Jenderal Awangga


Penulis: Ono Sarwono - 19 August 2018, 08:30 WIB
Dok.MI
Dok.MI

DINAMIKA politik menjelang penetapan nama calon presiden dan calon wakil presiden yang baru lalu sempat memunculkan ungkapan jenderal kardus. Sebutan yang dicicitkan Wasekjen Partai Demokrat Andi Arief itu ditujukan kepada Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto karena dinilai tidak konsisten pada komitmen koalisi dengan Demokrat.

Terlepas dari benar atau tidaknya tuduhan itu, sebenarnya inkonsistensi politikus di negeri ini kini seperti sudah biasa, bukan masalah. Diktum politik itu dinamis yang menjadi semacam ‘mazhab’ hampir semua politikus itu seolah telah menjadi pembenaran bahwa inkonsistensi merupakan kelumrahan. Tentu itu bukan rahasia lagi bagi umum karena sikap demikian itu merupakan bagian dari strategi memburu tujuan.

Namun, bila ditilik dari sisi kepribadian, inkonsisten merupakan sikap kurang terpuji. Apalagi bagi seorang pemimpin, sikap konsisten itu mestinya ‘perangkat’ yang sifatnya inheren. Sungguh tidak elok bila pemimpin bersikap mencla-mencle, pagi tempe sore kedelai.

Hibahkan jiwa raga
Lalu, bagaimana konsistensi yang semestinya menjadi watak seseorang atau pemimpin? Terkait dengan ini, ada cerita dalam dunia wayang yang bisa dijadikan renungan, yaitu kisah ‘jenderal’ Awangga bernama Karna Basusena yang menjabat panglima perang Astina pada rezim Duryudana.  

Sikap konsistennya yang begitu kukuh menjadi teladan bagi banyak kesatria. Bagi Karna, tidak ada nilai yang lebih berharga dalam hidup ini selain konsistensi. Untuk itu, ia mengentengkan jiwa raganya sebagai tumbal demi menegakkan wataknya tersebut.

Bila dirunut dari garis keturunan, karakter Karna yang demikian ini memang tidak aneh. Ia lahir dari rahim perempuan mustikaning jagat, Kunti, dari benih yang ditanam Bathara Surya, dewa di Kahyangan Eka Cakra. Kemudian kakeknya Raja Mandura Prabu Basukunti.

Selain trahing kusuma rembesing madu (berdarah biru), Karna tergembleng dalam perjalanan hidupnya yang penuh kepahitan. Sejak bayi, ia sudah harus berpisah dengan ibunya karena alasan demi nama baik raja. Itu disebabkan Kunti melahirkan Karna tanpa bapak yang jelas.

Karna tumbuh dan besar dalam asuhan Adirata, sais kereta raja Astina, bersama istrinya, Radha. Keinginannya ngangsu kawruh (menimba ilmu) di Padepokan Sokalima ditolak sang guru Durna karena dianggap berkasta rendah. Namun, itu semua tidak membuat Karna menyerah untuk terus belajar dan menggeladi diri serta gentur menjalani laku prihatin.

Ketika dewasa, setelah dinilai memiliki kesaktian yang bisa diandalkan, Karna direkrut Duryudana (Kurawa), raja Astina, sebagai orang kepercayaannya, tepatnya sebagai panglima perang. Bukan itu saja, Karna juga diberi bumi perdikan Awangga.

Duryudana mengambil alih kekuasaan Astina secara inkonstitusional pascagugurnya Prabu Pandudewanata. Takhta yang sejatinya milik putra Pandudewanata-Kunti/Madrim, yakni Pandawa (Puntadewa, Werkudara, Arjuna, Nakula, dan Sadewa), dikuasai Duryudana atas kreasi sang paman, Suman, yang kemudian menjadi patih bernama Sengkuni. 

Atas semua kebaikan raja, Karna yang merasa terangkat martabatnya mengucapkan sumpah untuk menghibahkan seluruh jiwa raganya demi kejayaaan Duryudana. Ia menegaskan tidak ada satu titah di marcapada, bahkan dewa di kahyangan sekalipun, yang bisa mengurungkan sumpahnya.

Berwatak kesatria
Ujian sumpah Karna datang silih berganti. Karna memang selalu siap berada di barisan terdepan untuk mempertahankan kedaulatan negara dari infiltrasi atau serangan musuh. Namun, sungguh di luar dugaannya, ternyata misi yang sering diemban ialah menyirnakan Pandawa, saudara kandungnya sendiri dan juga sepupu Kurawa. 

Itu politik Duryudana untuk melanggengkan kekuasaannya. Menurut keyakinannya, seperti ‘mantra’ yang selalu diinjeksikan Sengkuni, bahwa Pandawa harus dihabisi bila ingin tetap bertakhta di Astina.

Di sinilah persoalan pelik yang mesti dihadapi Karna. Namun, ia tidak pernah luntur memegang teguh sumpah dan janjinya. Karna siap dan tetap tega harus berhadapan dengan saudaranya sendiri demi membela Duryudana meski ia sadar bahwa dirinya berpada pada posisi yang salah.

Satu hal yang kerap menjadi perdebatan Karna dengan Duryudana ialah strategi atau cara yang harus dilakukan ketika membinasakan Pandawa. Karna berkeras bahwa cara yang harus dilakukan harus berwatak kesatria. Ia menolak cara-cara licik atau culas. 

Puncak ujian konsistensi Karna terjadi menjelang pecah Perang Bharatayuda. Itulah pertempuran antarsaudara sepupu trah Abiyasa (Prabu Kresnadwipayana), yakni Kurawa melawan Pandawa, untuk memperebutkan kekuasaan atas Astina dan Amarta.

Kunti meminta Karna untuk bergabung dengan Pandawa karena alasan sedarah. Kunti menekankan dirinya tidak ingin melihat anak-anaknya baku bunuh. Namun, Karna dengan terpaksa tidak bisa memenuhi permintaan orang yang sangat ia cintai dan hormati itu.

Karna matur dirinya tetap berada dalam barisan Kurawa karena jauh sebelumnya sudah bersumpah membela Duryudana. Ia tidak ingin mengingkarinya karena itu bukan wataknya. Ia malu kepada jagat seisinya jika harus menjilat ludahnya sendiri.

Sikap membaja itu kembali ia perlihatkan kepada Kresna yang membujuknya untuk berkoalisi dengan Pandawa. Ketika itu, Karna malah seolah menguliahi Kresna, botoh Pandawa, yang juga titisan Bathara Wisnu, tentang nilai-nilai kesatria.

Karna mengatakan dirinya mengerti bahwa Kurawa zalim dan akan hancur di Kurusetra. Pun dirinya akan menjadi korban dalam perang tersebut. Namun, baginya, itu justru terhormat karena dirinya menjunjung tinggi sumpah yang telah terucap.

Tunaikan misi hidup
Kisahnya, Karna gugur ketika berperang melawan adiknya, Arjuna, yang memiliki fisik hampir sama dengannya. Oleh karenanya, dalam pakeliran, peperangan di antara kedua kesatria itu dikenal dengan sebutan Karna Tandhing. Karna berkalang tanah setelah lehernya terpenggal oleh pusaka pasopati yang dilepas Arjuna dari atas kereta. 

Bukan erangan kesakitan yang keluar dari mulut Karna. Ia malah tersenyum dalam pelukan Kunti yang menangisinya. Karna merasa tuntas menunaikan hidupnya sebagai kesatria sejati.

Poin dari kisah itu ialah Karna memiliki sikap konsisten. Sebenarnya, ia bisa saja hidup enak, menduduki jabatan yang lebih tinggi bila bersedia bergabung dengan Pandawa. Namun, ia mengemohi itu karena jika itu langkah yang diambil, dirinya ialah pengecut. 

Dalam konteks dunia perpolitikan di negeri ini, Karna ialah sosok yang sangat langka. Banyak elite yang memburu kedudukan atau jabatan tanpa mengindahkan harkat martabat dan harga diri. (M-3)

BERITA TERKAIT