Teknologi Canggih Tingkatkan Keberhasilan Bayi Tabung


Penulis: Eni Kartinah - 03 October 2018, 10:05 WIB
THINKSTOCK
THINKSTOCK

DI antara berbagai metode mengatasi masalah ketidaksuburan (infertilitas) pasangan suami istri, bayi tabung (in vitro fertilisation/IVF) memiliki angka keberhasilan tertinggi, mencapai 40%-50%. Terlebih, dengan penerapan teknologi terkini yang mampu mengatasi kasus-kasus infertilitas dengan tingkat kesulitan tinggi.

Apa saja teknologi canggih itu? Direktur Medis Klinik Bayi Tabung Morula IVF Indonesia, dr Ivan Sini SpOG, menjelaskan beberapa di antaranya. Pertama, teknologi pengambilan sperma langsung dari tempat produksinya, yakni testis. Teknologi ini, terang Ivan, menjadi solusi atas permasalahan azoospermia pada suami.

"Pada pria dengan azoospermia, cairan ejakulasinya tidak mengandung sperma.

Sehingga sperma harus diambil langsung dari testis dengan metode PESA (Percutaneous Epididymal Sperm Aspiration) atau TESA (Testicular Sperm Aspiration) menggunakan jarum khusus," jelas Ivan pada gelaran Fertility Science Week di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Kemudian, teknologi canggih berikutnya ialah Intracytoplasmic Sperm Injection (ICSI). Teknologi ini dilakukan untuk membantu pembuahan (penyatuan sel telur dan sperma). Caranya, satu sel sperma disuntikkan langsung ke dalam sel telur.

"Berbeda dengan cara konvensional yang menyampurkan satu sel telur dengan sejumlah sperma dalam wadah khusus, dengan ICSI pembuahan lebih mudah terjadi," urainya.

Selanjutnya, yang lebih maju dari ICSI ialah Intracytoplasmic morphologically selected sperm injection (IMSI). Teknologi ini serupa ICSI. Hanya saja, sebelumnya dilakukan pemilihan sel sperma terbaik secara lebih teliti menggunakan mikroskop khusus yang bisa memperbesar penampakan sel sperma hingga 6.000 kali.

"Dengan IMSI, kecacatan bentuk pada sperma bisa terdeteksi. Biasanya, sel sperma yang bentuknya tidak sempurna akan berakibat pada gagalnya program bayi tabung.

Dengan IMSI, kita bisa menghindarinya," jelas Ivan yang juga dokter spesialis kandungan dan kebidanan itu.

Inkubator VIP

Teknologi maju lainnya ialah Time Lapse Incubator. Di Morula IVF Indonesia, disebut juga sebagai VIP Incubator. Yakni, inkubator khusus yang menjadi tempat berkembangnya embrio hasil pembuahan, seperti fungsi rahim. Istimewanya, inkubator ini bermanfaat untuk memantau perkembangan/pembelahan embrio tanpa harus bolak balik membawa embrio tersebut ke bawah mikroskop.

Dengan demikian, tingkat 'stres' pada embrio bisa diminimalkan karena embrio tidak mengalami perubahan suhu dan pH (tingkat keasaman) berulang kali.

"Dengan Time Lapse Incubator, selain dapat melihat perkembangan embrio secara real time tanpa buka tutup inkubator, kita juga dapat menilai morfokinetik atau pembelahan sel setiap embrioa. Embrio yang terbaik ialah embrio yang memiliki morfologi bagus dan morfokinetik yang sesuai dengan ideal time pembelahannya.

Dengan VIP inkubator ini kita bisa memilih embrio terbaik untuk ditanam di rahim berdasarkan kriteria tersebut," terang embriologist dari Klinik Morula IVF Jakarta, Muhammad Rizal, pada kesempatan sama.

Pemeriksaan kromosom

Selanjutnya, ada teknologi Assisted Hatching (AH). Yakni, teknik untuk membantu embrio ke luar (menetas) dari lapisan protein yang mengelilinginya (zona pelusida).

"Kadang kala, lapisan protein tersebut terlalu tebal sehingga embrio sulit menetas.

Dengan assisted hatching, zona pelusida itu disayat sedikit untuk memudahkan embrio menetas dan lebih mudah menempel ketika ditanam dalam rahim," papar Rizal.

Kemudian, teknologi lain yang sangat membantu meningkatkan keberhasilan bayi tabung ialah Pre Implatation Genetic Screening (PGS).

Yaitu, teknologi untuk memeriksa normal tidaknya kromosom embrio yang akan ditanam di rahim. Kelainan kromosom merupakan salah satu penyebab utama gagalnya program bayi tabung. Dengan PGS, kegagalan itu bisa ditekan. Lalu, ada pula teknologi pembekuan embrio dengan nitrogen cair bersuhu minus 196 derajat Celcius.

Teknologi ini bermanfaat untuk menyimpan embrio tanpa menimbulkan kerusakan hingga tiba saatnya embrio tersebut ditanam dalam rahim.

"Kadang penyiapan rahim istri butuh waktu, sehingga embrio perlu disimpan dulu sebelum ditanam.

Juga untuk menyimpan embrio sisa untuk program bayi tabung berikutnya.

Teknologi ini juga bisa untuk menyimpan sperma maupun sel telur untuk suatu waktu digunakan dalam program bayi tabung," terang Rizal.

Dokter Ivan Sini menambahkan, keseluruhan teknologi itu membantu meningkatkan keberhasilan program bayi tabung, termasuk untuk pasien yang pernah mengalami kegagalan dalam proses bayi tabung.

"Kegagalan memang menimbulkan trauma, itu wajar.

Tapi saya sarankan, jangan langsung menyerah, coba lagi. Tim dokter pasti akan menganalisis faktor apa yang menjadi penyebab kegagalan untuk kemudian diatasi, antara lain dengan penerapan teknolog-teknologi maju tersebut," pungkas Ivan. (OL-1)

BERITA TERKAIT