Tebak-tebakan Kompetisi di Masa Depan


Penulis: Fathia Nurul Haq - 12 October 2018, 09:45 WIB
Presiden Bank Dunia Jim Young Kim -- AFP PHOTO / ANDREW CABALLERO-REYNOLDS
Presiden Bank Dunia Jim Young Kim -- AFP PHOTO / ANDREW CABALLERO-REYNOLDS

ORANGTUA masa kini menghadapi tantangan yang cukup sulit dalam membesarkan anak-anaknya lantaran perkembangan zaman yang cepat. Siapa yang bisa menebak pekerjaan apa yang tersedia untuk anak-anak kita di masa depan?

"Kita tidak tau pekerjaan apa yang akan diperebutkan anak-anak Sekolah Dasar (SD) saat dia beranjak dewasa nanti. Sebab banyak jenis pekerjaan itu belum tersedia sekarang," ucap Presiden Bank Dunia Jim Young Kim dalam acara Pertemuan Tahunan IMF-Worldbank 2018 di Nusa Dua, Jumat (12/10).

Sama halnya dengan dengan para baby boomers saat ini yang kesulitan memahami dunia anak-anaknya, tidak menutup kemungkinan generasi X dan milenial pun akan menghadapi tantangan serupa, mungkin lebih berat. Bagaimana mempersiapkan anak untuk kompetisi yang belum tergambar apa lagi terbayangkan, tapi pasti lebih ketat?

Presiden Bank Dunia menyarankan agar para orangtua lebih memperhatikan kemampuan interpersonal dan membentuk karakter anak ketimbang mengarahkan pada jenis karier dan pekerjaan spesifik sebagaimana orangtua kita kerap lakukan.

"Tantangan terbesarnya adalah bagaimana mempersiapkan mereka dengan skill yang akan mereka butuhkan, apapun pekerjaannya di masa depan. Kemampuan menyelesaikan masalah, berfikir kritis, demikian pula kemampuan nterpersonal seperti empati dan kolaborasi (itu penting)," jelas Kim.

Menurut data Bank Dunia, hanya 53% dari jumlah bayi yang lahir hari ini akan menjadi manusia yang produktif saat sudah dewasa nanti. Sebanyak 3 dari 100 bayi berpeluang meninggal sebelum menginjak usia 5 tahun dan bersekolah hingga 12 tahun 4 bulan. 

Data itu juga menyebutkan 87 dari 100 orang yang bertahan sampai usia 15 tahun akan hidup hingga 60 tahun, 66 orang diantaranya berhasil tumbuh dewasa dengan gizi yang baik hingga tidak perlu mengalami stunting.

Tentunya angka ini bisa berubah tergantung pada sejauh mana pemerintah menaruh perhatian untuk berinvestasi pada manusia.

"Dengan mengukur sebaik apa negara berinvestasi pada SDM-nya, kami berharap bisa membantu pemerintah proaktif mempersiapkan masyarakatnya untuk berkompetisi di perekonomian masa depan," tambah Kim.

Satu hal yang pasti, meski tidak bisa memprediksi jenis pekerjaan yang tersedia di masa depan, kita bisa memastikan bahwa teknologi akan memegang peranan besar mengubah arah perkembangan zaman dan membuka peluang. (OL-3)

BERITA TERKAIT