16 August 2018, 00:00 WIB

Inovasi bagi Industri Makanan dan Minuman


ANDHIKA PRASETYO | Ekonomi

ANTARA/YULIUS SATRIA WIJAYA
 ANTARA/YULIUS SATRIA WIJAYA

KEMENTERIAN Perindustrian terus berupaya meningkatkan inovasi dan daya saing industri makanan dan minuman (mamin) seiring dengan ditetapkannya sektor ini sebagai salah satu dari lima sektor implementasi Industri 4.0 di Indonesia.
“Industri mamin berperan penting terhadap pemerataan usaha di Tanah Air, di mana para pelakunya sebagian banyak berskala industri kecil dan menengah,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dalam keterangan tertulis sebagaimana dikutip Antara.
Menperin menjelaskan pihaknya sudah meluncurkan peta jalan Making Indonesia 4.0 yang diresmikan Presiden Joko Widodo. Langkah strategis yang menjadi gerakan nasional ini bertujuan mentransformasi dan mengintegrasikan dunia digital atau online dengan lini produksi di sektor industri.

Dengan semua proses produksi melalui internet sebagai penopang utamanya, produktivitas dan inovasi serta efisiensi biaya produksi bagi manufaktur, termasuk industri mamin diharapkan dapat meningkat. Dengan begitu, produk industri nasional bisa berdaya saing secara global.

Guna mendorong percepatan implementasi Industri 4.0 tersebut, Kemenperin berperan serta dalam mencetak sumber daya manusia industri yang kompeten melalui program pendidikan vokasi.
Airlangga menambahkan Kemenperin bersama Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) mendorong untuk membangun innovation center.

Dengan adanya pusat inovasi tersebut, pelaku IKM sektor mamin juga diharapkan dapat memanfaatkan pengembangan teknologinya sehingga produk yang dihasilkan mampu bersaing di pasar domestik dan memenuhi kebutuhan ekspor.
“Pemerintah tengah menyiapkan insentif super deductible tax bagi perusahaan yang ingin mengembangkan innovation center,” kata dia.

Dalam upaya memfasilitasi perluasan pasar produk-produk industri nasional, Kemenperin aktif melakukan kegiatan promosi baik melalui pameran di dalam maupun luar negeri.

Jadi andalan
Industri makanan dan minuman tumbuh 8,6% pada triwulan II 2018 atau di atas pertumbuhan ekonomi nasional, yang berarti masih menjadi andalan dalam mendongkrak perekonomian nasional.
Plt Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Achmad Sigit Dwiwahjono menyebut potensi sektor ini cukup besar karena didukung sumber daya alam yang berlimpah dan permintaan domestik yang besar.
Pertumbuhan ekspor pada periode Januari-Juni 2018 untuk industri makanan tumbuh sebesar 2,51%, sedangkan industri minuman tumbuh sebesar 8,41%.

Sigit menambahkan, dalam menggenjot industri makanan dan minuman agar lebih berdaya saing di era industri 4.0, Kemenperin terus memacu produktivitas dari sektor hulu, mendorong penerapan teknologi terkini, serta memberdayakan sektor industri kecil dan menengah (IKM) yang terkait.

“Kami juga berupaya untuk meningkatkan efisiensi pada rantai pasokan, menciptakan inovasi kemasan makanan dan minuman yang modern, meningkatkan skala ekonomi industri, serta mempercepat ekspor,” imbuhnya.  
Dengan adanya penerapan program prioritas di era revolusi industri 4.0 tersebut, Sigit meyakini, industri makanan dan minuman nasional dapat menjadi kekuatan besar di ASEAN.

Bahkan, dalam rangka percepatan pertumbuhan industri makanan dan minuman nasional, selain melalui penerapan revolusi industri 4.0, Kemenperin juga menyiapkan berbagai insentif untuk mengakselerasi pertumbuhan sektor tersebut.  
Industri makanan dan minuman di dalam negeri tidak hanya didominasi perusahaan besar, tetapi juga cukup banyak sektor IKM.

IKM makanan dan minuman berkontribusi sebesar 40% terhadap PDB sektor IKM secara keseluruhan dan mampu menyerap tenaga kerja hingga 42,5% dari total pekerja di sektor IKM. (E-1)

BERITA TERKAIT