Dari Sulsel untuk Indonesia


Penulis:  (*/S1-25) - 16 August 2018, 09:25 WIB

PEMERINTAH Provinsi (Pemprov) Sulawesi Selatan (Sulsel) terus menggenjot sejumlah program pembangunan di berbagai sektor. Mulai pertanian dalam arti luas, infrastruktur, hingga energi listrik.
Program tersebut tidak hanya untuk kepentingan masyarakat Sulsel, tetapi juga untuk rakyat Indonesia secara keseluruhan.

Di sektor pertanian, misalnya. Peningkatan produksi beras dari tahun ke tahun hingga surplus di atas 2,3 juta ton tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat Sulsel.

Beras Sulsel juga dikirim ke sejumlah provinsi di Indonesia, seperti Nanggroe Aceh Darussalam, Bengkulu, Jambi, DKI Jakarta, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Maluku, Nusa Tenggara Timur (NTT), Papua, Sulawesi Utara, hingga ke Sumatra Selatan.


Keberhasilan Provinsi Sulsel di sektor pertanian menjadikan daerah yang saat ini yang dipimpin Penjabat Gubernur Dr Sumarsono tersebut, sebagai daerah penyangga pangan nasional. Karena itu pula, Sulsel mendapatkan kepercayaan dari pemerintah pusat untuk membangun empat bendung dan bendungan dalam lima tahun, antara lain Bendungan Kareloe di Jeneponto, Passeloreng di Wajo, Bendung Baliase di Luwu Utara, dan Pammukkulu di Takalar.

Tidak hanya surplus beras, produksi jagung di Sulsel selama tiga tahun ini pun mengalami kenaikan. Pada 2015 terjadi peningkatan sebesar 1,5 juta ton, 2016 sebanyak 2,1 juta ton, dan 2017 pun naik mencapai 2,23 juta ton.

Ekspor bahan pangan
Sulsel bahkan mampu mengekspor 60 ribu ton jagung ke Filipina atau senilai Rp210 miliar.
Di sisi lain, stok daging sapi dan kerbau Sulsel juga melimpah. Berdasarkan data Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Sulsel, daging sapi dan kerbau yang tersedia saat ini sebanyak 25.731 ton atau 225.709 ekor sapi dan kerbau, sedangkan kebutuhan masyarakat hanya sebanyak 11.189 ton atau sebanyak 98.149 ekor sapi dan kerbau.

Artinya, daging sapi dan kerbau yang dimiliki sekarang ini mengalami surplus sebanyak 14.542 ton atau sebanyak 127.560 ekor sapi dan kerbau.
Dengan adanya surplus daging sapi dan kerbau, Pemprov Sulsel siap menyuplai daerah se-Indonesia timur yang kekurangan daging sapi dan kerbau.

Sejumlah komoditas unggulan Sulsel bahkan mampu menembus pasar ekspor, antara lain biji kopi, bunga chrysant, cocoa beans, cocoa liquor, cocoa cocoa butter, cocoa mass, cocoa powder, gandum, kayu olahan, damar, karet, getah pinus, ikan hidup, ikan tuna, kepiting hidup, dan kepiting beku. Selain itu, ada mete kupas, ampas kulit mete, minyak mete, cangkang mete, kulit ari mete, rumput laut, telur ikan terbang, udang, marmer, nikel mate, plywood, semen, tepung terigu, teripang, dan kancing kerang,
sedangkan negara tujuan ekspor ialah Amerika Serikat, Albania, Australia, Argentina, Bahrain, Belanda, Tiongkok, Cile, Uni Emirate Arab, Mesir, India, Inggris, Italia, Hong Kong, Jepang, Jerman, Lithuania, Malta, Mauritius, Kuwait, Korea Selatan, Malaysia, Maroko, Meksiko, Poertorico, Prancis, Qatar, Rusia, Saudi Arabia, Singapura, Spanyol, Timur
Leste, Tunisia, dan Vietnam.

Ekonomi tumbuh
Hal tersebut tentu saja berpengaruh terhadap perekonomian Sulsel. Pertumbuhan ekonomi Sulsel selalu berada di atas rata-rata nasional, di angka 7%.
Kontribusi sektor pertanian yang cukup besar membuat perekonomian Sulsel tidak hanya tinggi, tetapi juga berkualitas.

Pada 2017, pertumbuhan ekonomi Sulsel bahkan menempati urutan kedua tertinggi secara nasional, setelah Maluku Utara.
Perbankan yang tumbuh di atas 10%, dan kredit macet di bawah nasional, membuat Sulsel jadi percontohan dalam tatanan perekonomian nasional.

Ekonomi Sulsel juga didukung pembangunan infrastruktur yang sangat pesat dalam 10 tahun terakhir.
Sejumlah peradaban baru hadir untuk memperkokoh posisi Sulsel sebagai pilar utama pembangunan nasional. Mulai infrastruktur jalan. Masyarakat kini sudah bisa menikmati mulusnya jalan trans-Sulawesi. Underpass Simpang Lima Mandai untuk mengurai kemacetan Makassar Maros, dan jalan masuk ke area Bandara Internasional Sultan Hasanuddin.

Sejumlah ruas juga sementara dalam pengerjaan, seperti middle ring road (MRR), elevated road Maros-Bone, hingga proyek terbaru Tol AP Pettarani.
Pekerjaan konstruksi Tol AP Pettarani telah dimulai April 2018, dan akan dilaksanakan selama tiga tahun.

Tak hanya jalan dan jembatan, untuk mempercepat konektivitas antarwilayah, Pemprov Sulsel juga membangun sebelas bandara perintis di kabupaten/kota, seperti di Kabupaten Kepulauan Selayar, Bone, Luwu, Luwu Utara, hingga Kota Palopo.
Bandara Internasional Sultan Hasanuddin juga diperluas hingga empat kali lipat, seiring dibukanya rute penerbangan internasional dan meningkatnya jumlah penumpang. Begitu pun dengan Pelabuhan Soekarno Hatta juga terus dilakukan perluasan.  
Infrastruktur lainnya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Sulsel juga terus dibangun, seperti kereta api Makassar-Parepare.

Kawasan Center Point of Indonesia (CPI) juga akan menjadi landmark baru Sulsel.
Di kawasan reklamasi ini sementara dibangun Wisma Negara, masjid termegah di Asia, rumah sakit, perpustakaan dan museum, hingga fasilitas publik lainnya.
Sekadar diketahui, Provinsi Sulsel merupakan pintu masuk sekaligus jantung Kawasan Timur Indonesia (KTI). Bahkan, Sulsel menjadi penggerak perekonomian di KTI. Jika ekonomi Sulsel bersoal, akan berimbas pada 14 provinsi lainnya di KTI. (*/S1-25)

 

BERITA TERKAIT