Pengungsi Yaman di Ethiopia Mengenang Hidup dalam Kesedihan


Penulis: Antara - 12 October 2018, 10:50 WIB
AFP
AFP

IBU Kota Ethiopia, Addis Ababa, bertambah hangat dan bertambah cerah saat awan gelap dan hujan badai pada musim hujan mulai reda.

Aroma bunga mentega, atau bunga jepun, yang menyertai kedatangan Tahun Baru Ethiopia memenuhi udara.

Tapi sekitar 1.125 kilometer dari Ethiopia, di negara tua Yaman, tak ada aroma bunga, tak ada harapan. Malah, ada awan hitam ketakutan saat kematian dan kerusakan memaksa banyak orang menyelamatkan diri ke Ethiopia, tempat mereka sekarang menjadi pengungsi.

Yaman masih porak-poranda akibat kerusuhan sejak 2014, ketika gerilyawan Syiah Al-Houthi menguasai sebagian wilayah negeri tersebut, termasuk Ibu Kotanya, Sana'a.

Konflik meningkat pada 2015, ketika Arab Saudi dan sekutu Arabnya melancarkan serangan udara besar di Yaman dengan tujuan memutar-balikkan perolehan milisi Al-Houthi.

Kerusuhan yang berkecamuk tersebut telah memporak-porandakan prasarana dasar Yaman, sehingga PBB menggambarkan situasi di negara Arab itu sebagai "salah satu bencana kemanusiaan terburuk pada jaman modern".

Menurut Komisariat Tinggi PBB Urusan Pengungsi (UNHCR), pada akhir Juni 2018 ada sebanyak 22.443 pengungsi di Addis Ababa, kebanyakan dari Eritrea, Yaman, Somalia dan Sudan Selatan, serta pengungsi dari negara lain kebanyakan dari Wilayah Danau Raya.

Dari 22.443 pengungsi, 17.720 atau 79% adalah orang Eritrea dan 1.900 warga negara Yaman, katalembaga PBB itu.

Jamal Al-Hada, 58, adalah pelukis Yaman kelahiran Ethiopia dan memiliki hubungan budaya dengan negara penampungnya karena ia masih memiliki darah Ethiopia.

"Di sini di Addis Ababa, sekarang adalah bulan pertama yang cerah dalam kalender Ethiopia. Tapi negara tercinta saya, Yaman, telah terjermusuh ke dalam kegelapan dan perang tanpa akhir yang menghancurkan," kata Jamal Al-Hada, sebagaimana dikutip kantor berita Anadolu --yang dipantau Antara di Jakarta, Jumat (12/10) pagi.

Al-Hada mengatakan ia takut untuk menyalakan televisi dan menyaksikan berita. 

"Sebab saya takut saya akan mendengar dan menyaksikan peristiwa yang mengejutkan seperti pemboman bus sekolah pada Agustus lalu," ia menambahkan.

Pada 9 Agustus, serangan udara koalisi pimpinan Arab Saudi mengenai bus yang membwa anak-anak di Provinsi Saad di bagian barat-laut Yaman. Tak kurang dari 50 orang, kebanyakan anak kecil, tewas dan puluhan orang lagi cedera. Pada September, koalisi itu menyampaikan penyesalah mengenai "kekeliruan" yang terjadi dalam serangan udara terhadap bus tersebut.

"Ketika beban menyakitkan mengenai keluarga dan negara saya merundung saya, saya mengambil kuas dan kanvas dan mengungkapkan perasaan saya," tambah pelukis itu.

Mehider Mohammed, seorang pensiunan pilot yang telah bertugas di perusahaan penerbangan Yaman --Yemenia-- selama 35 tahun, tiba di Ethiopia delapan bulan lalu.

Ketika berbincang dengan wartawan Kantor Berita Anadolu, Mohammed mengatakan perang telah membuat kehidupan pensiunnya "menyedihkan".

"Buat saya, sudah tiba waktunya untuk bersama keluarga saya di negara saya. Tapi saya tak memiliki negara. Saya tinggal di Ethiopia, Mesir dan Dubai (Uni Emirat Arab)," katanya.

Dengan suara keras dan penuh emosi, ia menambahkan, "Negara regional, faksi yang berbeda akan menghapuskan Yaman dari peta. Perang diabaikan dan kami tak memiliki harapan." 

Pengungsi yaman di Addis Ababa seringkali berkumpul dan makan malam di dua restoran --Sana'a dan Nakla, yang menawarkan makanan Yaman.

Al-Hada mengatakan dukungan ekonomi dari kerabatnya di Yaman tidak datang lagi sebab ekonomi terpuruk dan 22 juta warga Yaman memerlukan bantuan kemanusiaan.

"Kami miskin dan hidup dari bantuan bulanan sebesar US$70 yang diberikan oleh UNHCR," katanya. 

Ia menambahkan masyarakat Ethiopia dan Yaman telah memberi mereka bantuan. (OL-3)

BERITA TERKAIT