Novel yang Mendekonstruksi Sejarah


Penulis: Furqon Ulya Himawan - 11 August 2018, 02:00 WIB
Dok MI
Dok MI

TONDI risau. Ompu Silangit, ompung-nya, selalu berkunjung dalam tidurnya. Ompu Silangit meminta Tondi mau menerima amang-nya, ayahnya sendiri, Pardomotua. Tondi menolak. Dia menolak karena Pardomotua juga melakukan hal yang sama, menolak Tondi, menolak ompung-nya, dan telah menelantarkan ibunya.

Pertemuan dalam mimpi itu terjadi beberapa kali dan Tondi selalu menolak permintaan ompung-nya. Hingga suatu saat, yang mengunjungi Tondi bukanlah Ompu Silangit, kakeknya. Tapi ompungboru, neneknya.

Tondi luluh. Ucapan ompungboru dalam mimpi mendorongnya untuk menemui keluarga Pardomotua, ayahnya; ayah yang telah menolak anaknya; suami yang telah menelantarkan istrinya; dan anak yang telah menolak amang-nya, Opung Silangit.

"Manang beha pe, pahompukku do I, itomu do i," kata ompungburu kepada Tondi dalam mimpi.

Tondi yang telah sukses menjalankan bisnis taksi di Jakarta mencari rumah istri Pardomotua. Dia telah menikah lagi dan memiliki tiga anak perempuan. Mereka kini hidup sengsara setelah Pardomotua dipenjara karena dianggap korupsi di perusahaan negara dan dekat dengan orang komunis.

Di sebuah rumah yang terletak di dalam gang kecil. Tondi menemui empat perempuan. Dia memperkenalkan diri sebagai anak lelaki Pardomotua. Perempuan-perempuan itu ragu meski wajah Tondi mirip dengan Pardomotua.

"Menurut adat Batak, ketiga kalian ito-ku, saudara perempuanku. Kita saoumpung, satu kakek. Marga kalian sama dengan margaku," begitu kata Tondi.

Sebagai saudara laki-laki, Tondi tidak rela saudara perempuannya hidup menderita. Tondi juga tidak mau saudara perempuannya bekerja di kelab malam. Tondi akan mencukupi semua kebutuhan, biaya sekolah, dan kebutuhan lainnya.

"Tapi kalian tidak perlu bilang kepada papa kalian. Aku tak mau bertemu dengannya dan tidak perlu. Aku membantu bukan karena kalian anak ayahku, tapi karena kalian cucu ompung-ku," pesan Tondi.

Tondi pergi setelah meninggalkan sejumlah uang dan mencarikan rumah tinggal yang lebih layak daripada sebelumnya. Namun, Tondi tak pernah mau bertemu Pardomotua. Laki-laki itu telah lenyap ditelan masa lalu, satu generasi yang harus dianggap hilang. Tondi hanya mau berbagi kasih dengan anaknya karena mereka saompung.

Begitulah penggalan kisah novel teranyar Ashadi Siregar berjudul Menolak Ayah, sebuah novel yang lahir dari tangan lelaki kelahiran Pematang Siantar, 3 Juli 1945 itu setelah 30 tahun lebih dirinya tidak berkarya.

"Terakhir 1982, Sunyi Nirmala," kata Ashadi seusai peluncuran dan diskusi novel Menolak Ayah, saat ditemui di Tembi Rumah Budaya, Yogyakarta, Sabtu (4/8).

Sumatra dulu
Buku setebal 434 halaman itu menjadi karya Ashadi yang lebih serius jika dibandingkan dengan novel sebelumnya. Dengan latar belakang Sumatra, ada upaya dekonstruksi sejarah yang ingin dilakukan Ashadi. Seperti sejarah tentang Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), pemerintahan yang dibentuk Dewan Perjuangan di Sumatra pada 15 Februari 1958.

Budiawan, dosen kajian budaya dan media Sekolah Pascasarjana UGM, mengatakan salah satu dekonstruksi yang dilakukan Ashadi ialah dengan menyebutkan adanya kebijakan pemerintah pusat yang mengabaikan pembangunan daerah.

Semasa perang kemerdekaan, imbuh Budiawan, infrastruktur di Sumatra hancur dan tak diperbaiki. Beda dengan kondisi di Jawa yang sudah diperbaiki. Kekayaan Sumatra dengan berbagai perkebunan diekspor, tetapi yang merasakan hasilnya pusat, Jakarta. "Ini suara-suara yang tidak pernah didengar," kata Budiawan.

Narasi lain yang tampak ialah terjadinya Perang Padri yang selama ini diketahui sebagai peperangan Pangeran Imam Bonjol melawan Belanda. Dalam buku itu dikatakan Perang Padri merupakan ekspansi Imam Bonjol ke wilayah tanah Batak dengan memanfaatkan orang Batak Selatan untuk menghancurkan Batak Utara.

Yang paling tampak ialah upaya Ashadi mengetengahkan kembali agama-agama kepercayaan masyarakat Sumatra yang kian hilang, agama Parmalim. Seperti Pardomutua, anak lelaki Ompu Silangit, tetua agama leluhur masyarakat Batak, tapi memeluk agama lain karena ikut istrinya.

"Saya ingin mendekonstruksi dengan menggaungkan kembali agama asli," aku Ashadi.

Empiris dan imajinatif
Menolak Ayah menjadi novel ke-13 Ashadi Siregar dan menjadi novel yang paling lama ditulis ketimbang novel-novel sebelumnya. Ashadi mengaku perlu melakukan riset literatur maupun empiris, seperti adat Batak dan sejarah PRRI.

Itu berbeda dengan novel-novel sebelumnya yang hanya bercerita tentang romantisasi kehidupan, seperti Cintaku di Kampus Biru, Kugapai Cintamu, atau Terminal Cinta Terakhir. Semua itu bersifat imajiner, dan romantisasi yang tidak memerlukan riset serta akurasi data.

Sebagai orang yang bergerak di dunia jurnalisme, Ashadi juga menekankan pentingnya melakukan verifikasi dan akurasi data dalam sebuah penulisan. Misalnya ketika menceritakan manusia dalam ruang sosial tertentu dalam ruang empris, fakta, cerita harus harus akurat dan berusaha betul mendalami fakta karena faktanya memang ada dan harus bisa dipertanggungjawabkan.

Misalnya saja, ketika ia menceritakan soal bus yang memiliki rute Medan-Bukittinggi. Ashadi memerlukan pengecekan kembali keberadaan bus dan detailnya sehingga dia mampu mendeskripsikan jalan yang dilalui bus dan berapa lama perjalanannya. "Di sana jurnalisme berlaku, prinsip akurasi," sebut pemenang harapan Sayembara Penulisan Roman Dewan Kesenian Jakarta 1972 itu.

Meski lekat dengan latar belakang empiris, Ashadi masih piawai memadukannya dengan dunia imajiner dan kisah percintaan. Seperti imajinasinya Ashadi yang menceritakan Tondi menjadi kenek bus dari Medan-Bukittinggi. Tondi duduk di kursi paling belakang dengan ditemani Habibah.

Mengimajinasikan terjadinya pergumulan antara Tondi dan Habibah dalam bus di kursi paling belakang. Namun, pergumulan itu mampu diceritakan Ashadi secara santun, tidak terlalu vulgar.

'Di sini kelaki-lakiannya yang pertama dipancarkannya. Adakah dia kehilangan ataukah dia menemukan dalam usianya menjelang 16 tahun?'

Bagian sampul memang terdapat tulisan angka 17 plus. Namun, bagi Ashadi, novelnya bukan cerita percintaan atau seks. Menurutnya, seks ialah bagian dari kehidupan interaksi manusia paling intens.

"Itu bagian dari kehidupan manusia. Jadi, bukan percintaan."

Ia menegaskan Menolak Ayah disebutnya sebagai karya sastra empirik dan upaya mendekonstruksikan sejarah versi pemerintah. Kehadirannya hanya untuk memperkaya sejarah. "Itu hanya fakta sejarah yang direspons seorang pengarang dengan dunia kreatifnya sendiri," ujar Ashadi.

Banyak hal baru yang ditawarkan Ashadi dalam novel Menolak Ayah, selain mendekonstruksi persoalan sejarah Perang Padri, PRRI, dan tergusurnya agama kepercayaan masyarakat asli Batak, Ashadi menyelipkan kisah seorang homoseksual. Cerita seperti itu belum pernah ada di 12 novel Ashadi Siregar sebelumnya. (M-4)

BERITA TERKAIT