Atasi Rewel Anak Jangan Berikan Gawai


Penulis: (H-2) - 19 September 2018, 01:15 WIB
THINKSTOCK
THINKSTOCK

ALVARO baru bisa menyebut kata papa dan mama saat berusia 3 tahun. Padahal, kakaknya dulu sudah mulai memanggil papa dan mama saat masih di usia setahun.

“Emang sih, saya lebih sibuk karena harus ngurusi dua anak. Jadinya, saya kasih anak saya itu gadget aja untuk nonton Youtube biar gak rewel,” ujar Ruth, ibunda Alvaro.

Lain halnya dengan Yen Cen, ibu dari Mykkha yang berusia 4 tahun. Menurutnya, bila sedang bermain gadget, sang anak sering tidak merespons saat dipanggil.

“Kalau disuruh berhenti susah banget, kadang bisa sampe marah. Penggunaan gadget juga ternyata membentuk karakter anak menjadi temperamental,” kata Yen Cen.

Apa yang dialami Ruth dan Yen Cen juga dialami banyak orangtua. Sebabnya, penggunaan gadget kepada anak-anak saat ini sudah  memprihatinkan. Bahkan, tak sedikit anak yang kecanduan gadget.

Hal ini tak terlepas dari peran orangtua dalam mengasuh anak-anak mereka.Menurut dr Surilena SpKJ(K), psikiatri anak di RS Atma Jaya Jakarta, pemberian gadget dengan tujuan agar anak tak rewel dan memudahkan aktivitas orangtua bukanlah pilihan yang bijak.

“Orangtua sebaiknya memberikan kebebasan kepada anak untuk  mengeksplorasi lingkungannya. Biarkan saja berantakan karena melalui hal itu anak dapat belajar dan merangsang kemampuan motorik dan sensorisnya. Orangtua dapat tetap membimbing dan mengawasi,” ujarnya di Jakarta beberapa waktu lalu.

Penggunaan gadget secara berlebihan dan dalam jangka panjang, lanjut Surilena, dapat menurunkan kemampuan anak dalam berinteraksi, menimbulkan adiksi terhadap gadget, serta depresi.

“Penggunaan gadget juga dapat memengaruhi kemandirian dan kedisiplinan anak yang pada akhirnya akan memengaruhi proses belajar serta tingkat kefokusannya,” tambahnya.

Untuk mengatasi anak yang sudah kecanduan gadget, Surilena meminta para orangtua agar bekerja sama dengan anak. Orangtua perlu mengubah pola asuh, misalnya, membuat komitmen bersama untuk membatasi penggunaan gadget, mengajak anak aktif bermain bersama di luar rumah sehingga mereka dapat belajar bagaimana berinteraksi dengan orang lain dan lingkungan sekitar.

"Selain itu, dapat mengganti gadget dengan media belajar lain, seperti buku bergambar, puzzle, dan berbagai permainan interaktif lainnya yang dapat merangsang kemampuan sensoris dan motorik anak."

Surilena mengakui, di era digital ini, para orangtua cenderung menggunakan pola asuh praktis. Salah satu contohnya ialah ketika anak sedang rewel, tanpa berpikir panjang orangtua langsung menyodorkan gadget kepada si kecil. Bak pedang bermata dua, keberadaan gadget memberikan dampak positif sekaligus negatif pada anak.

Sementara itu, menurut Journal of Depression and Anxiety berjudul The Impact of using Gadgets on Children karya Sundus, salah satu dampak negatif penggunaan gadget ialah menghambat kemampuan si kecil untuk berbicara.

 

BERITA TERKAIT