Semangat Ekowisata di Desa Nyambu


Penulis: (*/M-2) - 15 September 2018, 06:40 WIB
ANTARA FOTO/Wira Suryantala
ANTARA FOTO/Wira Suryantala

BENTANG sawah yang indah langsung menyambut jika bertandang ke Desa Nyambu, Bali. Sawah ini pula yang jadi unggulan wisata di desa yang terletak sekitar 30 km dari Bandara Ngurah Rai dan 20 km dari Denpasar tersebut. Berjalan-jalan di antara padi yang mengu-ning, seperti yang dilakukan keluarga Obama saat berwisata ke Pulau Dewata tahun lalu, pun tidak mesti ke Jatiluwih.

Keberadaan wisata jalan-jalan di persawahan di Desa Nyambu sesungguhnya bukan sekadar mengikuti tren ataupun jualan keindahan alam semata, melainkan wujud semangat soal wisata yang ramah lingkungan (ekowisata).

Meski pesona alam dan Bali sudah ibarat dua sisi mata uang. Nyatanya, industri pariwisata Bali telah memberikan dampak yang tidak sepele pada sumber daya yang menjadi tumpuannya itu.

Bahkan, beberapa daerah di Bali telah mengeluhkan ke-tersediaan air yang semakin berkurang akibat masihnya pembangunan fasilitas wisata. Hal itu berarti pula nestapa bagi kehidupan agraris Bali.

Dari situlah semangat melestarikan persawahan dan membuatnya berpadu dengan wisata membuat Desa Nyambu istimewa. Lahan persawahan di desa yang memiliki enam banjar (rukun warga) itu mencapai 61% atau sekitar 213 hektare dari total wilayah desa seluas 348 hektare.

Sawah ini dialiri dari air sumber Danau Batukaru di kawasan Tabanan. Seperti yang Media Indonesia ikuti pada Jumat (7/9) sore, sembari berjalan di persawahan, wisatawan mendapat penjelasan soal prinsip masyarakat desa dalam menghargai padi dan persawahan. Mereka menganggap sawah sebagaimana insan.

Di beberapa sudut sawah juga terdapat sebuah kayu yang merupakan pembatas wilayah dari kepemilikan sawah tiap masyarakat yang berada di desa. Kayu ini juga bisa menjadi tempat untuk memberikan penyerahan bagi persawahan yang telah memberikan karunia kepada masyarakat desa di Desa Nyambu. Biasanya seserahan berupa buah-buahan maupun pangan yang disediakan untuk daerah persawahan ini.

“Selain padi, kami juga bisa-nya menanam palawija. Kurun waktunya biasanya tiga kali padi dan sekali palawija. Hal ini pun bergantung dengan musim yang sedang terjadi. Kalau sedang kemarau biasanya kami menanam palawija,” ungkap Made yang menjadi pemandu wisata susur sawah saat itu.

Inisiator ekowisata Desa Nyambu, yang juga Ketua Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) I Gusti Alit Ngurah Putra Tenaya menuturkan, inspirasi ide wisata itu datang dari kesuksesan Ubud. “ Saya berpikir bagaimana untuk bisa menjadikan Desa Nyambu ini sebagai destinasi ekowisata bagi turis dalam maupun luar,” tuturnya.

I Gusti Alit kemudian menggali ilmu dari teman-temannya yang berkecimpung di dunia ekowisata. Keinginannya makin bersambut dengan adanya bantuan dari British Council dan Yayasan Wisnu, yang memiliki program Active Citizen.
 
Program ini berfungsi membantu pengembangan Desa Nyambu agar menjadi salah satu destinasi wisata ­ekowisata. Sesuai dengan namanya, program ini bermaksud untuk mendorong keikutsertaan warga desa sendiri sebagai penggerak perubahan.

Dari 938 kepala keluarga yang ada di Desa Nyambu, salah satu warga yang diikutsertakan dalam program Active Citizen ialah I Wayan Gede Sudiarta atau biasa disapa Satya.

Pria yang sehari-hari memiliki profesi sebagai tukang las, saat ini menjadi ketua pengelola desa atau Direktur Nyambu Ecotourism. Ini semua berkat pelatihan yang diberikan lewat program Active Citizen.

Satya menuturkan, pembentukan ekowisata melalui perjalanan panjang.

“Membangun desa wisata itu tidak cukup dengan rentan waktu satu sampai dua tahun saja. Kami merancang ini bahkan dari 12 tahun yang lalu dan akhirnya bisa terbentuk Desa Nyambu sebagai destinasi eko-wisata,” tutur Satya.

Sampah belum tertangani
Selain kegiatan wisata persawahan, ekoturisme di Desa Nyambu juga mencakup upaya gaya hidup minim limbah dan juga upaya pengolahan sampah, khususnya sampah plastik. Ida Bagus Putu Sunarwaba selaku kepala desa, menjelaskan volume sampah bisa tak menentu, apalagi jika ada pesta adat, bisa terjadi penumpukan sampah yang belum teratasi hingga saat ini. Namun, sebagian besar masyarakat terus dituntut agar tidak membuang sampah sembarangan agar tercipta lingkungan yang bersih dan indah.

“Biasanya jenisnya (sampah) plastik yang selalu diusahakan setiap sebulan sekali, ada kegiatan pengumpulan sampah yang dilakukan masyarakat. Saya juga sedang mengajak anak-anak muda di Desa Nyambu ini untuk peduli akan lingkungan, khususnya sampah ini,” ungkapnya.

Di sisi lain, sebagaimana bisa dilihat langsung, upaya pengolahan maupun pengurangan sampah itu masih belum mulus diterapkan. Warga sendiri masih belum cukup tergerak untuk mengolah sampah harian.

Sementara itu, hasil dari keuntungan ekonomi yang dilakukan dari ekowisata ini langsung dialihkan ke pendapatan asli desa. Para pengurus ekowisata mengakui, keuntungan ekonomi yang besar mungkin dirasakan langsung oleh warga. Namun, mereka juga berusaha menanamkan pemikiran jika keuntungan yang lebih besar ialah penyadaran mengenai kepedulian terhadap lingkungan yang dampaknya akan bertahan hingga anak-cucu.

Tahun ini, total sudah ada 339 turis dalam maupun luar yang berkunjung ke Desa Nyambu. Satya pun berharap bahwa Desa Nyambu bisa menjadi pusat dari ekowisata dan pengunjung bisa merasakan keseharian penduduk Bali melalui program ekowisata ini. Sesuai dengan keinginan mereka, saat ini para pengatur desa terus melakukan usaha agar masyarakat bisa mencintai lingkungan dan menjaga lingkungan. (*/M-2)

 

BERITA TERKAIT