Puisi


Penulis: Neni Yulianti - 07 October 2018, 03:30 WIB
MI/Tiyok
MI/Tiyok

Penjual Tawa

dan Kunang-Kunang

Di telapak tanganku, ada yang telah menuliskan takdir

Kisah seorang penjual tawa dan sekelompok kunangkunang

dalam botol

Yang selalu ia bawa ke mana-mana

Untuk ditawarkan dengan selendang bidadari.

Suatu hari penjual tawa meletakkan mahkota di

kepalanya

Lalu-ditumbuhkan bunga melati di matanya

Tempat kunang-kunang berteduh dan membawa

dendam rindu

Pada ranting-ranting waktu.

Kunang-kunang pengantar tidur bermandikan cahaya

bulan

Diselipkan satu persatu dalam selendang

Berderailah senyum dari wajah pualam

Sebab pohon hikayat telah terdedah

Dari epitaf cinta yang terbelah.

Cirebon, 26 September 2018

Bulan dan Bayangan

Zha...

Izinkan aku menari dengan bulan dan bayangan

Di pucuk malam bersama selimut tebal

Di bawahnya mengalir sungai kehidupan.

Ketika matahari tercelup di kolam

Adalah separuh tubuhku hinggap di haluan dan

sisanya hilang bersama anai.

Tidak. Tidak kubiarkan hari-hari gigil

Awan menangis

Ataupun

Lidah ombak kembali menjilat pasir.

Zha... itukah kau?

Ah, ilalang masih saja gersang

Ketika tangan waktu memotong suaramu

Dari tatapan yang terbuang

Dan segalanya menjadi remang

Dalam percakapan bulan dan bayangan

Kau masih saja mengigau.

Cirebon, 13 Juli 2018

Angin September

Angin September

Menghantam langit

Biji kalender berjatuhan

Dalam kota kering.

Angin September

Menyapu sekujur tubuh

Tunas gerimis tumbuh

Dan Tuhan sedang tidak ingin

Bermain-main.

Cirebon, 26 September 2018

Setetes Embun

Jika aku mampu menangkup setetes embun pada

cangkirku

Adalah taring waktu yang semakin meruncing

Menunggu pohon awan begitu lengang

Dan jambu muda yang telah lama diperam oleh garis

tangan

Cerukannya tersesap mengikuti hulu

Berkelok

Di bawah jembatan batu

Adalah titih yang berhamburan di udara

Jika dinding jiwa lembab

Dan terkulai mati pada trembesi.

Cirebon, 9 September 2018

Mata yang Bersuara

Sungguh tak dapat kukantongi huruf-huruf

Yang jatuh dari mulutku

Saat kulihat keagungan-Mu mencipta segala warna

Dengan bait cinta paling suci

Hanya zikir kulantunkan kepada-Mu

Di sela-sela jantungku segala napas merekat dan

berakar

Menjalar di tunas kehidupan

Tunduk dan merenung:

"Maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?"

Cirebon, 26 September 2018

Hidup

Di tubuhnya sungai terbaring

Bersama angin menghitung usia kian merambat

Di antara rimbunan puisi-tak pernah mati

Hidup pada akar hayat, sekedar pengelana

Sejenak singgah dan khusuk pada kembara

Menunggu pagi terbit

Juga senja berwarna saga

Saling membagikan potongan kisah

Dalam cangkir tualang paling tabah.

Cirebon, 25 September 2018

Tumbuh

Ada yang tumbuh di kepalamu

Di pangkal malam setia menemani tidurmu

Ia tak bersuara

Mengelilingi hari yang kian berdenyut

Hinggap dan enggan menanggalkan semua yang

didendangkan rembulan.

Ada yang tumbuh di jantungmu

Berdetak

Mengikuti darah yang berjalan di suatu pagi dengan

banyak tanya

"Apakah Tuhan sudah menghidupkan semua pohon di

tubuh?"

Ada yang tumbuh di matamu

Sebiru laut

Merentangkan semua lanskap

Yang disediakan Tuhan

Lindap di kantung hari yang dikeringkan matahari.

Ada yang tumbuh di kakimu

Berjalan mengikuti desir angin

Terkadang pincang

Hanya mengandalkan awan.

Semua yang tumbuh di tubuhmu

Adalah rumah

Tempat segala tubuhku bermukim

Pada serbuk cahaya yang dikirimkan

Tuhan di segala musim.

Cirebon, 13 September 2018

Neni Yulianti, lahir dan dibesarkan di Kota Cirebon.

Anggota komunitas Dapur Sastra Jakarta (DSJ) dan

Forum Lingkar Pena (FLP) Jawa Barat. Beberapa karyanya

telah masuk dalam antologi buku tunggal Sang

Sajak Tepi dan antologi bersama penyair Nusantara di

antaranya (Hikayat Secangkir Robusta) Krakatau Award

2017 Provinsi Lampung, (Kunanti di Kampar Kiri) HPI

Provinsi Riau 2018, (Gema Membelah Gema) GAPENA

KE-20 Malaysia, dan (Epitaf Kota Hujan) Temu Penyair

Asia Tenggara Padang Panjang 2018.

BERITA TERKAIT