Rusuh, Warga Tolak Truk Tambang


Penulis: SL/RF/LD/N-2 - 13 August 2018, 01:30 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

RESISTENSI warga terhadap pertambangan terus meluas. Di Kabupaten Muarojambi, Jambi, sebanyak 20 truk pengangkut batu bara dirusak massa, kemarin, karena dinilai merusak jalan.

Aksi perusakan dilakukan warga Desa Muarakampeh, Kecamatan Kumpuh Ulu. Warga dan para sopir truk juga sempat bentrok.

"Semula, kami hanya meminta para sopir truk tidak membawa kendaraan mereka melintas di jalan raya di wilayah kami. Namun, mereka justru menyerang warga dengan potongan besi dan samurai," cerita Bujang, warga.

Warga pun marah dan membalas. Mereka memburu para sopir truk yang kabur, karena jumlahnya tidak seimbang.

Truk-truk lain yang melintas pun dihentikan di tengah jalan. Warga yang emosi merusak kaca-kaca truk dengan kayu. Salah satu truk bahkan digulingkan.

Untuk meredam amuk massa, Kapolda Jambi Inspektur Jenderal Muchlis AS dan Bupati Muarojambi Masnah Busyro datang ke lokasi. "Untuk sementara, demi keamanan para sopir truk batu bara, mereka dilarang melintas wilayah Kumpeh Ulu. Truk harus putar arah menuju Kota Jambi," ungkap Muchlis.

Ia juga akan mencarikan solusi untuk menyelesaikan masalah ini. "Kami akan rapat dengan Sekda Jambi. Seluruh pihak, pemprov, Pemkab Muarojambi dan Batanghari, serta perusahaan angkutan batu bara akan dilibatkan."

Masalah besar menyangkut pertambangan juga terjadi di Bangka Belitung. Kepala Dinas Kehutanan Marwan menyatakan 23 pemegang izin pinjam pakai kawasan hutan di daerah ini dari total 34 pemegang izin belum pernah melakukan rehabilitasi daerah aliran sungai.

"Padahal, mereka telah menambang di wilayah hutan dan daerah aliran sungai sudah mengalami kerusakan. Kami akan terus mengejar para pengusaha tambang untuk melaksanakan kewajibannya," tandas Marwan.

Sementara itu, di tengah kemeriah-an penyelenggaraan Festival Serayu 2018, di Banyumas, Jawa Tengah, para penambang pasir dilibatkan dengan menggelar balapan perahu pasir.

"Mereka diharapkan bisa meninggalkan profesi menambang pasir dan menjadi pelaku wisata. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya penyelamatan sungai, sehingga tidak terus dirusak kegiatan penambangan," ungkap pejabat fungsional teknik pengairan madya, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Serayu Opak, Ajat Sudrajat.

Dia juga akan terus mendorong Paguyuban Masyarakat Pariwisata Serayu untuk mengurus perizinan terkait dengan Serayu River Voyage, sebuah konsep wisata air di Sungai Serayu.

"Dengan mendorong Sungai Serayu sebagai destinasi wisata, tentu akan mengurangi kegiatan negatif di sungai ini, karena para penambang dapat beralih profesi ke sektor wisata," tandasnya.

BERITA TERKAIT