Diet dan Olahraga Keliru Picu Sakit Jantung


Penulis: */H-2 - 10 October 2018, 05:15 WIB
DOK. RS AWAL BROS
DOK. RS AWAL BROS

PENYAKIT jantung merupakan penyebab kematian nomor satu di Indonesia, bahkan di dunia. Penyakit jantung yang dulu cenderung lebih banyak menyerang orang usia 50 tahun ke atas, sekarang semakin bergeser ke usia produktif, yaitu usia 30-40 tahun. Gaya hidup tak sehat menjadi salah satu faktor penyebab pergeseran itu.

"Yang datang ke saya buat berobat sekarang makin muda, umur 30 tahun sudah kena serangan jantung. Umumnya, penyebabnya karena gaya hidup yang suka ngerokok, sakit jantung bawaan, stres tinggi, lalu juga asupan makanan yang masuk ke tubuh kita itu sangat memengaruhi. Diet dan olahraga yang salah juga termasuk faktor penyebab," tutur dokter spesialis penyakit dalam konsulen kardiovaskuler, dr Yudistira Panji Sentosa SpPD-KKV, pada acara media gathering Rumah Sakit Awal Bros di Jakarta, pada Selasa (2/10).

Ia menjelaskan banyak orang muda yang menginginkan berat badan yang ideal dengan cara instan, seperti diet tanpa olahraga, diet tinggi protein yang dapat menyebabkan gagal jantung, serta diet rendah karbohidrat tetapi tinggi lemak atau yang lebih populer dikenal diet ketogenik.

"Diet rendah karbohidrat tapi tinggi lemak dapat meningkatkan kolesterol dan penimbunan lemak yang akan menyebabkan penyempitan dan penyumbatan di pembuluh darah sehingga berisiko terkena serangan jantung dan stroke, tergantung di mana sumbatan terjadi, apakah di pembuluh darah jantung atau di otak," terang Yudistira.

Ia menambahkan, diet bukanlah tidak makan atau mengurangi jatah makan, melainkan mengatur asupan nutrisi dan pola makan disertai aktivitas yang dapat membakar kalori.

"Sebelum diet, kenali diri Anda dengan baik, apakah Anda bisa mengikuti diet tersebut. Contohnya, apakah ada keturunan darah tinggi atau kolesterol, ini harus diperhatikan untuk menyesuaikan dengan metode diet yang dipilih. Lalu, target jangan ekstrem, cukup turun berat badan 1-2 kilogram sebulan sudah bagus. Kemudian, harus disertai olahraga. Jangan lupa juga medical check up walau masih usia muda, terutama yang punya turunan penyakit jantung."

Olahraga berlebih

Kekeliruan lain yang kadang dilakukan kaum muda ialah olahraga tanpa pemanasan cukup dan olahraga berlebihan melebihi batas kemampuan jantung.

"Melakukan olahraga juga perlu memperhatikan kondisi tubuh kita. Jika memang sudah terbiasa olahraga, seperti atlet, otot jantungnya sudah terbiasa. Tetapi bagi orang yang tidak pernah atau jarang olahraga, jika langsung dipaksa mendadak olahraga, apalagi tanpa pelatihan dan pemanasan kemudian tidak diakhiri dengan cooling down, bisa menyebabkan kerja jantung menjadi down," papar Yudhistira.

Ia menjelaskan, olahraga yang baik ialah yang sesuai dengan target detak jantung per menit (bpm) maksimal. Rumus menghitungnya, 220 dikurangi usia kita, lalu hitung 80%-nya.

Misalnya, usia kita ialah 50, maka 220-50=170. Lalu, 80% dari 170 ialah sekitar 150. Berarti detak jantung maksimal orang berusia 50 saat berolahraga ialah 150 bpm.

"Jangan memaksakan lebih dari itu karena akan memaksakan kerja jantung yang berlebih. Untuk mencobanya bisa dilakukan dengan treadmill test atau olahraga dengan menggunakan jam tangan pintar (smart watch) yang dapat mendeteksi denyut jantung," saran Yudistira.

BERITA TERKAIT