Politik Dua Kaki Demokrat Untuk Selamatkan Elektabilitas


Penulis: M. Taufan SP Bustan - 14 September 2018, 19:13 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

PAKAR komunikasi politik Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta Nyarwi Ahmad menilai, isu politik dua kaki Partai Demokrat bisa ditafsirkan macam-macam.

Namun, jika yang dimaksudkan adalah dua kaki dengan memasang atau mendorong sekelompok kader yang dukung Jokowi di satu sisi dan mendukung Prabowo di sisi yang lain, hal tersebut tentunya bisa menurunkan kredibilitas Demokrat di kalangan elite-elite partai yang telah mengusung dua bakal calon presiden itu.

“Strategi dua kaki bisa juga dipahami sebagai langkah taktis untuk menyelamatkan elektabilitas partai dan caleg nya di sejumlah dapil,” ungkap Nyarwi saat dimintai keterangan di Jakarta, Jumat (14/9).

Pasalnya, lanjut dia, secara kultural dan politik selama ini dapil tersebut menjadi basis pendukung baik Prabowo maupun Jokowi.

Hal itu, merupakan strategi dan taktik yang cukup cerdas dalam mengamankan basis elektoral dan sekaligus menyisir potensi coattail effect masing-masing pasangan bakal calon presiden dan wakil presiden di dapil yang kebetulan menjadi basis-basis mereka.

“Saya kira kecenderungan tersebut juga bisa dilakukan oleh partai-partai lain. Baik di kubu Prabowo seperti PAN. Termasuk di kubu Jokowi seperti PPP dan PKB,” tandas Nyarwi.

Diketahui, isu politik dua kaki oleh Demokrat muncul setelah partai itu mempertimbangkan memberikan dispensasi kepada DPD Demokrat yang memilih jalan berbeda dengan keputusan partai, yaitu mendukung Jokowi-Ma'ruf pada Pilpres 2019.

Pun sebelumnya, sikap politik Demokrat adalah sangat jelas mendukung pasangan Prabowo - Sandiaga.

Sebagaimana diketahui, salah satu DPD yang dipertimbangkan serius mendapatkan dispensasi yakni DPD Papua.

Hal tersebut dilakukan untuk menjaga suara Partai Demokrat di Papua yang aspirasi masyarakatnya kuat ke Jokowi - Ma'ruf. (OL-4)

BERITA TERKAIT