Stunting, Utamakan Pencegahan


Penulis: (Ind/H-2) - 14 September 2018, 08:15 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

STUNTING atau perawakan pendek pada anak yang disebabkan kekurangan gizi kronis (menahun) memberikan dampak buruk yang permanen. Tidak hanya pada pertumbuhan fisik anak, tapi juga fungsi kognitif (kecerdasan)-nya.

"Stunting bersifat irreversible atau tidak bisa dikembalikan. Karena itu, utamakan pencegahan," ujar dokter anak konsultan nutrisi dan penyakit metabolik anak, Damayanti R Sjarif, dalam diskusi media terkait dengan stunting yang digelar Nutricia-Danone, di Jakarta, Kamis (13/9).

Ia menekankan, pencegahan harus dilakukan mulai dari awal kehamilan hingga dua tahun pertama kehidupan anak. Stunting dicegah dengan memantau status gizi anak secara berkala. Itu meliputi pengukuran berat badan, lingkar kepala, dan tinggi badan anak. Umumnya dilakukan di posyandu.

"Apabila diketahui berat badannya tidak sesuai dengan grafik pertumbuhan, harus langsung dirujuk untuk ditangani dokter spesialis anak dan mengetahui penyebabnya. Tata laksananya melalui perbaikan nutrisi dan stimulasi pertumbuhan sebelum usia dua tahun," Damayanti menambahkan.

Pada kesempatan sama, Kepala London School of Hygiene & Tropical Medicine, Inggris, Prof Andrew Prentice, menuturkan kekurangan gizi tidak hanya dialami masyarakat miskin rendah. Hal itu juga ditemukan pada balita dari keluarga mampu.

"Untuk keluarga dengan pendapatan rendah, masalah kurang gizi disebabkan oleh kualitas asupan makanan yang tidak baik. Kekurangan nutrisi yang terjadi pada keluarga mampu ditengarai karena kesalahan asupan nutrisi," ujarnya.

Karena itu, jika sudah terjadi indikasi faltering growth (gagal tumbuh), anak harus mendapatkan pertolongan berupa asupan nutrisi khusus yang tinggi protein hewani dan tinggi kalori.

Indonesia merupakan salah satu negara dengan prevalensi stunting tinggi. Riset Kesehatan Dasar 2013 menunjukkan, 37,2% balita di Indonesia mengalami stunting.

BERITA TERKAIT