Pemberdayaan Perempuan Cegah Radikalisme


Penulis: Agus Utantoro - 15 September 2018, 02:20 WIB
MI/ BARY FATHAHILAH
MI/ BARY FATHAHILAH

PEMBERDAYAAN perempuan penting dilakukan untuk mencegah radikalisme yang kini telah menjurumuskan perempuan sebagai pelaku aksi teror. Perempuan yang berdaya akan kuat menolak doktrin yang salah.

Direktur Wahid Institute ­Yenny Wahid mengemukakan hal tersebut dalam Temu Nasional Seribu Organisasi Perempuan Indonesia di Yogyakarta, kemarin. Ia mengambil contoh pelibatan perempuan sebagai pelaku teror dalam kasus bom di Surabaya pada Mei lalu.

“Bagaimana kita melihat seorang ibu tega meledakkan anaknya sendiri, padahal anak kita jatuh saja kita ikut menangis. Tapi ibu itu melakukannya karena si bapak mau sepaket sekeluarga masuk surga. Jika perempuan kita kuat, ia pasti akan menolak doktrin bahwa ia hanya akan bisa masuk surga melalui suami atau bapaknya,” tegas Yenny.

Menurutnya, perempuan harus diberdayakan agar menjadi kuat untuk menolak doktrin yang salah seperti itu sebab setiap orang, laki-laki maupun perempuan, memiliki tanggung jawab sendiri-sendiri terhadap amal dan dosa mereka.

“Dalam agama, dosa itu kita tanggung sendiri. Orangtua tugasnya mendidik. Tapi begitu anak menjadi dewasa, maka semua dosa dia tangung sendiri. Kasihan sekali orangtua para koruptor, penjahat, dan kriminal lainnya jika mereka juga harus menanggung dosa anaknya,” kata putri mantan Presiden Abdurrahman Wahid itu.

Oleh karena itu, Yenny meng-ajak semua anggota Kongres Wanita Indonesia (Kowani) untuk ikut memberdayakan perempuan dengan pendidikan, pengetahuan, dan bertukar pikiran agar menolak doktrin yang menjerumuskan ke dalam radikalisme. Termasuk doktrin yang membuat wanita terlalu patuh kepada suami.

“Ini menjadi tantangan bagi kita semua. Kalau dulu perempuan menjadi recruiter atau fund raiser, atau organizer aksi teror, sekarang kita sudah dibidik untuk menjadi pelaku. Bagaimana kita bisa mencegah agar perempuan tidak dimanfaatkan dalam aksi radikal? Kembali lagi pada peran kita untuk memberdayakan perempuan,” ujarnya.

Lebih toleran
Ia mengungkapkan, berdasarkan hasil riset Wahid Institute, perempuan Indonesia lebih to-leran daripada laki-laki. Dengan demikian, lebih mampu menjadi contoh yang baik bagi anak-anak melalui edukasi dan pola asuh yang menanamkan nilai-nilai toleransi.

“Ketika perempuan bisa mengedukasi dan mendidik anak-anaknya menjadi toleran, maka itu menjadi jawaban dari pertanyaan bagaimana mencegah radikalisasi,” kata Yenny.

Temu Nasional Seribu Organisasi Perempuan Indonesia diselenggarakan bersamaan dengan Sidang Umum Dewan Perempuan Internasional (ICW) Ke-35 dan dibuka Prsiden Joko Widodo.

Di acara yang sama, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Yohana Yembise menyatakan kaum perempuan berpotensi besar menyokong pembangunan.

Jumlah perempuan, imbuh Yohana, mencapai hampir setengah populasi sehingga perempuan harus diberi kesempatan untuk melakukan kontrol terhadap proses pembangunan.

Sementara itu, Menteri Kesehatan (Menkes) Nila F Moeloek berharap Kowani dapat menggerakkan kaum perempuan sebagai ujung tombak yang bisa dipercaya dalam menjaga dan meningkatkan derajat kesehatan seluruh anggota keluarga hingga masyarakat. (Pol/Dhk/Ant/H-1)

BERITA TERKAIT