Serius Tangani Guru, Indonesia Raih Penghargaan UNESCO


Penulis: Ghani Nurcahyadi - 03 October 2018, 08:00 WIB
ANTARA FOTO/Siswowidodo
ANTARA FOTO/Siswowidodo

UNTUK pertama kalinya Indonesia merayakan Hari Guru Sedunia yang diperingati tiap tanggal 5 Oktober yang menandai ditandatanganinya rekomendasi 2 badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Organisasi Buruh Dunia dan Organisasi PBB untuk Pendidikan, Sosial, Budaya (ILO/UNESCO) tentang status buruh.

Perayaan tersebut ditandai dengan diselenggarakannya Lokakarya Nasional bertema Hak atas Pendidikan berarti Hak untuk Guru dan Tenaga Kependidikan Berkualitas oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bekerja sama dengan Komisi Nasional Untuk Indonesia untuk UNSSCO dan Kantor Perwakilan UNESCO Jakarta di kompleks Kemdikbud, Selasa (2/10).

Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemdikbud Supriano mengatakan Lokakarya itu dihadiri lebih dari 350 peserta yang terdiri atas guru dan tenaga kependidikan, kementerian dan lembaga, perwakilan badan PBB, universitas, masyarakat sipil, sekolah, dan lembaga internasional.

Perayaan perdana Hari Guru Sedunia di Indonesia juga menjadi momen spesial karena Indonesia menjadi salah satu penerima anugerah edisi ke-5 penghargaan UNESCO-Hamdan bin Rashid Al-Maktoum untuk Praktik Luar Biasa dan Kinerja dalam Meningkatkan Efektivitas Guru.

Penghargaan itu nantinya akan diserahkan langsung oleh Direktur Jenderal UNESCO kepada Kemdikbud pada 5 Oktober mendatang di kantor pusat UNESCO di Paris, Prancis. Head of Education UNESCO Jakarta Mee Young Choi mengatakan, selain Indonesia negara lain yang menerima penghargaan serupa tahun ini adalah Cile, Inggris, dan irlandia Utara.

"Lewat peringatan Hari Guru Sedunia kami ingin mengingatkan komunitas global bahwa hak atas pendidikan tidak akan tercapai tanpa adanya guru yang berkualitas. Dalam Sasaran Pembangun Berkelanjutan (SDG), pendidikan adalah salah satu poin, ini jadi salah satu tantangan bagi guru sebagai profesi," kata Choi.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy yang membuka Lokakarya tersebut menegaskan peringatan Hari Guru Sedunia sebagai bagian dari penghargaan terhadap guru yang dalam istilah sosiologi diistilahkan sebagai akar rumput dari pendidikan, sehingga kualitas seorang guru menentukan kualitas pendidikan.

Soal guru berkualitas, lanjut Muhadjir, harus dibangun dahulu kesejahteraan bagi guru dan membuat status guru menjadi sebuah kebanggaan personal agar guru makin percay a diri menghadapi anak didiknya hingga mampu memberikan pembelajaran yang baik.

"Pengertian guru pembelajad itu ialah bagaiman seorang guru terus mengembangkan kemampuan profesionalnya sehingga mampu menggerakkan peserta didiknya menjadi lebih baik," kata Muhadjir seraya mengapreasisi penghargaan yang diberikan UNESCO pada Indonesia. (X10-25)

 

BERITA TERKAIT