Menanti Kejutan di Lintasan Atletik


Penulis: Nurul Fadillah - 13 August 2018, 05:40 WIB
ANTARA/AKBAR NUGROHO GUMAY
ANTARA/AKBAR NUGROHO GUMAY

ATLETIK memang bukan andalan Indonesia dalam setiap edisi Asian Games. Prestasi Supriyati Sutono saat menjadi kampiun di nomor 5.000 meter putri pada Asian Games Bangkok 1998 seolah mampu memecahkan mitos Indonesia tak mampu menyumbang emas dari lintasan di multiajang terbesar di Asia tersebut.

Prestasi Supriyati di Bangkok 20 tahun silam menjadi momen pertama Indonesia meraih emas dari atletik, sejak terakhir kali meraih 2 emas melalui Mohammad Sarengat di nomor 100 meter putra dan 110 meter lari gawang putra pada gelaran Asian Games Jakarta 1962.

Empat tahun lalu di Incheon, Korsel, lintasan atletik kembali menyumbang emas. Saat itu, Maria Londa mampu mengibarkan Merah Putih dengan menjadi yang terbaik di nomor lompat jauh.

Suatu kejutan yang diberikan atlet asal Bali tersebut ketika atletik sesungguhnya tak diunggulkan di Incheon. Dengan lompatan sejauh 6,55 meter, Londa tak hanya meraih emas, tetapi juga tembus kualifikasi Olimpiade Rio de Janeiro, Brasil 2016.

Dalam edisi Asian Games 2018, Indonesia kembali mengharapkan kejutan di lintasan atletik. Sebagai tuan rumah, atletik diharapkan dapat menyumbang pundi-pundi emas bagi Merah Putih.

"Ya atletik itu kan spesialis kejutan. Jadi, mari kita dukung saja supaya mereka bisa menampilkan yang terbaik untuk Indonesia. Sekarang ini untuk memenangkan lomba itu secara general teknik harus diperbaiki dan dikuasai, sementara fisik itu sebetulnya hanya mendukung," ujar Tigor Tanjung, Sekretaris Jenderal PB PASI.

Untuk meraih hasil yang maksimal, kontingen atletik mendatangkan pelatih teknik asal Amerika Serikat, Harry Marra. Marra sudah didatangkan sejak tim atletik mempersiapkan diri menjelang SEA Games Kuala Lumpur 2017 meskipun Marra hanya bertindak sebagai konsultan pelatih yang datang hanya sesekali.

Namun, tahun ini, tim atletik memilih berlatih langsung di Amerika Serikat selama satu bulan. Sebanyak 13 atlet pelatnas Asian Games diberangkatkan untuk mengikuti pelatihan di Santa Barbara, California, Amerika Serikat, sejak 1-30 April. Mereka ialah Atjong Tio Purwanto, Bayu Kartanegara, Eki Febri Ekawati, Eko Rimbawan, Emilia Nova, Yaspi Boby, Fadlin Ahmad, Idan Fauzan Richsan, Lalu Muhammad Zohri, Maria Natalia Londa, Rio Maholtra, Sapwaturrahman, dan Suwandi Wijaya.

Menjelang Asian Games, para atlet juga sempat mengikuti beberapa kali uji coba, seperti Rio Maholtra yang turun di IAAF WOrld Indoor Championship 2018 di Birmingham, Inggris, pada 28 Februari 6 Maret, dan Hendro yang berpartisipasi dalam ajang Asian Race Walk 20 Km Championship 2018 di Naomi, Jepang, pada 16-20 Maret lalu.

Sebanyak sembilan atlet juga diberangkatkan ke ajang Korea Terbuka 2018 di Gyeongsangbukdo, Korea Selatan, pada 16-17 Juni lalu. Dari turnamen tersebut, Indonesia meraih 2 emas, 1 perak, dan 1 perunggu. Kedua emas itu menjadi motivasi untuk meraih prestasi di Asian Games 2018.

Ketua Umum PB PASI Bob Hasan menganggap adanya peluang dari dua nomor estafet dan lompat jauh. "Peluang ada. Peluang pasti selalu ada, tetapi itu tergantung kondisi nanti. Kalau atlet lain tegang, ya kita bisa menang," tandasnya.

 

Butuh kerja keras

Berbicara nomor unggulan, tim atletik Indonesia memang menaruh harapan di nomor estafet putra dan lompat jauh putra. Namun, sejatinya, untuk dapat bersaing di multiajang terbesar se-Asia tersebut dibutuhkan kerja keras dan mental bertanding yang kuat.

Pasalnya mereka harus mengalahkan lawan-lawan terkuat sekelas Tiongkok dan Jepang. Di nomor estafet 100 meter putra, tim Tiongkok mencatat waktu tercepat 37,99 detik dan meraih emas di Asian Games 2014. Jepang yang berada di posisi kedua mencatat waktu 38,49 detik, disusul Hong Kong di posisi ketiga dnegan 38,98 detik. Sementara itu, hingga sesi latihan terakhir 27 Juli lalu, tim estafet baru berhasil mencatat waktu tercepat 39,59 detik.

"Target kami 38,50 detik untuk bisa bersaing. Di sisa waktu yang ada kami optimistis dapat mencapai target itu," tandas Eni Nuranini, pelatih estafet Indonesia.   (R-1)

BERITA TERKAIT