Mafia Perdagangan TKW Sulit Diberantas


Penulis: (SS/N-3) - 11 October 2018, 23:15 WIB
MI/Rommy
MI/Rommy

MENTERI Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Susana Yembise mengaku kementerian yang dipimpinnya kesulitan untuk memberantas konspirasi dan mafia perdagangan manusia (human trafficking), khusunya wanita.

Kondisi itu mengakibatkan banyak tenaga kerja wanita (TKW) Indonesia yang terjerumus prostitusi di negara orang. Semula ditawarkan pekerjaan yang terhormat, menjadi juru masak, mengasuh anak/orang jompo, ternyata dijadikan pekerja seks.

“Saya melihat ini karena konspirasi dan mafianya (perdagangan wanita) sangat terselubung dan sulit untuk diketahui,” ujar Yohana.

Akibatnya, kata dia, TKW Indonesia di luar negeri masih dianggap sebagai budak. “Bahkan dianggap lebih ­rendah daripada tenaga kerja asal ­Filipina,” ungkap Yohana saat membuka Rakornas Pencegahan dan Penanganan Tindak Perdagangan Orang di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Kamis (11/10).

Sejumlah temuan yang menjadi bukti, lanjut menteri asal Papua itu, banyak TKW ­Indonesia di luar negeri tidak diperlakukan manusiawi. Mereka misalnya tidurnya di gudang, ruang tamu, bahkan di garasi mobil.

Dalam kegiatan yang dihadiri perwakilan 34 provinsi itu, Yohana menyebut ada lima provinsi yang menjadi pusat perdagangan manusia, yaitu Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, NTT, dan NTB.

“Akibat tindak perdagangan orang ini banyak yang terjerumus di lokalisasi, juga beberapa tempat panti pijat yang tidak benar,” jelasnya.

Sebelumnya, Gubernur NTT Viktor Laiskodat meminta aparat penegak hukum mematahkan kaki pelaku perdagangan manusia. Tujuannya agar mereka segera berhenti beroperasi ­merekrut warga NTT menjadi pekerja migran di Malaysia.

“Kita akan kerja sama dengan danrem dan kapolda. Mereka yang kerjanya seperti ini (human trafficking) patahkan saja kakinya, gubernur sumbang uang,” kata politikus Partai NasDem tersebut

Terkait dengan bencana gempa dan tsunami di NTB dan Sulteng, Yohana mengaku sedih. Dari data yang dia terima, masih ada sekitar 5.000 wanita dan anak-anak yang hingga sekarang belum ditemukan.

“Negara rugi dengan hilang-nya perempuan dan juga anak-anak yang begitu banyak karena perempuan menghasilkan gene-rasi masa depan,” katanya.

Karena itu, peristiwa bencana di Sulawesi Tengah itu harus menjadi perhatian semua warga. (SS/N-3)

BERITA TERKAIT