Kandungan Air Zamzam


Penulis: Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta - 11 August 2018, 01:40 WIB
MI/Seno
MI/Seno

KALANGAN dosen dari Fakultas MIPA UNHAS Makassar pernah menguji kadar air zamzam. Suatu hal yang menakjubkan, ternyata air zamzam itu ialah air alami yang sangat steril. Jika diambil dengan alat yang bersih, air zamzam dapat digunakan untuk membersihkan luka pascaoperasi tanpa harus disuling. Kandungan airnya juga sangat kaya dengan zat besi, yang di Indonesia zat ini bisa ditemukan di dalam sayur-mayur yang hijau, seperti bayam, dll.

Subhanallah, di sana daerah padang pasir tentu tidak mudah tumbuh sayur-mayur. Ketika air zamzam dipanasi dalam kadar yang sama dengan air lokal sebagai perbandingan, ternyata air zamzam lebih lambat mendidihnya jika dibandingkan dengan air lokal. Di samping itu, juga kaya dengan mineral dan zat-zat lainnya yang tidak ditemukan dalam air lokal.
    
Jika dihubungkan dengan karya dan temuan Dr Masaru Emoto dari Yokohama Municipal University Jepang, yang terkenal dengan bukunya The Hidden Messages in Water, menemukan adanya hubungan interaktif antara air dan doa yang diperdengarkan oleh seseorang, maka air zamzam mungkin mata air yang paling lama mendengarkan doa dan tak terputus selama 24 jam selama ribuan tahun silam.

Di antara doa yang sering terdengar di sekitar mata air zamzam ialah: Labbaikallahumma labbaik, labbaika la syarika laka labbaik, innal hamda wan ni'mata laka wal mulk lasyarika lak. Dengan sugesti atau memang benar apa yang dikatakan Masaru Emoto, air zamzam bisa memberikan khasiat nyata bagi setiap orang.

Asal-usul munculnya air zamzam ketika Siti Hajar, ibu Ismail, berlari ke sana-ke mari (Safa dan Marwah) mencari air untuk bayinya, maka sang bayi menangis sambil memukul-mukulkan kedua tumitnya ke tanah. Subhanallah, di bekas kedua tumit itu memancar dan mendesir mata air jernih. Itulah sebabnya disebut air zamzam, menirukan bunyi gemercik air itu, ‘zam-zam’.

Air inilah yang menolong kehidupan Ismail dan ibunya. Sayang sekarang kita tidak bisa lagi menyaksikan kedua sumur air zamzam ini karena tersimpan di bawah tanah oleh pemerintah Saudi Arabia. Cara mengambilnya dipasang pompa dengan pipa besar untuk menyedot air itu ke bak-bak penampungan. Kita tidak punya angka berapa debet air per menit yang diambil dari sumur ini. Yang jelas airnya sampai sekarang belum pernah berkurang.

Konon ada seorang ahli yang pernah mengukur kedalaman air zamzam dengan menggunakan alat pantulan suara, tetapi suara pantulan tidak terdeteksi. Jadi, kedalaman sumur zamzam sampai sekarang juga masih misteri.
Mata air zamzam ini pula yang mengangkat suku Quraisy sebagai pemimpin para suku dan cavila di kawasan Arab. Seperti kita ketahui, besar kecilnya cavila ditentukan besar-kecilnya debet mata air atau oasis di Madang pasir itu. Semakin besar debet air sebuah oasis berarti semakin besar pula populasi yang bisa hidup dengan oasis itu.       

Oasis kecil biasanya dihuni oleh beberapa anggota keluarga. Besar-kecilnya oasis juga menentukan status sosial suatu kabila. Kabila-kabila kecil biasanya meminta perlindungan terhadap cavila besar dan sebagai imbalannya mereka harus membayar pajak (jizyah) pribadi dan pendapatan.

Warga kabila (laki-laki) kecil tidak boleh mengawini perempuan warga cavila yang lebih besar. Sebaliknya kabila besar berhak mengawini seluruh cavila yang lebih kecil di bawahnya. Mata air paling besar di kawasan itu ialah mata air zamzam yang dikuasai suku/cavila Quraisy, maka kabila tertinggi di kawasan itu ialah Quraisy, kabila yang pernah melahirkan Nabi Muhammad SAW.

 

BERITA TERKAIT