Diet Sehat Melalui Pemeriksaan Gen


Penulis: Gnr/ S1-25 - 26 September 2018, 05:00 WIB
thinkstock
thinkstock

MEMILIKI massa tubuh yang proporsional menjadi impian setiap orang, baik pria maupun wanita. Tak jarang, program diet pun menjadi andalan untuk bisa mendapatkan tubuh yang proporsional.

Berbagai macam program diet pun kini marak dilakukan masyarakat. Di antaranya diet rendah karbohidrat, diet tinggi protein, dan diet tinggi lemak rendah karbohidrat. Namun, hasil yang didapat setiap orang yang melakukan program tersebut berbeda-beda, bahkan ada yang gagal meski sudah menjalani program diet secara ketat dan sesuai dengan anjuran dalam menjalani program diet tersebut.

Merujuk fakta tersebut , sejumlah penelitian soal diet pun terus digencarkan. Salah satunya ialah nutrigenomic atau program diet yang disesuaikan berdasarkan karakteristik gen seseorang. Lewat penelitian tersebut didapatkan hasil bahwa faktor genetik turut memengaruhi keberhasilan program diet seseorang. Pada dasarnya, manusia punya struktur DNA yang 99,9% sama, hanya 0,1% saja yang berbeda tiap individu yang kemudian dinamakan variasi genetika.

Kondisi tersebut berasal dari kombinasi unik DNA orangtua. Dr Andika Widyatama, General Practitioner di Brawijaya Clinic Kemang, mengatakan, setiap orang memiliki variasi genetika yang berbeda. Hal ini dianggap berpengaruh terhadap kemampuan tubuh dalam memetabolisme suatu makanan dan exercise.

Karena itulah, diet berbasis hasil pemeriksaan genetik diyakini dapat mendukung keberhasilan diet. “Perlu diketahui bahwa satu metode diet belum tentu cocok untuk dijalankan oleh setiap orang. Kondisi tersebut bisa dipengaruhi oleh banyak elemen di dalam tubuh setiap individu, salah satunya genetik/ DNA.

Dewasa ini, penelitian membuktikan bahwa penentuan metode diet yang tepat untuk seseorang dapat bergantung pada genetiknya,” kata Andika di laman klikdokter.com. Ilmu nutrigenomic muncul setelah makin maraknya kematian akibat penyakit tidak menular di antaranya obesitas, diabetes, hipertensi, dan penyakit kardiovaskular. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2014 menunjukkan, penyakit tidak menular tersebut menyumbang 75% dari total kematian yang terjadi di dunia.

Meski demikian, dr. Andika menegaskan, ilmu nutrigenomic saat ini masih terus dikembangkan lewat sejumlah penelitian untuk terus disempurnakan. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa begitu kompleksnya ilmu nutrigenomic. Belum lagi faktor genetik dapat dipengaruhi hal-hal di luar tubuh. Karena itu, masih perlu penelitian lebih lanjut terkait dengan nutrigenomic.

Namun, tetap dapat dipercaya bahwa dalam level molekuler, nutrisi dipercaya bisa menjadi sinyal yang memengaruhi gen, protein, dan hasil metabolisme. Program individual hasil dari studi nutrigenomic pada seseorang akan memunculkan pola diet individual menyangkut nutrisi yang harus dikonsumsi untuk mendapatkan kondisi tubuh yang ideal. Selain itu, dapat dilihat pola olahraga dan suplemen tambahan serta pola pengelolaan psikis yang menjadi faktor penentu berikutnya dalam menghadirkan tubuh yang proporsional.

Dari sisi kebutuhan nutrisi, dapat ditentukan jumlah kalori dan karbohidrat yang perlu dikonsumsi. Pun demikian dengan porsi protein dan lemak serta vitamin dan mineral juga dapat disesuaikan dengan hasil pemeriksaan gen tersebut. Di sisi lain, variasi dari gen ikut juga memengaruhi respons seseorang terhadap komponen tertentu dalam makanan, misalnya, kafein yang banyak terdapat dalam kopi, teh maupun coklat. Pasalnya, toleransi seseorang terhadap kadar kafein dalam tubuhnya berbedabeda.

Ada yang mengakibatkan jantung berdebar walau hanya sedikit mengonsumsi kafein, ada pula sebaliknya. Pemeriksaan nutrigenomic dimulai lewat pengambilan sampel dari air liur yang kemudian akan didapat profil DNA seseorang dan efeknya terhadap zat gizi tertentu. Sesudah hasilnya keluar, penentuan diet serta program kebugaran lain disesuaikan dengan hasil pemeriksaan gen tersebut. “Metode diet yang dijalankan dengan sesuai, tidak hanya dapat memperlancar harapan untuk memiliki tubuh yang ideal, tetapi juga bermanfaat untuk mencegah penyakit bersarang di tubuh,” ujar dr. Andika.


NutriGen-Me

Di Indonesia salah satu penyedia layanan pemeriksaan nutrigenomic ialah PT. Bifarma Adiluhung, a Kalbe Farma Company . Caranya mudah, hanya memakai sampel air liur (saliva) dengan sebelumnya melakukan puasa 30 -60 menit, tidak makan dan minum, tidak sedang sariawan / gusi berdarah / batuk berdahak.  

Hasilnya didapat dalam kurun waktu 4-6 minggu. Pembacaan hasil dilakukan oleh dokter specialis gizi klinik untuk menentukan rencana nutrisi (meal plan) dan olahraga yang tepat bagi pasien. Dari hasil tes nutrigenomic tersebut setidaknya akan terlihat 7 pola kesehatan tubuh.

Hal itu meliputi metabolisme nutrisi, kesehatan kardiometabolik, pengaturan berat badan, intoleransi makanan, kebiasaan makan, aktivitas fisik, dan risiko cedera. Dari 7 pola tersebut kemudian disusun program nutrisi & kebugaran yang bukan hanya terkait dengan kesehatan tubuh, melainkan juga pikiran.

Setelah mendapatkan hasil test nutrigenomic ini, dapat dilanjutkan dengan Program Wellness. Penyusunan program kebugaran dimulai dari tahap screening dan penetapan tujuan program. Setelah itu berlanjut pada tahap penetapan dan implementasi program yang meliputi 4 aspek, yaitu makanan (food), olahraga (exercise), nutrisi/suplemen (nutraceutical), dan manajemen stress (stress reduction) atau biasa disebut FENuS.

Selama program berlangsung, proses edukasi pasien lewat pemantauan dan konsultasi dokter serta info kesehatan digital juga ikut berlangsung. Tahap terakhir dalam program tersebut ialah penilaian akhir. Diharapkan pasien yang mengikuti program tersebut akan mendapatkan tubuh yang sehat dan kuat, serta kondisi psikologis yang baik.
 

BERITA TERKAIT