Kisah Persahabatan Dua Atlet Timnas Voli Putri Berbeda Arena


Penulis: Rendy Renuki H - 11 October 2018, 23:15 WIB
medcom/Rendy Renuki H
medcom/Rendy Renuki H

PERSAHABATAN tak mengenal batas. Ungkapan yang terlihat jelas dari dua atlet voli putri Indonesia, Berllian Marsheilla dan atlet voli disabilitas Annisa Tindy Lestari.

Tampil memperkuat timnas voli putri di berbagai ajang dunia tak membuat Sheilla --sapaan akrab Berllian-- melupakan Annisa. Ia masih menyempatkan mendukung langsung Ica --panggilan karib Annisa-- bertanding di cabang olahraga voli duduk Asian Para Games 2018, Kamis (11/10).

Libero timnas voli Indonesia di Asian Games 2018 itu bahkan menyemangati sahabatnya langsung di pinggir lapangan. Seolah tak ada batasan yang membedakan kedua pevoli itu saat tim voli duduk Indonesia bertanding melawan Jepang memperebutkan medali perunggu.
 
Dukungan Sheilla pun tak surut meski nyatanya tim voli duduk putri gagal mempersembahkan perunggu. Ia tetap menemani sahabatnya dan pevoli lainnya, bahkan hingga ruang ganti pemain di Tennis Indoor Senayan.

"Saya sama Ica ini sebenarnya satu angkatan junior, dulu dia non-disabilitas. Pertama kali ketemu di Popnas (Pekan Olahraga Pelajar Nasional) Kalimantan Timur sekitar 2008 lalu," ungkap Sheilla.

"Dari SMP sudah bareng ketemu di lapangan. Saya juga pernah ikut PON 2008 di Bontang, saat itu membela Banten. Itu terakhir kalinya main di nasional," timpal Ica.

Lama tak bertemu sahabatnya, Sheilla kini harus menerima kenyataan melihat sahabatnya menjadi salah atlet disabilitas. Musibah menghampiri Ica pada 2013 lalu setelah mengalami kecelakaan lalu lintas di Bandung.

Motor yang ditumpanginya menabrak mobil dan membuat Ica tak bisa lagi berjalan normal. Kaki kanan Ica tak lagi bisa digerakkan secara normal.

"Pertama kali melihat dia, saya pikir cuma cedera lutut. Terus pas ketemu saya nanya, "cedera dari kapan?," terus dia bilang ini bukan cedera, tapi cacat," tutur Sheilla menirukan jawaban sahabatnya.

"Yang cedera panggul, terus ankle kaki kanan sarafnya lemah, sama lutut kanan yang enggak bisa lurus. Setahun berikutnya saya vakum (menjadi atlet) untuk menjalani proses terapi, tapi ternyata saya harus operasi ganti sendi, jadi drop banget di situ," Ica mengisahkan.

Namun, kondisi tersebut tak lantas membuat Ica putus asa. Atlet 28 tahun itu kembali ke lapangan voli dan mulai berlatih dengan tim voli duduk Indonesia di bawah bimbingan Komite Paralimpiade Nasional (NPC) sejak 2016 lalu.
 
Semangat juang yang sangat diapresiasi Sheilla melihat sahabatnya bisa kembali bangkit. Meski masih belum bisa menyumbangkan medali di Asian Para Games 2018, namun ia tetap bangga dengan penampilan Ica dan rekan setimnya di voli duduk.

"Saya kenal baik sama dia. Intinya saya bangga teman saya bisa bawa nama Indonesia walaupun dengan cara yang berbeda," kata Sheilla yang kini bermain untuk tim Bandung BJB tersebut.

Tak ingin kalah, Ica pun menyebut sosok Sheila merupakan salah satu pemain yang diidolakannya. Apalagi, keduanya sama-sama berposisi sebagai libero di tim voli Indonesia pada Asian Games dan Asian Para Games 2018.

"Sheilla itu inspirasi saya, apalagi kita sama-sama dapet penghargaan libero terbaik. Pemain idola saya sih kalau untuk posisi spike Susanti Martalia, tapi kalau receiver ya Berllian Marsheilla," tutup kapten tim voli duduk Indonesia tersebut. (Medcom/OL-1)

 

BERITA TERKAIT