Jika Prabowo-Sandi Menang Akan Sulitkan Anak SBY di 2024


Penulis: Nurjiyanto - 11 September 2018, 18:02 WIB
MI/ROMMY PUJIANTO
MI/ROMMY PUJIANTO

PENGAMAT Politik dari Indo Barometer Muhammad Qodari menuturkan adanya dukungan dari beberapa kader Demokrat kepada paslon Joko Widodo-Ma'ruf Amin sebagai cara untuk menghindari risiko politik bagi partai tersebut.

Ia berpandangan, risiko politik tersebut muncul bilamana paslon Prabowo Subianto-Sandiaga Uno menang dalam Pilpres ini. Pasalnya, hal tersebut dipandangnya akan menyulitkan langkah Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) maju sebagai Capres di Pemilu 2024 mendatang.

"Justru masa depan politik AHY dan Demokrat lebih suram kalau Prabowo-Sandi menang. Jadi kalau di 2019 nanti Prabowo-Sandi menang maka AHY di 2024 akan sulit maju karena kemungkinan Jokowi maju lagi, bahkan kalau menggandeng Sandiaga di 2029 pun, peluang Sandi akan maju karena relatif masih muda. Kalau Jokowi-Maruf 2019 menang, 2024 tidak akan maju lagi apalagi usia Ma'ruf yang sudah tidak muda lagi," ungkapnya saat dihubungi Media Indonesia, Selasa (11/9).

Selain adanya kalkulasi tersebut, ia memandang Demokrat sendiri terlihat tidak terlalu solid dalam mendukung Prabowo-Sandi. Hal itu didasari atas belum terakomodirnya suara dari berbagai DPP Demokrat diambah dengan adanya proses masuknya Demokrat ke koalisi Prabowo-Sandi yang tidak berjalan mulus.

"Ditingkat DPP Demokrat sendiri tidak terlalu solid dalam mendukung Prabowo-Sandi, salahsatunya karena pembentukan koalisi sendiri yang tidak berjalan mulus, ada aspirasi dari DPP Demokrat dan SBY yang tidak terakomodasi bahkan muncul adanya istilah politik kardus," ungkapnya.

Qodari menambahkan, Demokrat sendiri saat ini dinilainya akan lebih berkonsentrasi dalam mengefektifkan kontestasi Pileg 2019. Pasalnya, dengan tidak adanya unsur dari Demokrat dalam kontestasi Pilpres saat ini akan membuat kekuatan partai tersebut dalam menghadapi Pilpres 2019 akan dihemat sedemikian rupa.

"Ya bisa dibilang seperti itu realita politiknya, bisa dibilang dua kaki, ragu-ragu atau kurang maksimal. Karena pemilu juga serentak jadi saya kira Demokrat sedang menghemat tenaga karena tidak ada jagoannya sama sekali ya akhirnya konsentrasi utamanya untuk pemenangan Pileg," ujarnya.

Sebelumnya, beberapa kader Demokrat mengaku mendukung Jokowi maju dalam kontestasi Pilpres 2019. Soekarwo sendiri santer dikaitkan dengan dukungan terhadap Jokowi setelah menyebutkan mayoritas suara DPP Demokrat Jawa Timur medukungan Jokowi.

Selain Soekarwo, Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Muhammad Zainul Majdi atau yang biasa dikenal Tuan Guru Bajang (TGB) santer disebutkan akan masuk kedalam struktur tim TKN setelah menyatakan mendukung Joko Widodo untuk maju dalam Pilpres 2019 beberpa bulan sebelum masa pendaftara capres-cawapres. Gubernur NTB ini juga telah mengundurkan diri dari Partai Demokrat tak lama setelah dirinya menyatakan dukungan terhadap Jokowi.

Selain itu ada pula Wahidin Halim yang merupakan Gubernur Banten serta Lukas Enembe yang merupakan Gubernur Papua. (OL-4)

BERITA TERKAIT