Sedot Lemak, Cara Instan Menuju Cantik


Penulis: Putri Anisa Yuliani - 10 October 2018, 05:00 WIB

BARU-BARU ini aktivis sekaligus seniman Ratna Sarumpaet menggemparkan masyarakat karena diisukan dianiaya hingga wajahnya lebam. Foto yang menampilkan wajah Ratna bengkak-bengkak tampil di berbagai pemberitaan, juga media sosial.

Namun, belakangan diketahui bahwa bengkak tersebut bukanlah akibat kekerasan fisik, melainkan efek samping dari prosedur operasi sedot lemak yang ia jalani. Prosedur ini dilakukan untuk tujuan estetika atau kecantikan, bisa dilakukan pada bagian wajah maupun tubuh.

Menurut dokter spesialis bedah plastik rekonstruktif, dr Danu Mahandaru SpBP-RE, prosedur sedot lemak atau liposuction merupakan satu dari sekian banyak jenis bedah plastik yang populer di Indonesia. Ia menjelaskan, ada dua metode sedot lemak. Pertama, penyedotan lemak secara langsung lewat jalur luar kulit. Kedua, menghilangkan lemak dari dalam kulit atau yang disebut buccal fat removal.

"Kalau dilihat dari luka pada wajah (Ratna Sarumpaet), ia melakukan teknik yang pertama karena hanya terdapat jahitan kecil di pipi bagian atas," ungkap Danu saat dihubungi Media Indonesia, kemarin.

Penyedotan lemak di pipi, lanjutnya, umum dilakukan untuk mengurangi tembam. Danu menuturkan, prosedur sedot lemak maupun bedah plastik lainnya pasti akan mengakibatkan bengkak sementara setelah pelaksanaannya. Namun, bengkak itu sangat berbeda dengan bengkak akibat pemukulan.

"Beda sekali bengkaknya. Bengkak karena kekerasan biasanya meninggalkan trauma seperti goresan. Kalau karena bedah plastik ya lukanya membentuk garis atau titik kecil seperti halnya luka jahitan. Jadi, dilihat sepintas pun bisa nampak perbedaannya," tutur dia.

Tingkat keparahan bengkak karena bedah plastik sangat tergantung pada kesehatan fisik dan jenis bedah plastik yang dilakukan. Semakin sehat pasien dan sedikit prosedur yang dilakukan, semakin kecil bengkak yang dialami.

"Namun, jika gaya hidup pasien tidak sehat dan kondisi fisik tidak prima, prosedur kecil saja bisa menimbulkan bengkak yang cukup parah," imbuh dokter yang berpraktik di Rumah Sakit Pondok Indah dan The Clinic Beautylosophy, Jakarta ini.

Selain bengkak, sedot lemak juga bisa menimbulkan efek samping lain, seperti perdarahan, terganggunya fungsi pembuluh darah, hingga gagal jantung jika pasien tidak dalam kondisi fisik yang prima. Oleh karenanya, ada beberapa orang dengan kondisi fisik tertentu yang dilarang melakukan sedot lemak.

"Orang dengan penyakit jantung, diabetes, hipertensi, darah rendah, HIV/AIDS, kelainan darah, sakit lever, ginjal, juga yang usianya sudah sangat sepuh tidak boleh. Kalau memang masih ingin melakukan ya bisa dengan alternatif lain, seperti tanam benang yang jauh lebih aman," terangnya.

 

Pilih yang kompeten

Bukan hanya sedot lemak yang bisa memperbaiki penampilan. Banyak metode bedah plastik lainnya yang juga efektif, aman, untuk mempercantik wajah serta memperindah bentuk tubuh, seperti tanam benang, suntik botox, suntik filler, transfer lemak, serta bedah rekonstruksi bagian-bagian wajah serta tubuh tertentu.

Menurutnya, bedah plastik menjadi populer karena masyarakat Indonesia umumnya memilih jalan instan untuk menjadi cantik. Ditambah lagi dengan fenomena gaya hidup kalangan menengah ke atas yang mengadopsi gaya hidup orang barat dan keinginan untuk eksis di media sosial.

"Banyak sekali yang populer, dari sekadar membuat hidung mancung sampai transfer lemak. Transfer lemak, misalnya, memindah lemak dari paha ke bokong supaya lebih menarik, atau ke payudara. Umumnya semua bedah plastik aman asalkan memang terlebih dulu dilakukan pemeriksaan dan pasien tidak memiliki penyakit-penyakit yang membuatnya tak boleh menjalani bedah plastik," kata Danu.

Ia mengingatkan saat pasien ingin menjalani bedah plastik, sebaiknya memilih dokter serta klinik atau rumah sakit yang terbukti kompeten. Karena itu, meski hanya untuk tujuan estetika, prosedur bedah plastik tetaplah prosedur bedah yang memerlukan keahlian khusus di bidang medis.

Danu pun sedikit membagikan tantangan yang sering ia hadapi dalam hal menangani bedah plastik. "Seringnya, antara keinginan pasien dengan anjuran dokter itu tidak ketemu. Dokter pasti menyarankan dulu kalau ingin ada yang diubah, ada aturannya, komposisinya yang seimbang dan sesuai dari sisi estetis maupun medis. Tapi, hal itu kadang tidak disukai oleh pasien. Pasien punya keinginan sendiri yang dari sisi medis tidak baik. Kalau seperti itu, biasanya saya sarankan cari dokter lain," ungkapnya. (H-2)

BERITA TERKAIT