Hasto: Tuding Ekonomi Kebodohan Cermin Ketiadaan Narasi Kampanye


Penulis: Micom - 12 October 2018, 08:45 WIB
Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto -- MI/Susanto
Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto -- MI/Susanto

SEKJEN PDI Perjuangan angkat bicara megenai tudingan Ketua Umum Partai Gerindra yang juga Calon Presiden nomor urut 2 Prabowo Subianto mengenai sistem ekonomi Indonesia yang disebutnya kebodohan.

Menurut Hasto, evaluasi kritis bahkan cenderung otopis yang dituduhkan oleh Prabowo bahwa sistem ekonomi Indonesia saat ini melebihi neo-liberal dan dikatakan ekonomi kebodohan hanyalah klaim sepihak tanpa dasar. 

“Sejarah mencatat, bahwa reformasi lahir karena koreksi atas sistem yang otoriter di mana ekonomi kekuasaan saat itu hanya didominasi kroni Soeharto. Pak Prabowo seharusnya paham hal ini. Saat itu, ekonomi kekuasaan ditopang oleh sistem otoriter. Dalam sistem itu mereka yang kritis dipenjara, bahkan diculik dan terkadang dimusnahkan," ujar Hasto dalam keterangan pers, Jumat (12/10). 

Di masa orde baru, kata Hasto, ketika terjadi krisis, kedaulatan negara digadaikan melalui Letter of Intent IMF, dan Prabowo memahami hal ini dan segala akibatnya. Ia tidak bisa cuci tangan. 

"Kami akan siap berdebat sekiranya yang disampaikan adalah konsepsi ekonomi Indonesia yang sesuai konstitusi yang selama ini terus diperjuangkan oleh Pak Jokowi,” tegasnya.

Selain itu, kata Hasto, Prabowo harus paham bahwa dampak 32 tahun Ekonomi Kekuasaan juga membawa “keuntungan” bagi total kekayaannya saat ini. 

“Saya memastikan bahwa serangan Pak Prabowo ke Pak Jokowi tersebut akan menimbulkan serangan balik dari rakyat. Sebab pernyataan Pak Prabowo tersebut sama saja dengan menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri,” tuturnya.

Sekretaris Tim Kampanye Jokowi-Kyai Ma’ruf Amin tersebut sangat tidak rela sistem ekonomi saat ini disebut ekonomi kebodohan dan pada saat yang sama beretorika tentang “Make Indonesia Great Again”. 

"Serangan ekonomi kebodohan Pak Prabowo semakin menunjukkan bahwa Beliau pura-pura lupa dengan sejarah, lalu menimpakan hal tersebut sebagai kesalahan Presiden Jokowi. Padahal dari aspek elementer saja, Pak Prabowo tidak bisa membedakan antara penganiayaan dan operasi atau mark-up wajah. Inilah contoh dari kebodohan itu sendiri," ulasnya. 

Hasto menilai, capres negarawan seharusnya menyampaikan narasi positif untuk Indonesia Raya, bukan malah merendahkan martabat bangsa dan rakyatnya sendiri, dengan membodoh2kan ekonomi bangsanya.

Ia menilai, tindakan membangun infrastruktur secara masif, jaminan sistem kesehatan nasional, sertifikasi tanah rakyat, program kerakyatan melalui Kartu Indonesia Sehat dan Indonesia Pintar; pengambilalihan Freeport, Blok Rokan dan Blok Mahakam serta berbagai prestasi lainnya, bukanlah kebodohan. 

"Bagi kami, banteng-banteng PDI Perjuangan, konsepsi ekonomi Pak Jokowi justru mencerdaskan bangsa. Hanya orang-orang yang tertutup mata hatinya yang melihat segala sesuatu dari perspektif negatif,” pungkasnya. (OL-3)

BERITA TERKAIT