Kekuatan Tawaf


Penulis: Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta - 15 August 2018, 01:15 WIB

SEBAGAIMANA disinggung dalam tulisan terdahulu bahwa tawaf adalah ibadah formal tertua bagi para makhluk. Tawaf juga menirukan apa yang pernah dilakukan nenek moyang kita Adam dan Hawa. Ini semua membuktikan manusia sebagai makhluk mikrokosmos, harus tunduk dan pasrah (Islam) dan konsisten (istikamah) kepada ketentuan Khalik-nya.     

Muslim sejati, selain menyatakan kepasrahan total kepada Tuhan, ia juga harus memancarkan nilai-nilai pencerahan dan vibrasi kasih dalam kehidupan bermasyarakat. Bukannya menebarkan fitnah dan keresahan yang pada gilirannya akan menyulut konflik dan memperlemah sendi-sendi keutuhan dan kesatuan. Sehebat apa pun seseorang pasti tidak pernah bebas dari kekeliruan dan kesalahan. Boleh jadi 24 jam tidak cukup bagi kita untuk membicarakan kelemahan seseorang, tetapi 24 jam juga tidak cukup untuk membicarakan kelebihan orang yang sama. Ini bukti bahwa manusia tidak ada yang luput dari kekeliruan.

Harapan dan tuntutan orang-orang yang selalu mengidealisasikan figur manusia tanpa kelemahan dan kekurangan adalah harapan yang tidak realistis, bahkan absurd. Namun, jargon ‘kelemahan manusia’ tidak bisa dijadikan alasan untuk melegitimasi apalagi melanggengkan kesalahan.

Dalam siklus kehidupan sehari-hari, manusia senantiasa menjalankan fungsi-fungsi tawaf. Orang-orang yang bertawaf di atas rel yang benar, mereka itulah disebut orang-orang yang berjalan di atas jalan yang lurus, jalan yang penuh kenikmatan, “Ihdina al-shirath al-mustaqim, shirath al-ladzina an’amta ‘alaihim.” (QS Al-Fatihah/1:7).

Kaum musyrikin yang melakukan loyalitas dan penghambaan ganda kepada lebih dari satu objek yang seharusnya disembah, sesungguhnya mereka telah menempuh rel menyimpang dalam kehidupan. Mereka inilah yang digambarkan Tuhan dalam Surah al-Hajj, “Barang siapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.” (QS al-Hajj/22: 31). Semakin kuat tinggi perjalanan spiritual seorang hamba, semakin kuat pula upaya iblis untuk menghadangnya. Tidak ada yang bisa menyelamatkan hamba selain Sang Mahakuasa.

Orang-orang yang menyimpang dari sistem global Tuhan dan menyalahi tata krama kemanusiaan, mereka itu termasuk orang-orang yang menyimpang dari rel. Nurani (cahaya) dalam hati mereka berangsur-angsur padam digantikan dengan hati zhulmani, yang gelap-gulita. Cermin batin mereka buram sehingga tidak mampu lagi menangkap nur, cahaya Ilahi.

Mereka teralienasi gemerlapnya kehidupan dunia. Hati mereka tidak lagi tergetar menyaksikan penderitaan kaum duafa yang semakin dha`if, karena paham individualisme sedemikian merasuk ke dalam pikiran mereka. Orang-orang seperti ini sulit merasakan ketenangan dan ketenteraman hakiki lantaran jiwanya dipadati nafsu penaklukan (power struggle), dan pada akhirnya mereka merasa kelelahan karena tersedot oleh energinya sendiri.

Dalam bahasa Alquran dikatakan: Barang siapa yang Allah kehendaki akan diberikan petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (berpasrah diri) Islam. Dan barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman. (QS al-An`am/6:125).

Kekuatan tawaf yang dilakukan pada setiap kita menyelenggarakan sejumlah ibadah, memiliki makna dan fungsi ganda. Tawaf berfungsi sebagai rukun ibadah haji dan umrah, tetapi yang tak kalah penting, bagaimana menghayati makna simbolik tawaf sebagai bagian dari penyucian diri dari dosa dan kekhilafan masa lampau. Semoga orang-orang yang menjalani tawaf bisa digugurkan seluruh dosa masa lampau yang membebani dirinya untuk mendaki langit. Allahu a’lam.

 

BERITA TERKAIT