Melawan Hipokriditas


Penulis: Lasarus Jehamat Dosen Sosiologi Fisip Undana Kupang - 05 October 2018, 00:45 WIB
thinkstock
thinkstock

SEMBARI menggagas berbagai ide untuk mengatasi bencana gempa dan tsunami di Palu, Sigi, Donggala, dan beberapa daerah lain, sedikit perhatian kita diarahkan ke fenomena pembohongan publik. Ratna Sarumpaet (RS) menjadi tokoh yang paling disebut berada di balik fenomena itu. Disebut bukan karena kehebatan RS mengadvokasi masyarakat yang haknya dirampas. Fenomenal bukan karena pernyataan politik sarkastis yang keluar dari mulut RS.

RS menjadi ‘nyentrik’ justru karena kebohongannya. Kebohongannya kemudian menarik masuk banyak orang untuk berspekulasi dengan beragam kepentingan (Media Indonesia, 3/10).

Di media massa, RS mengatakan orang yang tak dikenal telah memukulnya sampai babak belur. Itu pulalah yang menyebabkan muka RS jadi tak beraturan. Belakangan diakui bahwa yang diucapkannya tidak benar. Mukanya berantakan seperti itu karena operasi plastik.
Elemen prodemokrasi menyalak sembari membela RS saat itu. RS dibela karena kekerasan tidak bisa dibenarkan dengan alasan apa pun. Perbedaan politik jangan sampai mencederai pihak lain. Lurus dan memang seharusnya demikian.

Problem menjadi lain ketika yang disampaikan RS ternyata bohong. Omongan RS berisi bualan, memproduksi isu dan gosip lain. Hipokriditas harus disebut di sini. Disebut karena selain melakukan tindakan pembohongan, RS telah menyebabkan persaudaraan bangsa ini hancur.

Saat energi bangsa dan negara ini dikerahkan untuk menangani dan menyelesaikan masalah gempa bumi di Palu, Sigi, dan Donggala, RS masih berkesempatan menarik perhatian publik. Sebuah hipokriditas akut tengah terjadi di ruang kebangsaan RI. Memilukan dan sungguh memalukan.

Beberapa hal bisa dipetik dari kasus itu. Pertama, kebohongan, apa pun bentuknya, merupakan penyakit. Kedua, elite atau tokoh gerakan sekaliber RS pun ternyata bisa melakukan pembohongan. Ketiga, kalau dihubungkan dengan politik, kebohongan seperti itu akan semakin mempertegas realitas bahwa politik ternyata berisi beragam kebohongan. Keempat, kejujuran untuk mengakui kesalahan dan kebohongan menjadi pelajaran positif dari kasus RS.

Hipokriditas
Fenomena masyarakat modern ditandai sebuah gejala yang disebut hipokrit. Hipokrit ialah fenomena ketidakjujuran dan kebohongan dalam berbagai bentuk. Berkembangnya fenomena itu disebabkan masyarakat kehilangan nilai sebagai basis relasi sosialnya.
Jika ditarik masuk ke kanal politik, fenomena hipokriditas menjadi gejala lain dari perkembangan politik modern. David Runciman (2008) menulis dengan amat jitu tentang fenomena kemunafikan di ruang politik liberal. Menurut Runciman, meski tidak menarik, fenomena kemunafikan menjadi ciri utama praktik politik di semua level. Meski sulit diidentifikasi, kemunafikan selalu muncul dalam banyak bentuk.

Telah banyak ahli yang mendiskusikan kemunafikan. Runciman mencatat, orang sekaliber Thomas Hobbes sampai George Orwell pernah mendiskusikan masalah itu. Semua ahli sampai pada kesimpulan, hipokrit ada dan berimplikasi buruk bagi perkembangan sosial dan politik.

Runciman mengatakan, salah satu gejala yang tampak jelas di ruang liberalisasi politik sekarang ini ialah politik hipokrit. Di sana, para politisi akan menggunakan topeng politik untuk menyembunyikan wajah asli. Topeng politik sama dengan panggung depan sebagaimana dijelaskan Goffman.

Hipokriditas politik ditunjukkan dalam beberapa bentuk. Misalnya, kampanye hitam, bualan politik; gap antara kata dan tindak selama ini. Tujuannya agar politisi mendapatkan popularitas dan elektabilitas politik. Kekuasaan ialah muara akhir.

Karena realitasnya demikian, Catherine Weaver (2008) menyebut jebakan hipokrisi untuk menjelaskan maraknya fenomena kemunafikan di masyarakat. Dalam Hypocrisy Trap: The World Bank and the Poverty of Reform, Weaver mengatakan, hipokriditas muncul ketika yang disampaikan di mulut berbeda dan bertolak belakang dengan praktiknya di masyarakat.

Yang menjadi fokus jebakan ialah ketika sistem internal ideologi, nilai, norma, dan cara menafsirkan dunia dibuat kabur banyak pihak. Tujuannya agar orang itu dianggap sebagai manusia super.

Hipokriditas Ratna
Fenomena kebohongan RS, hemat saya hanya dapat dijelaskan sejauh memahami konflik internal dalam diri RS di satu sisi, dengan pertarungan politik menjelang kontestasi 2019 di sisi lain.
Bagi saya, perilaku seperti itu muncul bisa karena disposisi mental RS.

Membaca kebohongan RS, sulit untuk tidak dikaitkan dengan politik. Sebab, selama ini, RS memang menjadi salah satu ujung tombak tim Prabowo-Sandiaga Uno. Seperti telah dijelaskan di atas, kebohongan RS telah menarik banyak elite politik ‘nimbrung’ di dalamnya.
Kebohongan RS berdampak pada terbelahnya masyarakat ke dalam dua kelompok besar. Ketika dihubungkan dengan politik, beragam prasangka muncul di mana-mana. Hujat dan serang, tuduh-menuduh, dan olok-mengolok merupakan dampak ikutan yang muncul karena hipokriditas RS.

Hipokriditas RS berdampak pada melemahnya ikatan sosial masyarakat RI. Sebuah model pelemahan bangsa yang sangat sistematis.

Sulit dibayangkan. Sebab, banyak orang hampir percaya dan mengutuk keras pelaku kekerasan. Sesaat, hampir semua yang mengaku diri pejuang demokrasi berteriak dan meminta aparat keamanan mengamankan dan memproses oknum yang terlibat ‘kasus penganiayaan RS’. Wajar memang. Sebab, semua sepakat, kekerasan hampir tidak ada tempat di RI.

Indonesia tengah berduka. Saudara-saudara di Palu, Sigi, dan Donggala sedang tertimpa musibah. Di titik yang lain, suasana politik nasional memang panas. Hanya, jika kita yang melek ilmu dan cakap politik mau dan suka berbohong, bangsa ini mau dibawa ke mana?
Hipokriditas harus dilawan. Dibutuhkan kekuatan bersama di sana. Jika solidaritas semua anak bangsa diarahkan menghadapi bencana gempa, kekuatan yang sama diperlukan melawan hipokriditas.

 

BERITA TERKAIT