Mental Pandawa


Penulis: Ono Sarwono - 07 October 2018, 04:30 WIB

DALAM cerita wayang tidak ada kisah kemanusiaan yang menggiriskan selain yang pernah dialami Pandawa. Kelima kesatria ini hampir selama hidupnya dihujani ujian yang mengancam jiwa. Namun, Pandawa tetap survive berkat kepiawaian mereka mengatasi semua persoalan hidup.

Setiap masalah yang mendera dihadapi dengan kesabaran. Di sisi lain itu dimaknai sebagai kodrat sehingga tidak ada cara lain selain harus dihadapi degan baik. Oleh karena itu, meski terpaan hidup begitu pahit, mereka tidak pernah meresponsnya dengan perilaku asor, nista.

Itulah yang pada akhirnya mengantarkan Pandawa bukan saja bertahan hidup, melainkan juga menjadikan mereka para kesatria utama, yang tangguh dan berbudi luhur. Dengan kualitas jiwanya yang unggul itulah mereka menjadi kekasih para dewa.

Junjung nilai luhur

Pandawa ialah nama keluarga yang terdiri dari lima laki-laki, yakni Puntadewa, Werkudara, Arjuna, Nakula, dan Sadewa. Mereka putra Pandu Dewanata-Dewi Kunti/Madrim. Semuanya lahir ketika bapaknya masih berkuasa di Astina menggantikan kakek mereka, Kresna Dwipayana.

Sungguh Pandawa tidak pernah mengerti, apalagi berpikir bahwa mereka akan mengalami bencana (ujian) hidup yang luar biasa kejam dan berlangsung berulang kali. Statusnya sebagai pangeran, anak raja, menjamin hidupnya, juga masa depannya. Tapi, ternyata jalan hidup yang harus mereka lalui sangat berat.

Bencana hidup mulai mendera sejak Pandawa ditinggal Pandu dan Madrim selama-lamanya. Mereka terusir dari istana karena Kurawa, kakak sepupu, merebut kekuasaan Astina secara inkonstitusional. Sengkuni, paman Kurawa, merupakan tokoh sentral di balik tertundungnya Pandawa. Ini skenario yang telah disiapkan Sengkuni dengan rapi demi misi mengamankan kekuasaan Duryudana (Kurawa) atas Astina.

Berhari-hari, berminggu-minggu, hingga bertahun-tahun, Pandawa hidup berkelana dari satu tempat ke tempat lain. Saat itu, Pandawa belum semuanya berusia dewasa, bahkan si kembar Nakula (Tangsen) dan Sadewa (Pinten) masih kecil. Mereka hidup dalam kepapaan. Banyak rakyat yang tidak tahu bahwa mereka merupakan para putra pepundennya.

Di antara rentetan kisah upaya pembasmian Pandawa terceritakan dalam lakon Bale Sigalagala. Kurawa dengan sengaja membakar hidup-hidup Pandawa dan Kunti. Tapi, mereka lolos dari maut, selamat.

Pandawa beruntung masih didampingi sang ibu. Kunti bagaikan 'obor' yang menerangi Pandawa mengarungi kegelapan hidup. Dari awalnya yang serbaada menjadi kekurangan. Dari terhormat kemudian hidup terlunta-lunta bak wong pidak pedaraan, rakyat miskin dan terlecehkan.

Dalam menghadapi penderitaan itu, Kunti senantiasa membimbing anak-anaknya untuk sabar serta menjaga kebersihan hati dan pikiran. Mendidik putra-putranya untuk teguh berjiwa kesatria. Menjunjung tinggi nilai-nilai luhur yang diwariskan kakeknya, Begawan Abiyasa.

Menggembleng diri

Sepenggal pitutur (nasihat) Kunti yang siang-malam ditanamkan dalam sanubari kelima putranya ialah bahwa hidup ini merupakan kuasa Sanghyang Manon. Maka, haram menolak lelakon karena semua yang gumelar (terjadi) di jagat ini merupakan kehendak Ilahi.

Kunti membahasakan, 'lelakon iku adile dilakoni', yang artinya bahwa penderitaan, bencana, petaka, musibah, atau apa pun namanya itu harus dihadapi dan dijalani dengan tawakal dan legawa.

Inilah yang akhirnya membuat Pandawa merasa tidak pernah menderita atas kesengsaraan yang mendera. Pun tiada penyesalan terhadap apa yang terjadi. Mereka juga tidak ngundhat-ngundhat (memprotes) dewa terhadap nasibnya. Kondisi yang mencekik justru dijadikan semacam gelanggang menggembleng diri membangun keluhuran budi.

Untuk membangun masa depan, Pandawa memilih mendirikan negara sendiri di Hutan Wanamarta. Mereka seolah ingin melupakan kekuasaan di Astina, meskipun mereka sebagai ahli waris. Ini jalan terbaik yang mereka tempuh guna menghindari perselisihan dengan Kurawa.

Negara baru yang mereka bangun secara mandiri itu diberi nama Amarta alias Indraprastha. Negara ini kemudian kuncara akan kemakmurannya, yang gemah ripah loh jinawi, subur sarwa tinandur, murah sarwa tinuku. Negara yang kuat dan rakyatnya hidup sejahtera.

Namun, Amarta pun akhirnya dirampas Duryudana lewat permainan dadu yang penuh tipu muslihat. Bukan itu saja, atas kekalahannya, Pandawa harus menjalani hukuman pembuangan di Hutan Kamyaka. Ini lagi-lagi strategi Kurawa dalam upaya memusnahkan Pandawa.

Tapi, Pandawa tidak lenyap, justru mendapatkan keluruhannya. Itu karena setiap penderitaan yang dialami jusru dimanfaatkan sebagai medan mengasah kualitas religiositas diri. Misalnya, ketika itu Arjuna malah menjalani laku prihatin sufistis di Gunung Indrakila dengan bergelar Begawan Mintaraga alias Ciptaning.

Jadi, Pandawa tidak pernah menyerah dan selalu bangkit dari setiap mala yang menghela. Dalam perjuangan hidup, mereka menjaga kekompakan dan kesolidan. Mereka menjunjung sesanti tijitibeh, yakni mati siji mati kabeh, mukti siji mukti kabeh (mati satu mati semua, berjaya satu berjaya semua).

Makna ungkapan tersebut ialah bahwa persatuan dan kesatuan merupakan modal utama untuk menghadapi setiap ujian hidup. Dalam kearifan lokal kita, inilah yang dikenal dengan konsep gotong royong. Dengan keguyuban, bahu-membahu, betapa pun beratnya 'bencana' hidup yang dipikul akan terasa ringan dan cepat teratasi.

Bangkit bersama

Benang merah kisah ini ialah Pandawa menerima ujian (kesengsaraan) dengan apa adanya. Meski sulit, Puntadewa dan adik-adiknya mampu mengelola diri sehingga mereka tidak merasa sengsara atas kesengsaraan yang mengimpit. Inilah yang pada akhirnya menjadi mereka insan-insan tangguh, tidak bermental lembek yang gampang merengek.

Watak itulah yang menjadi fondasi mereka menjalani hidup di marcapada. Pandai menempatkan kesulitan pada tempat yang semestinya sehingga itu bukan menjadikan mereka lebur, melainkan justru membuat mereka menjadi individu-individu yang berjiwa luhur.

Poinnya ialah bahwa Pandawa tidak pernah menyerah dan selalu bangkit dari setiap mala yang menghela. Dalam konteks bencana yang menimpa negeri ini, ketangguhan mental dan kepribadian Pandawa yang seminau serta watak kegotongroyongannya ini bisa menjadi inspirasi bangsa untuk tabah, tegar, dan bangkit bersama-sama. (M-3)

BERITA TERKAIT