Arab Saudi Didesak Ungkap Misteri Khashoggi


Penulis:  denny parsaulian sinaga - 12 October 2018, 06:00 WIB
AFP
AFP

PUTRA mahkota Kerajaan Arab Saudi dan penguasa de facto diduga memerintahkan pelaksanaan operasi yang menargetkan jurnalis Jamal Khashoggi. Hingga kini, Khashoggi telah hilang selama lebih dari sepekan.

Demikian laporan Washington Post pada Rabu (10/10) mengutip intersepsi intelijen Amerika Serikat (AS). Khashoggi yang tinggal di AS sejak tahun lalu dan merupakan salah seorang pengkritik yang vokal terhadap rezim Raja Salman dan putranya, Putra Mahkota Mohammed bin Salman, lenyap setelah masuk ke kantor Konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki pada Selasa (2/10).

Para pejabat Turki menduga jurnalis tersebut telah tewas dibunuh. The Post, surat kabar tempat Khashoggi bekerja sebagai kontributor, mengutip pejabat AS yang tidak disebutkan namanya yang mengatakan bahwa para pejabat Arab Saudi telah membahas rencana untuk memancing Khashoggi keluar dari tempat tinggalnya di negara bagian Virginia, AS, untuk kemudian ditahan.

Surat kabar itu juga mengutip beberapa informasi dari teman Khashoggi yang mengatakan bahwa pejabat senior Arab Saudi telah mendekati dia dengan tujuan menawarkan perlindungan dan pekerjaan penting di pemerintahan jika dia bersedia pulang ke negaranya. Namun, Khashoggi menanggapi tawaran itu dengan skeptis.

Di lain hal, juru bicara Departemen Luar Negeri AS Robert Palladino membantah memiliki informasi seperti yang dilaporkan The Post. Palladino sebelumnya menegaskan bahwa AS tidak mengantongi peringatan dini terkait ancaman terhadap Khashoggi.

"Meskipun saya tidak bisa membahas masalah intelijen, saya dapat dengan pasti mengatakan bahwa kami tidak memiliki informasi sebelum hilangnya Khashoggi," kata Palladino kepada wartawan.

Desakan

Sementara itu, kasus hilangnya Khashoggi telah memicu kemarahan kelompok hak asasi manusia dan para jurnalis. Mereka mengancam akan merusak hubungan Arab Saudi dengan AS. Sejauh ini, pemerintah AS telah menuntut jawaban dari kerajaan.

Presiden AS Donald Trump, pada Rabu (10/10), mendesak Arab Saudi untuk memberikan jawaban atas hilangnya Khashoggi. Tidak hanya itu, Trump mengatakan dia telah beberapa kali bicara dengan para mitranya di Arab Saudi. Seperti diketahui, Arab Saudi ialah salah satu sekutu terdekat Washington dan pasar utama bagi industri senjata AS.

"Kami menuntut segalanya. Kita tidak bisa membiarkan ini terjadi, kepada wartawan, kepada siapa pun. Kami sangat kecewa melihat apa yang terjadi," tambahnya. Tekanan juga datang dari Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Dia mendesak pemerintah Arab Saudi mengeluarkan rekaman untuk membuktikkan kepergian Khashoggi dari Konsulat Arab Saudi di Istanbul.

Pemerintah Turki bersumpah tidak akan tinggal diam terhadap misteri hilangnya Khashoggi secara misterius. "Apakah rasional jika sistem kamera pengawas di gedung konsulat tidak beroperasi, di sebuah kedutaan? Apakah kamera pengawas yang tidak beroperasi sudah biasa terjadi di luar insiden ini? Setahu saya mereka (Arab Saudi) memiliki sistem (pengawas) paling canggih," tukas Erdogan sebagaimana dilaporkan Hurriyet daily.

Dalam menanggapi hal itu, pihak Konsulat Arab Saudi menyebut kamera CCTV tidak beroperasi pada hari kedatangan Khashoggi. Hal itu sekaligus menepis tuduhan pembunuhan yang dianggap tidak berdasar. (AFP/Tes/I-2)

BERITA TERKAIT