Slot Penerbangan Tentukan Masa Tinggal


Penulis: (H-1) - 14 September 2018, 07:45 WIB
AFP
AFP

MASA tinggal jemaah haji di Arab Saudi ditambah perjalanan pulang dan pergi selama 41 hari tidak bisa diperpendek karena terkait dengan slot penerbangan yang dijadwalkan General Authority of Civil Aviation (GACA), otoritas penerbangan sipil Kerajaan Arab Saudi.

Hal itu dikatakan Direktur Pengelolaan Keuangan Haji dan Sistem Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Agama (Kemenag) Ramadhan Harisman saat dihubungi dari Mekah, Arab Saudi, Kamis (13/9).

"Indonesia rata-rata mendapat 14 slot penerbangan per hari (dari GACA), total dengan Saudia Airline dan Garuda Indonesia Airline," katanya.

Alasan lain, lanjutnya, ialah biaya sewa akomodasi di Madinah bisa menjadi lebih mahal karena waktu penempatan jemaah masuk ke waktu-waktu peak season (masa puncak) yang harga sewanya sangat mahal.

"Soal penilaian 41 hari terlalu lama, relatif. Ada jemaah yang baru pertama ke Saudi merasa waktu tersebut cukup alias tidak terlalu lama. Jadi, sangat subjektif penilaian itu (terlalu lama)," ujarnya.

Apabila masa tinggal di Arab Saudi ingin diperpendek, kata dia, solusinya antara lain jemaah diterbangkan dengan pesawat berbadan lebar, yakni Airbus A380 dengan kapasitas angkut 700 orang. Namun, tidak semua bandara di Indonesia dapat didarati pesawat jenis itu.

Harisman menanggapi pendapat sejumlah jemaah haji yang menginginkan masa tinggal jemaah di Tanah Suci diperpendek.

Kepala rombongan jemaah asal Kota Bogor, Jawa Barat, Afifi Zaini Albrend mengakui sebagian jemaah ada yang berpendapat sebaiknya masa tinggal diperpendek. "Pendapat ini disampaikan oleh para jemaah yang sangat sibuk," katanya di Mekah.

Kalau bisa diperpendek, kata dia, tidak masalah, misalnya 30 hari atau maksimal 35 hari. Puncak ibadah haji hanya dari 8 hingga 13 Zulhijah.

Salah seorang jemaah haji, Andi Setia Gunawan, berpendapat masa tinggal 41 hari terlalu lama. "Jemaah gelombang dua seperti saya, 32 hari di Mekah kelamaan. Fisik sudah terkuras dan mulai sakit-sakit, batuk, dan demam," ungkapnya.

Namun, sebagian jemaah lainnya tidak mempermasalahkan panjangnya masa tinggal. Bahkan mereka bersyukur karena bisa berlama-lama ibadah di Tanah Suci dengan nilai pahala berlipat.

BERITA TERKAIT