Tiongkok Siasati Suplai Pangan dari AS


Penulis: AFP/Tes/I-3 - 13 August 2018, 00:10 WIB
AFP
AFP

KEBIJAKAN proteksi Amerika Serikat (AS) melalui perang tarif tidak membuat Tiongkok patah arang. Setelah melakukan balasan melalui penaikan tarif bea masuk impor atas produk daging babi dan sapi dari AS, 'Negeri Tirai Bambu' itu bergegas mencari alternatif pemasok komoditas itu.

Apabila Tiongkok tetap mempertahankan pasokan impor dari AS, harga jual komoditas pangan itu di pasar domestik jelas melambung. "Ketika harga (daging) dari AS sangat mahal setelah kenaikan bea masuk, kami harus mencari sumber (pemasok) dari wilayah lain," ujar Zhang Lihui, Manajer PMI Foods yang merupakan salah satu importir.

Perusahaan itu telah berhenti mengimpor daging babi dari AS sejak tarif balasan ditetapkan. Per Juni 2018, nilai ekspor AS ke Tiongkok untuk komoditas daging babi dan sapi serta produk turunannya mencapai US$140 juta.

Capaian itu ialah sebelum dikeluarkannya serangkaian tarif balasan dari Tiongkok. Kini para importir Tiongkok beralih ke pemasok daging sapi dari Australia, Amerika Selatan, dan Kanada.

Tidak dapat dimungkiri perang dagang berdampak pada perubahan pola perdagangan. Sejumlah negara pemasok alternatif pun meraup untung. "Pasar Tiongkok pasti akan mencari pengganti," imbuh Zhang.

Sementara itu, sejumlah pengamat ekonomi telah memperingatkan perang dagang yang digaungkan AS bisa mengguncang nasib eksportir. Pasalnya, panasnya perang dagang AS dan Tiongkok perlahan membuat eksportir AS kehilangan pangsa pasar di Tiongkok secara signifikan.

Dalam menyoroti bisnis daging sapi saja, para eksportir AS sudah menelan pil pahit atas kenaikan biaya pemotongan daging sebesar 30-40%. Padahal, mereka tengah merugi lantaran berkurangnya permintaan pasar, terutama dari 'Negeri Tirai Bambu' itu.

Di lain hal, ekonom dari Capital Economics Julian Evans-Pitchard mengatakan strategi Tiongkok dalam menggencarkan tarif balasan ke AS menyasar pada komoditas impor yang memiliki sumber alternatif di ranah global.

Selain daging, terdapat kedelai, gandum, dan petrokimia. "Itulah poin penting dari perang tarif. Anda mencoba menggertak kubu lawan, tetapi berdampak terhadap diri sendiri."

BERITA TERKAIT