persidanga dengan Eddy diduga sebagai 'inisiator' suap. Dari keterangan saksi, Eddy diduga yang memberikan perintah untuk pengurusan setiap perkara di pengadilan. Sedang Nurhadi diduga sebagai 'promotor'. Ia disebut sebut pernah meminta uang Rp 3 miliar untuk menangani perkara tanah di Tangerang.

Nurhadi terhitung dua kali dihadirkan sebagai saksi untuk Doddy maupun Edy. Namun ia membantah semua tuduhan yang ditujukan kepadanya. (OL-1)

 

 

BERITA TERKAIT