Cegah Kanker Payudara, Jangan Kegemukan


Penulis: */H-2 - 10 October 2018, 05:30 WIB
Dok. MI
Dok. MI

MEMILIKI berat badan ideal bukan hanya mempercantik penampilan. Bagi kaum perempuan, menjaga berat badan ideal juga sangat bermanfaat untuk mencegah kanker payudara.

Dokter spesialis bedah onkologi dari Rumah Sakit Pondok Indah-Bintaro Jaya, dr Rachmawati SpB(K)Onk, menjelaskan, pada perempuan gemuk, timbunan lemaknya lebih banyak. Jaringan lemak tersebut meningkatkan produksi hormon estrogen.

"Paparan terhadap estrogen berlebihan inilah yang menjadi salah satu pemicu timbulnya kanker payudara," terang Rachmawati pada diskusi media yang digelar Rumah Sakit Pondok Indah-Bintaro Jaya di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Karena itulah, ia menyarankan untuk menjaga jangan sampai tubuh kegemukan. Ukurannya ialah indeks massa tubuh (body mass index/BMI) tidak boleh melebihi 25. Nilai BMI dihitung dengan cara membagi berat badan (kilogram) dengan kuadrat dari tinggi badan (meter).

"Batasi asupan makanan dan minuman berkalori tinggi, lakukan olahraga intensitas sedang sampai tinggi 75-150 menit dalam sepekan. Untuk anak dan remaja, lakukan olahraga dengan intensitas tinggi selama 1 jam, minimal tiga kali dalam seminggu," saran Rachmawati.

 

Haid terlalu dini

Mengingat paparan hormon estrogen yang berlebihan menjadi salah satu faktor pemicu kanker payudara, Rachmawati mengatakan anak perempuan yang haidnya terlalu dini (di bawah 12 tahun) dan perempuan lanjut usia yang terlambat menopause (baru berhenti haid di usia lebih dari 52 tahun) juga memiliki risiko lebih tinggi untuk terkena kanker payudara, sebab selama mengalami siklus menstruasi kaum perempuan menerima paparan hormon estrogen yang tinggi.

"Faktor risiko lainnya ialah punya riwayat anggota keluarga mengalami kanker payudara, menggunakan kontrasepsi oral dalam jangka lama, pola hidup tidak sehat, melahirkan anak pertama di atas usia 35 tahun, tidak pernah menyusui, dan pola hidup tidak sehat," papar Rachmawati.

Sebagai langkah pencegahan, rachmawati menyarankan perempuan yang sudah mengalami haid untuk rutin melakukan prosedur Sadari atau periksa payudara sendiri, yakni meraba payudara sendiri secara saksama untuk menemukan benjolan yang dicurigai sebagai kanker payudara.

Selain itu, disarankan untuk menjalani prosedur Sadanis atau pemeriksaan payudara klinis. Sadanis dilakukan dokter atau tenaga medis terlatih. "Perempuan yang berisiko tinggi sebaiknya melakukan pemeriksaan ini setiap dua tahun sekali, mulai usia 20 tahun," kata Rachmawati.

Bagi mereka yang terdiagnosis kanker payudara, Rachmawati menekankan pentingnya mengikuti terapi medis. "Pengobatan umumnya dilakukan dengan pembedahan untuk mengambil jaringan kanker, kemoterapi, dan radioterapi."

Selain itu, sambung Rachmawati, ada pula terapi target yang spesifik menargetkan molekul-molekul biologis dalam tubuh yang berperan dalam merangsang pertumbuhan sel kanker. Ada juga terapi hormon yang bekerja menghambat hormon progesteron dan estrogen, dua hormon yang merangsang pertumbuhan sel kanker payudara.

BERITA TERKAIT