IPI Aceh Apresiasi Sikap Miftahul Jannah


Penulis: Micom - 11 October 2018, 19:15 WIB
Antara/M Iqbal Ichsan
Antara/M Iqbal Ichsan

IKATAN Pesantren Indonesia (IPI) Aceh memberi apresiasi kepada pejudo difabel Indonesia asal Aceh, Miftahul Jannah, atas sikapnya tidak mau membuka jilbab saat bertanding di Asian Para Games 2018, Jakarta.

Wanita penyandang tuna netra itu lebih memilih mundur dari pertadingan daripada harus membuka jilbab di arena.

Prinsip kuat Miftahul Jannah itu patut diberi apresiasi tinggi karena keteguhannya mempertahankan identitas Provinsi Aceh sebagai daerah syariat Islam di mata dunia.

"Tindakan wanita itu memilih mundur dari pertandingan adalah menjadi pelajaran bagi bangsa ini dan dunia agar menghargai dan memelihara hak asasi manusia (HAM). Dalam hal ini adalah keyakinan individual dalam beragama.

Miftahul Jannah juga sedang memperlihatkan ke dunia bahwa Aceh adalah daerah yang bersyariat Islam dan pakaian syariat itu merupakan kehormatan bagi anak Aceh sehingga tidak mudah terjual dengan begitu saja," ujar Muhazzir Budiman, Wakil Ketua IPI Aceh, dalam keterangannya, Kamis (11/10).

Muhazzir menambahkan, pihaknya sangat kecewa kepada wakil dari Indonesia dalam Asian Games 2018 itu yang tidak menjelaskan dan mempertahankan saat technical meeting maupun annual meeting tentang hijab atlet muslimah.

"Seharusnya mereka paham dan memperjuangkan persoalan ini agar tidak terjadi diskriminasi atlet muslimah dalam ikut pertandingan.

Apalagi pertandingan ini dilaksanakan di Indonesia yang mayoritas masyarakat Islam.

Maka aturan buka jilbab ini sangat tidak toleransi antaragama di Indonesia.

Aturan ini sangat mengecewakan sehingga atlet kita sendiri didiskualifikasi," lanjutnya.

IPI mengingatkan pada Pemerintah Indonesia dari hal-hal yang sangat serius seperti ini sehingga gara-gara kasus Miftahul Jannah membuat masyarakat muslim Indonesia, khususnya masyarakat Aceh, sangat sedih dan kecewa.

Karena itu, IPI mengharap ke depan di Asian Games selanjutnya agar bermusyawarah terlebih dahulu dengan Majelis Ulama Indonesia atau tokoh-tokoh Islam sebelum menetapkan aturan buka jilbab.

"Dan IPI Aceh mengharap aturan pertandingan judo itu direvisi ulang agar tidak terjadi diskriminasi bagi atlet muslimah.

Kami mengimbau kepada pemerintah Aceh agar membela Miftahul Jannah dan menggantikan kesedihannya itu dengan suatu yang dapat menggembirakannya lagi. Ini semua karena wanita itu telah membawa nama harum Aceh ke dunia.

Ia lebih mendahulukan syariat Islam daripada kemegahan dunia," kata Muhazzir. (OL-1)

BERITA TERKAIT