Capaian Imunisasi MR di Sumbar Masih Rendah


Penulis: Yose Hendra - 16 September 2018, 17:30 WIB
ANTARA/Olha Mulalinda
ANTARA/Olha Mulalinda

CAPAIAN Imunisasi Measles dan Rubella (MR) di Sumatra Barat (Sumbar) masih sangat rendah di tingkat nasional.

Kepala Dinas Kesehatan Sumbar Merry Yuliesday mengatakan, dari 20 provinsi yang terlibat dalam kampanye Imunisasi MR di Indonesia,  Sumbar berada pada pada posisi empat paling buncit dengan capaian 21,11%.

Sumbar sedikit di atas Nusa Tenggara Barat (NTB) dengan capaian 20,37%, Riau 18,92% dan Aceh paling buncit dengan capaian 4,94%. Sementara capaian tertinggi dimiliki Papua Barat dengan 84,22%.

"Kita sudah optimal bekerja di lapangan, seperti mengampanyekan Imunisasi MR. Bahkan kini telah memasuki tahap II pada September," ujarnya, Minggu (16/9).

Ia menjelaskan untuk capaian per daerah, Mentawai masih mendominasi dengan 66,93%. Namun hal itu juga belum mencapai target yang dipatok sebesar 75,62% per 12 September itu. Sementara Kota Bukittinggi masih paling rendah dalam capaian MR 6,69%.

Pihaknya berharap orangtua segera melakukan vaksinasi dan mendatangi posko yang ada di kelurahan maupun nagari.

Sebab, sebutnya, ini sebagai pencegahan dari campak dan rubella.

Sebelumnya, sejumlah anak-anak di kawasan Sumbar terjangkit  campak dan rubella.

Berhubung itu, pejabat serta tokoh masyarakat mengimbau anak-anak diberi imunisasi vaksin MR.

Dinas Kesehatan Kota Padang mengatakan penelusuran awal September, ditemukan sebanyak 8 anak-anak di Kota Padang terjangkit campak dan rubella.

Dampaknya, beberapa di antaranya mengalami gangguan pendengaran, mengidap katarak hingga gagal jantung.

Sementara Dinas Kesehatan Kota Pariaman melansir, dalam kurun waktu antara 2016 hingga 2018 telah terjadi empat kasus rubella di Pariaman.

Kasi Surveilens imunisasi Dinas Kesehatan Kota Pariaman Desi Irawati mengatakan fakta ini baru terungkap beberapa waktu terakhir karena intensnya mereka melakukan sosialisasi di tengah-tengah masyarakat tentang bahaya dan dampak rubella bagi ibu hamil terhadap janin yang dikandungnya.

Salah satu tanda bayi yang terkena CRS adalah bayi tersebut mengalami mikrosefalus yang terlihat dari lingkar kepala yang lebih kecil dari ukuran normal. Otomatis, bayi mikrosefalus memiliki volume otak yang lebih kecil sehingga mengalami keterlambatan pertumbuhan. Selain itu bayi juga berpotensi mengalami katarak dan gangguan pendengaran.

Maka itu, pihaknya mendorong agar seluruh masyarkat Pariaman mengikuti Kampanye Pencegahan Campak dan Rubella yang digelar dengan memberikan vaksin melalui injeksi secara gratis.

"Ini adalah hal yang sangat penting demi menciptakan generasi penerus yang sehat," ujarnya.

Campak dan Rubella sendiri merupakan penyakit yang sangat menular.

Sementara itu, Wali Kota Padang Mahyeldi Ansharullah mengimbau seluruh masyarakat untuk mengikuti anjuran imunisasi MR agar virus tidak menyebar.

"MR merupakan penyakit menular. Dan obatnya sampai saat ini belum ada. Satu-satunya cara melindungi anak-anak kita adalah dengan imunisasi. Untuk itu, imunisasi MR ini harus dilakukan agar virus MR tidak menyebar," terang Mahyeldi.

Sebagaimana Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor 33 Tahun 2018 tentang Penggunaan Vaksin MR (Measles Rubella) dari SII (Serum Intitute of India) untuk Imunisasi, lanjut Mahyeldi, penggunaan vaksin MR Mubah atau dibolehkan karena kondisi keterpaksaan (darurat syariyyah) karena sampai kini, belum ditemukannya vaksin MR yang halal dan suci.

"Mari bersama-sama kita mengampanyekan bahaya virus MR dan imunisasi MR ini kepada masyarakat. Agar generasi masa depan kita benar-benar terlindungi dari virus menular MR dan cacat seumur hidup. Hak anak untuk hidup sehat harus dipenuhi," imbaunya.

Ketua MUI Kota Padang Duski Samad menyebutkan, sebelum fatwa MUI tentang imuniasi MR dikeluarkan, telah ada fatwa MUI Nomor 04 Tahun 2016 tentang Imunisasi, yang menjelaskan bahwa imunisasi pada dasarnya dibolehkan (mubah) sebagai bentuk ikhtiar untuk mewujudkan kekebalan tubuh dan mencegah terjadinya suatu penyakit tertentu.

"Sebagaimana fatwa MUI tersebut, imunisasi dengan vaksin yang haram dan atau najis boleh digunakan pada kondisi keterpaksaan yang apabila tidak diimunisasi dapat mengancam jiwa manusia atau al-hajat," pungkasnya. (OL-2)

BERITA TERKAIT