Pemerintah Ingin Laporan Bioavtur Rampung Tahun Ini


Penulis: Andhika Prasetyo - 16 September 2018, 14:15 WIB
ANTARA/M Agung Rajasa
ANTARA/M Agung Rajasa

PEMERINTAH meminta laporan terkait pengembangan bioavtur atau bahan bakar untuk pesawat dengan bauran minyak kelapa sawit dapat selesai pada akhir tahun ini.

Saat ini, pengembangan bioavtur tengah dilakukan tim riset dari Institut Teknologi Bandung (ITB) bersama-sama dengan PT Pertamina, Badan Pengelola Dana Kelapa Sawit (BPDPKS), Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), dan beberapa asosiasi terkait lainnya.

"Kalau boleh minta, kami ingin akhir tahun laporannya sudah ada. Seperti apa langkahnya, hal apa saja yang dibutuhkan. Soal produksi, itu nanti, yang penting ada laporan dulu," ujar Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita di Bandung, Jawa Barat, Sabtu (15/9).

Ambisi pemerintah terkait pemanfaatan minyak kelapa sawit dalam penggunaan bahan bakar memang tengah meninggi. Terlebih, setelah penerapan B20 atau solar dengan bauran minyak sawit sebanyak 20% yang ditujukan untuk angkutan darat, terlah diresmikan beberapa waktu lalu.

Kendati lebih rumit dibandingkan B20 karena harus benar-benar mencapai kesempurnaan, Enggartiasto optimistis penggunaan bioavtur juga akan segera dapat direalisasikan.

"Kalau mobil jalan mogok tidak ada soal, tetapi kalau pesawat mogok itu tidak boleh. Jadi, bioavtur tentu lebih rumit. Tidak mudah tetapi juga bukan tidak mungkin," ucapnya.

Ia juga saat ini belum bisa memastikan berapa persen komposisi minyak sawit yang akan dimasukan untuk setiap liter bioavtur.

"Itu bisa disesuaikan. Mungkin standarnya 5% dan itu nanti ada tingkatannya. Itu nanti ada gradasinya tentunya dengan perhitugan keekonomian," terangnya.

Guru Besar Teknik Kimia ITB Subagjo, yang juga merupakan bagian dari tim pengembangan bioavtur, mengatakan progres pengembangan saat ini sudah hampir rampung. Hanya saja, pengerjaan kini akan mulai dilakukan dalam skala yang lebih besar guna menguji ketahanan saat digunakan di dalam industri.

Sedianya, beberapa negara maju termasuk Singapura juga telah memulai pengembangan bioavtur. Padahal, negara tersebut tidak memiliki sumber utama bahan baku.

"Di Singapura sudah dikembangkan juga. Padahal sawitnya dari sini, gasnya dari sini. Mungkin kalau sudah jadi nanti, mereka akan jual juga ke sini," tuturnya.

Terkait biaya produksi dan harga jual, Enggartiasto mengatakan hal itu masih dalam perhitungan tim pengembang. Namun, satu hal yang pasti, jika bioavtur digunakan, pemerintah akan dapat mengurangi impor bahan bakar minyak karena sebagian bahan baku, berupa minyak sawit, tersedia melimpah di dalam negeri.

"Urgensi kita adalah menghemat devisa. Kalo kita bisa capai ini, kompensasi yang kita dapat akan luar biasa," tandasnya. (OL-2)

BERITA TERKAIT