Cakupan Imunisasi MR yang tidak Merata dapat Sebabkan KLB


Penulis:  Indriyani Astuti - 16 September 2018, 20:30 WIB
MI/PALCE AMALO
MI/PALCE AMALO

ANGGOTA satuan tugas (satgas) imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Professor Soejatmiko menegaskan cakupan imunisasi measles dan rubella (MR) yang rendah dapat menimbulkan timbulnya wabah campak dan rubella. Wabah dapat menyerang kelompok rentan seperti ibu hamil dan anak-anak.

Dijelaskan Soejatmiko, ibu hamil yang terinfeksi rubella, berisiko melahirkan bayi yang mengalami cacat bawaan meliputi kelainan jantung, buta karena katarak, tuli, dan fungsi otaknyanya terganggu.

"Pengobatannya sulit dan mengabiskan biaya yang mahal," ujar Soejatmiko.

Ibu hamil, imbuh Soejatmiko, tidak boleh diberikan vaksin hidup. Oleh karena itu, imunisasi pada bayi dan anak-anak dianggap merupakan cara terbaik dalam mencegah wabah campak dan rubella.  

Sebab, penularan terbanyak terjadi pada bayi dan anak-anak. Imunisasi diberikan minimal tiga kali pada umur 9 bulan, 2 tahun, hingga sekolah dasar kelas 1.

"Saat ini imunisasi wajib oleh pemerintah tanpa melihat status imunisasi sebelumnya," imbuhnya.

Ia menegaskan kampanye imunisasi MR dengan cakupan minimal 95% dilaksanakan untuk menghindari terjadinya kejadian luar biasa (KLB)  campak.

KLB dapat terjadi apabila cakupan imunisasi tidak merata dan tidak  dilaksanakan secara serentak. Sehingga menyebabkan penyebaran penyakit tetap terjadi.

Beberapa waktu lalu, dilaporkan kasus campak yang menyerang  49 orang santri di pesantren di Kota Banjarbaru, Provinsi Kalimantan Selatan. Mereka positif terserang campak.

"Mereka terserang campak, bukan rubella," ujar Direktur Jenderal Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Anung Sugihantono ketika dikonfirmasi.

Laporan tersebut, ujar Anung, telah ditangani oleh dinas kesehatan setempat dan para santri telah dikarantina sementara hingga sembuh agar tidak meluas.

Beban Pengobatan

Beban biaya yang dikeluarkan untuk perawatan anak yang terlanjur mengalami kongenital sindrom atau cacat bawaan karena virus campak atau rubella, sangat besar.

Ketua Umum IDAI Aman Bhakti Pulungan mengatakan  kerugian ekonomi yang ditimbulkan apabila seseorang terkena campak tanpa komplikasi lebih kurang memakan biaya 2,7 juta rupiah per kasusnya.

Sedangkan anak yang menderita cacat bawaan seperti kebocoran jantung, buta karena katarak dan tuli karena ibunya terkena campak atau rubella saat hamil, biaya pengobatan dapat  menghabiskan  ratusan juta rupiah. Sebab ia tidak hanya berobat pada satu dokter spesialis saja. (OL-2)

BERITA TERKAIT