Ini Kata Prabowo soal Kondisi Ekonomi Bangsa


Penulis: Thomas Harming Suwarta - 11 October 2018, 14:25 WIB
ANTARA
ANTARA

CALON Presiden Prabowo Subianto memaparkan gagasannya di hadapan peserta Rakernas Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) di Pondok Pesantren Minhajurrasyidin, Lubang Buaya, Pondok Gede, Jakarta Timur, Kamis (11/10). 

Dalam paparannya Prabowo mengkritik keras sistem perekonomian yang saat ini sedang berkembang di Indonesia yang disebutnya sebagai ekonomi kebodohan.

"Yang kita alami saat ini adalah lebih buruk lagi dari neoliberal yang pantas kita sebut sebagai ekonomi kebodohan, economic of stupidity," kata Prabowo.

Prabowo menjelaskan, berpegang pada amanat UUD 1945 perekonomian Indonesia disusun berdasarkan azas kekeluargaan. 

"Tapi faktanya yang ada azas konglomerat swasta. Bukan saya antiswasta, tapi paham filosofinya dulu, bahwa kalaupun swasta, ya harus berakar dari bumi kita, harus berkarya, harus investasi, menguntungkan rakyat sekitarnya, yang kuat mengangkat yang lemah, sehingga bisa menkmati bersama kekayaan-kekayaan itu," katanya.

Ia juga menyoroti prinsip dikuasai oleh negara pada Pasal 33 UUD 1945 yang faktanya saat ini ternyata jutaan hektar tanah justru dikuasai oleh perusahaan swasta. 

"Dan lebih memprihatinkan lagi mereka bawah uangnya ke luar negeri. Jadi ini menurut saya bukan ekonomi neolib lagi, ini lbih parah, yang istilah barunya bagi saya ya ekonomi kebodohan," tegasnya.

Dalam ekonomi kebodohan itu lanjut Ketua Umum Partai Gerindra tersebut wajar bahwa angka Gini Ratio kita berada pada angka 45,4 yang artinya 1% dari rakyat Indoneska menguasai 45% kekayaan. 

"Sementara yang 99 (persen rakyat) dapat sisa-sisanya. Jadi kalau konsentrasi kekayaan di 1%. Di mana akan terwujud kesejahteraan. Belum lagi bicara soal tanah, lebih parah lagi, di mana 1% rakyat menguasai 82% tanah. Ini situasi yang harus kita crikan jalan keluarnya sama-sama," pungkas Prabowo. (OL-3)

BERITA TERKAIT