Ratusan Kilometer Ditempuh untuk Berguru


Penulis:  (Yoseph Pencawan/H-3) - 12 October 2018, 02:15 WIB
MI/Yoseph Pencawan
MI/Yoseph Pencawan

PANDANGAN mata perempuan berumur 49 tahun itu menerawang, tatkala mengingat kembali peristiwa lalu di masa kecilnya. Setiap harinya, Masriah Abdul Gani, harus menempuh jarak ratusan kilometer untuk belajar mengaji.

Saat itu Masriah merasa belumlah cukup ilmu mengaji yang didapatkan dari ustaz di kampungnya di Kecamatan Tinombo Kabupaten Parigimoutong, Sulawesi Tengah.

Ia pun menambah ilmu mengajinya hingga ke Kota Palu yang berjarak 200 kilometer dari rumahnya. Rutinitas belajar mengaji itu dilakoninya beberapa tahun lamanya.

Jarak sejauh itu dia anggap tidak masalah karena memegang prinsip muridlah yang mendatangi guru mengaji, bukan sebaliknya.

Saat SMP, dia pun memutuskan tinggal di Palu untuk belajar mengaji dengan Ustaz Mahmud Lamalundu. Aktivitas belajar mengajinya tak berhenti, bahkan hingga ia menikah. Ia juga berlatih menyanyikan lantunan ayat Alquran, belajar tajwid, hingga fashahah.
“Yang melatih dasar saya mengaji itu ayah saya Abdul Gani. Kemudian, belajar dengan Ustaz Jabir Saus. Selanjutnya, SMP sampai menikah saya belajar mengaji di Palu. Di sana akhirnya saya juara Musabaqah Tilawatil Quran Nasional (MTQN),” tuturnya saat ditemui di arena MTQN XXVII yang digelar 4-13 Oktober 2018 di Medan, Sumatra Utara, belum lama ini.

Masriah yang kini sehari-harinya bekerja di Kementerian Agama merupakan mantan qariah asal Palu.  Setelah memenangi tilawah Alquran pada MTQN di Palu, Sulawesi Tengah, pada 1993, ia mewakili Indonesia di MTQ Internasional di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 1994. Hasilnya, Masriah meraih peringkat ketiga juara tilawah.

Setahun kemudian, Masriah kembali berlaga di internasional. Hasilnya, ia meraih satu peringkat lebih tinggi dari sebelumnya, yakni peringkat II tingkat internasional pada 1995.

Sebagai hadiah, Masriah diberangkatkan ke Tanah Suci, Mekah oleh pemerintah. Suatu kesempatan yang tak disangka sebelumnya. Bahkan, ia juga diangkat menjadi aparatur sipil negara (ASN) di Kementerian Agama.

Selain Masriah, Sulteng juga memiliki Masri Haji Timi yang berprestasi di kancah dunia dan qariah nasional Hadiman.

Dari pengalamannya itu, Masriah berusaha menyemangati pada peserta yang mengikuti ajang MTQN XXVII di Medan. “Agar terus belajar, berlatih, dan membumikan Alquran.”

Pada MTQN 2018, ia menilai para peserta tilawah sudah memiki kemampuan yang baik, tetapi belum melampaui pencapaian peserta tahun lalu. (Yoseph Pencawan/H-3)

BERITA TERKAIT