Masih Kemarau, Petani di Selatan Sukabumi belum Berani Tanam Padi


Penulis: Benny Bastiandy - 16 September 2018, 22:15 WIB
ANTARA FOTO/Budiyanto
ANTARA FOTO/Budiyanto

SEJUMLAH petani di wilayah selatan Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, belum berani berspekulasi menanam padi meskipun di sela musim kemarau sekarang terkadang turun hujan. Saat ini mereka lebih memilih membersihkan lahan sawah mereka sebagai antisipasi segera turunnya hujan.

"Iya, sampai saat ini masih masuk kemarau. Beberapa hari lalu sempat ada gerimis, belum ada intensitas hujan yang besar," terang Ketua Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kecamatan Surade, Sahlan, saat dihubungi Media Indonesia, Minggu (16/9).

Mayoritas lahan sawah di wilayah tersebut merupakan tadah hujan. Selama memasuki kemarau yang bersamaan dengan musim tanam ketiga, hanya sebagian kecil dari para petani di selatan Sukabumi yang memilih memanam palawija.

"Untuk sawah belum ada pergerakan. Jadi, sampai saat ini padi belum tanam. Palawija juga baru tahap persiapan. Paling ada sedikit yang panen semangka. Tapi sekarang sudah mulai habis," bebernya.

Mayoritas petani di Kecamatan Surade sekarang memilih membersihkan lahan sawah mereka yang mengering. Harapannya, hujan segera turun dalam waktu dekat sehingga nanti tinggal mengolah lahan.

"Kami sedang siap siaga menyongsong datangnya hujan. Saat ini sedang land clearing. Semoga hujan segera turun sehingga kami bisa melaksanakan tanam padi," jelasnya.

Saat ini para petani masih menyimpan stok gabah mereka di gudang. Mereka belum berani menjual meskipun sekarang harganya di kisaran Rp5 ribu per kg.

"Kalau gabah masih belum ke luar gudang. Harga gabah kering giling sudah di kisaran Rp5 ribu per kg," bebernya.

Sahlan mengatakan mayoritas petani di masih memilih menjual gabah hasil panen ke tengkulak. Perbedaan harga menjadi alasan para petani ogah menjual gabah ke Bulog.

"Kebanyakan petani di sini (selatan) memang masih pilih jual gabah ke tengkulak karena harganya di atas Bulog. Sekarang GKG di kisaran Rp5 ribu. Kalau menjual ke Bulog berdasarkan HPP sekitar Rp3.700 per kg," kata dia.

Harga GKG di kisaran Rp5 ribu hasil kalkulasi para petani sudah menguntungkan. Mereka sudah bisa mendapatkan keuntungan karena biaya produksi bisa tertutupi.

"Pas lah kalau gabah dihargai Rp5 ribu per kg. Petani sudah bisa mendapatkan keuntungan," tandasnya. (OL-3)

BERITA TERKAIT